Kediaman Halim malam itu tampak seperti istana modern. Tinggi, lapang, dan menyimpan kehangatan yang diam-diam mulai kembali, satu per satu. Lampu-lampunya memantulkan cahaya lembut, memandikan lorong-lorong luas dengan warna putih keemasan yang hangat. Begitu Liora dan Rain melangkah masuk, beberapa pelayan langsung berbaris rapi dan menunduk hormat. “Selamat malam, Nona Liora.” Liora yang pada dasarnya bukan tipe anak manja keluarga konglomerat, langsung gugup. Senyumnya kaku, tangannya melambai canggung. Rain meliriknya, dan senyum kecil muncul tanpa ia sadari. Dalam hatinya, ia berkata lembut. Syukurlah Lio sekarang dijaga. Syukurlah dia nggak sendirian lagi. Dia pantas dapat keluarga yang mencintai dan menghormatinya. Ada rasa lega yang menusuk halus di dadanya. Beberapa saat

