Sinta menghela napas sambil berjalan disisi Martin menuju ruang mengunjungi tahanan di rutan. Dia tidak mengira putra yang dimanjakan selama ini, yang bersikap manis ke dia, ternyata berkelakuan memalukan keluarga. Sebagai ibu, dia merasa gagal mendidik akhlak si anak. Martin meraih tangannya, digenggam lembut. “Sudah, Ma,” ditegur sang istri, “Semua sudah terjadi, jangan terus Mama menyesali diri.” Dia tahu si istri penuh penyesalan. Karena perbuatan Eric, kini dunia memandang jijik ke mereka. Entah apakah bisa berimbas ke perusahaan sang suami? Martin sudah siap mental menerima semua efek samping dari perbuatan Eric tersebut, maka dia tampak lebih tenang. Lantas kalau pun terjadi sesuatu yang buruk pada perusahaannya, maka Damar pasti membantu dia. Namun, dia tidak tahu bahwa Iqbal

