Suara knalpot meraung keras di depan bengkel RoadSide.
Neo, Dylan, Jimmy, dan Jack yang sedang sibuk dengan onderdil kompak menoleh. William datang sambil menggeber motor CBR-nya, sengaja bikin telinga panas.
“Katanya mau nongkrong lu, Wil,” celetuk Dylan malas.
“Ntar anak-anak nyamper,” jawab William santai sambil menurunkan standar.
Bengkel itu memang tak pernah benar-benar sepi. RoadSide jadi markas tak resmi geng Neo sejak SMA. Dylan si gondrong, Jimmy si paling jaim, Jack si playboy, dan Neo—yang entah kenapa—jadi versi paling waras di antara mereka.
“Daripada lu duduk kayak mandor, mending bantuin gua,” kata Jack sambil melempar kunci inggris.
“Gila, main lempar,” protes William, meski tangannya refleks menangkap.
Ia melepas seragam sekolah, menyisakan kaos singlet hitam yang menonjolkan otot lengannya.
“Otot lu jadi juga, Wil,” komentar Jack.
“Mau daftar MMA gua taun depan,” jawab William sambil menaikkan alis.
“Kemaren pembalap, sekarang petarung,” sindir Dylan.
“Tinggal ngomong doang,” sahut William. “Gampang.”
Mereka terkekeh dengan jawaban enteng anak SMA itu.
RoadSide bukan cuma bengkel motor dan mobil. Ada juga cuci kendaraan yang di-handle keempatnya secara bergantian. Bengkel selalu ramai bukan cuma karna montirnya yang masih muda nan tampan-tampan. Kebanyakan yang datang adalah kenalan empat orang itu.
Neo, Jack, Jimmy, dan Dylan sama sekali jauh dari kata introvert. Mereka hobi ngelayap ke sana kemari. Jimmy si paling organisasi sejak SMA, Dylan si paling anak bar, Jack yang hobi main billiard, dan Neo si hobi olahraga. Jadi, mereka punya banyak kenalan dari berbagai kalangan yang secara tidak langsung menjadi sebuah kesempatan memperkenalkan bengkel mereka.
"Bang, anak-anak mau nginep."
William menatap Neo yang tengah membasuh tangan di wastafel. Bengkel sudah tertutup rolling door. Hanya sisa mereka berdua, sebelum pulang Neo selalu mengecek kendaraan yang belum selesai service.
Neo mengangguk kecil, "Pesen makan aja."
"Asik makan enak." sorak William.
"Norak."
**
Felicia menatap jam di layar ponselnya. Hampir pukul lima sore.
Kepalanya terasa berat sejak siang. Rapat, laporan, dan tatapan dingin Bryan membuat energinya terkuras habis. Ia menghela napas panjang, lalu meraih tasnya.
“Gua jemput Lily dulu,” katanya pada Layla.
“Hati-hati, Fe.”
Felicia hanya mengangguk.
Perjalanan menuju daycare terasa lebih panjang dari biasanya. Macet, panas, dan pikirannya penuh. Saat mobil berhenti di depan gedung daycare, Felicia memijat pelipisnya sebentar sebelum turun.
Begitu pintu dibuka, suara tangis langsung menyambutnya.
Tangis yang ia kenal.
“Lily?”
Felicia mempercepat langkah. Seorang pengasuh sedang menggendong Lily yang wajahnya merah, matanya sembab, napasnya tersengal karena terlalu lama menangis.
“Mamanya datang, sayang,” ujar pengasuh itu lembut.
Begitu melihat Felicia, Lily langsung meronta.
“Mamaa!”
Felicia segera menggendongnya. Tubuh kecil itu langsung memeluk lehernya erat, tangisnya pecah semakin kencang.
“Ssst… Mama di sini, sayang.” bisiknya.
“Ma… Mama…” Lily terisak, suaranya serak.
Felicia menepuk-nepuk punggung anaknya pelan. “Mama nggak pergi. Mama cuma kerja.”
Pengasuh itu tersenyum canggung. “Hari ini Lily nangis hampir seharian, Bu. Masih belum mau lepas dari kami.”
Felicia menghela napasnya.
"Maaf ya, Bu." katanya sembari mengusap pipi Lily yang basah air mata.
Tak lama kemudian, Feli sudah masuk ke mobil. Lily masih terisak kecil dipelukan Mamanya. Felicia menyalakan mesin, melirik Lily yang mendekapnya dan tak mau lepas. Kemudian ia memutuskan menyetir sembari memangku balita itu.
**
“WIL! WIL!”
Neo yang dibonceng refleks memukul bahu William sambil berteriak. Di saat yang sama, seorang bocah kecil tiba-tiba berlari menyeberang tepat di depan motor mereka.
“Anj—!”
William membanting setir. Motor mereka oleng menghantam tiang basement dengan bunyi keras sebelum akhirnya berhenti. Suara gesekan besi menggema.
“Gila! Anak siapa sih lari-larian begini!” umpat William sambil menurunkan standar dengan kasar. Napasnya masih naik-turun.
Pandangan mereka langsung tertuju pada sosok kecil yang berdiri terpaku beberapa meter di depan.
Seorang bocah perempuan.
Tubuhnya kaku, rambutnya sedikit berantakan. Pipi bulatnya basah oleh sisa air mata. Mata hazel itu membulat ketakutan, menatap motor di depannya seolah baru saja lolos dari mimpi buruk.
“Lily!”
Felicia yang baru saja mengambil belanjaan dari bagasi langsung berlari panik.
“MAMAAAA! HUA—!”
Tangis Lily pecah. Bocah itu langsung berlari kecil, hampir tersandung, lalu menjatuhkan dirinya ke pelukan Felicia. Feli berjongkok cepat, memeluk tubuh mungil itu erat-erat.
“Ssst… Mama di sini, sayang. Mama di sini,” bisiknya gemetar.
Lily mencengkeram baju Felicia, menangis sesenggukan di dadanya.
Felicia menoleh ke arah Neo dan William, wajahnya pucat.
“Maaf… saya lagi ambil belanjaan di bagasi barusan. Saya nggak tau kalau anak saya lari-larian.” kata Feli saat Neo dan William menghampiri mereka.
Belum sempat mereka merespons, suara langkah cepat terdengar.
“Udah kakak bilang diem.”
Neo dan William kompak menoleh.
Nata berdiri tak jauh dari mereka, wajahnya terlihat kesal. Tatapannya jatuh pada Lily yang masih menangis di pelukan Felicia.
“Denger nggak kalo orang ngomong?” lanjut Nata, suaranya tertahan emosi.
“Adek cuma pengen balon,” Lily terisak di sela tangisnya. “Mama bilang mau beliin balon…”
“Nata,” tegur Felicia pelan.
Nata terdiam. Tangannya mengepal di sisi tubuh, napasnya berat.
Sementara itu, Neo menatap pemandangan di depannya bingung. Dan entah kenapa, perasaan tak enak mulai menjalar di dadanya.
“Ada yang luka?” tanya Neo akhirnya.
Ia berjongkok di depan Felicia dan Lily, matanya meneliti tubuh balita itu dengan hati-hati.
“Adek ada yang sakit?” Felicia ikut memeriksa, tangannya gemetar.
Lily menggeleng kecil.
Felicia dan Neo sama-sama menghela napas lega.
“Untuk motornya,” kata Felicia ragu, “biar saya yang tanggung jawab.”
Neo menggeleng. “Nggak perlu. Kebetulan saya kerja di bengkel. Adek saya juga kurang hati-hati.”
Ia menoleh ke William sebentar.
"Lily minta maaf ya, Om. Lily lari-lari, kagetin Om." kata Lily membuat Neo terkekeh kecil.
"Om juga minta maaf ya. Lain kali jangan lari-larian lagi di sini ya? Bahaya."
Lily menganggukkan kepalanya.
Hening sejenak menyelimuti basement itu.
Neo berdiri. Matanya tanpa sadar kembali tertuju pada Lily yang kini lebih tenang di pelukan Felicia.
"Ngomong-ngomong penghuni baru ya?" tanya Neo.
Feli mengangguk, "Baru kemarin pindah ke sini. Saya Felicia, tinggal diapartemen 19."
"Saya Neo. Ini adik saya, William. Kebetulan kami yang tinggal di apart 18." jelas Neo.
Tanpa dua orang itu sadari. William sedari tadi melirik ke arah Nata yang berdiri diam bak patung tak jauh dari hadapannya.Cowok yang baru tadi mengobrol dengannya di atap itu terlihat menahan sesuatu.
**
“Lu liat yang pake rompi merah tadi, Bang?” William bersuara sambil merebahkan diri di sofa panjang ruang tengah.
Neo yang sedang mengambil soda dari kulkas menoleh. “Yang marahin adeknya?”
William mengangguk. “Anak baru di sekolah gua.”
Neo mendesis kecil. “Orang gila mana yang baru pindah sekolah langsung bolos.”
Neo menatap sinis ke arah adiknya, "Minimal ngaca dulu. Lu dulu pertama pindah sekolah langsung masuk BK.”
William malah tertawa, seolah bangga.
Neo melempar kaleng soda ke arah William. “Selagi motor gua benerin, lu sekolah jalan aja.”
“Yang bener aja. Lapan kilo, gila." William langsung bangkit setengah duduk sembari membuka kaleng soda.
Neo hanya menggedikkan bahunya.
"Cepet pesen makan, keburu ujan." ucap Neo sembari melempar ponselnya pada William.
William langsung membuka aplikasi pesan antar makanan dengan mata berbinar. Neo sendiri sudah telanjang d**a dengan handuk yang tersampir di bahunya.
"Namanya siapa?" tanyanya tiba-tiba.
"Nata. Natara Lirael."
Neo mengangguk, "Cocok sama muka." katanya sebelum masuk ke kamar mandi.