bc

KEPINCUT BRONDONG SEBELAH

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
love after marriage
age gap
friends to lovers
single mother
sweet
bxg
campus
secrets
musclebear
like
intro-logo
Uraian

Neo adalah pemuda berumur 23 tahun yang bekerja sebagai mekanik bengke. Dia tinggal di apartemen sederhana bersama adiknya, William. Hidupnya penuh kebebasan sejak orang tuanya bercerai.

Di sisi lain, ada Felicia, wanita berumur 29 tahun. b***k korporat yang seluruh hidupnya ia habiskan untuk bekerja. Felicia juga hidup bersama adiknya, Nata dan Lily. Bedanya, hidup bagi Felicia bagai sebuah kutukan. Ia harus menjadi pencari nafkah, kakak, sekaligus mama bagi adiknya yang paling kecil.

Felicia adalah penghuni baru di apartemen yang Neo tinggali. Sebuah kebetulan saat apartemen mereka bersebelahan. Mereka hidup berdampingan, pintu sebelah pintu, tapi dengan dunia yang terasa jauh berbeda. Dan tanpa Felicia sadari, ritme hidupnya mulai berubah saat Neo mendobrak pintu hatinya yang tertutup rapat.

chap-preview
Pratinjau gratis
Day One
"Ta, sarapan dulu." Seorang wanita dengan kemeja satin berwarna maroon mendorong sebuah piring berisi nasi goreng ke hadapan bocah berseragam SMA. Nata yang disodori sarapan justru tampak tak senang. Ia hanya melirik sinis, tak ada gerakan sedikit pun untuk meraih sendok dan mencicipinya. "Ta, ini hari pertama kamu sekolah. Sarapan dulu." "Gua udah bilang nggak mau pindah." kata Nata, akhirnya bersuara. Felicia menghela napas mendengar ucapan adiknya. "Jarak apart lama sama kantor baru kakak jauh, Ta. Kakak nggak mungkin pindah kerjaan." Nata tak membalas. Ia hanya menatap lurus ke arah gelas s**u di depannya, seolah benda itu lebih menarik daripada wajah kakaknya. Tak mendapat respons, Feli akhirnya memilih menikmati nasi goreng miliknya sendiri. "Gua hidup cuma buat ngalah, ya?" Ucapan Nata sukses membuat Felicia menghentikan kunyahannya. "Lu tau gua aneh. Dan akhirnya gua punya temen di sekolah. Tapi lu tega mindahin gua ke sekolah baru." Tanpa menunggu jawaban, Nata berdiri dan pergi meninggalkan ruang makan, masuk ke kamarnya. "Ta..." panggil Felicia, menatap punggung cowok dengan potongan curtain mullet itu dari kursinya. Feli menghela napas berat. Nasi goreng dengan telur mata sapi yang hampir gosong mendadak kehilangan daya tarik. Ia memijat pelipisnya, kepalanya terasa berdenyut setelah adegan barusan. "Mamaa..." Rengekan balita membuat Feli bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar. "Hai, honey. Cantiknya Mama udah bangun, ya?" Seorang gadis cilik dengan mata hazel persis seperti mata Feli tengah duduk di atas kasur sembari memeluk bantal. "Bangun yuk, mandi, terus ke daycare, ya?" Bocah itu menggeleng, lalu malah mendekat dan memeluk Feli erat. "Hari ini adek ke daycare baru. Di sana ada banyak mainan, banyak miss yang baik, ada banyak temen juga." "Adek mau Mama," gumamnya pelan. "Mama harus berangkat kerja. Nanti sore Mama jemput adek, ya? Mama beliin balon." "Promise?" Lily mengacungkan jari kelingkingnya, Feli mengangguk sembari membalas uluran kelingking Lily, "Mama promise." Di tempat lain, tepatnya apartemen sebelah milik Felicia, ada dua orang laki-laki yang tinggal bersama. Mereka Neo dan William, kakak beradik kandung. Neo adalah mahasiswa fresh graduate, sedangkan William siswa SMA kelas sebelas. "Will, udah jam enam. Lu mau bangun apa gua banting?" Neo, cowok tanpa baju yang memamerkan badan sixpacknya berdiri di samping kasur William. Kaki jenjangnya sesekali menendang tubuh adiknya yang masih terlelap. "Eunghh..." William hanya melenguh, kemudian menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. "Bener-bener." Neo mengambil guling yang sedang Jimmy peluk, kemudian memukulnya tanpa jeda. "Bangun b**o, ayam aja udah bangun. Malu sama ayam." "Iya, iya gua bangun. Ganggu tidur gua aja, dasar k*ntol sapi." kata William kesal bangun dari tidurnya dan langsung berjalan menuju kamar mandi. "Ih ya ampun, omongannya. Durhaka lu begitu sama gua." Tak lama kemudian, Neo sudah mengenakan kaos tanpa lengan berwarna hitam yang dipadukan celana jeans. Ia tengah menikmati minum kopi hitam di balkon apart sembari memandangi jalanan depan apartemen yang mulai ramai orang beraktifitas. "Yaelah mi lagi. Lu mau gua usus buntu makan mi instan tiap hari?" Neo membalikkan badan, menatap adiknya malas. William yang sudah mengenakan seragam sekolah sedang duduk, menatap jijik pada sepiring mi goreng di depannya. "Udah mending gua kasih makan mi, masih manusiawi itu. Besok-besok kalo lu gua kasih sarapan t*i beruk baru lu ngeluh." kata Neo, cowok comma hair dengan bicep band tattoo di lengan kanannya itu dengan santai. "Eh!" William tiba-tiba menunjuk ke kaki Neo, ekspresinya kaget. "Apaan?" bingung Neo setelah menunduk. Tak ada apa-apa. "Otak lu barusan nggelinding tuh." kata William datar. "Sarapan t*i beruk." Ia mendengus kesal sambil menyuapkan mi ke mulutnya. *** "Udah liat orang sebelah lu?" tanya Neo kala mereka keluar dari flat apart nomor 18 di lantai 3. Cowok itu melirik ke apart 19 yang nampak kosong, tak ada suara. William yang tengah sibuk dengan ponsel dan permen lolipop hanya menggedikkan bahunya. "Ada bayi kayanya Wil, semalem nangis kenceng." bisik Neo ketika keduanya berjalan di tangga. "Sok tau, gua aja nggak denger." "Kuping lu kan b***t. Ntar sore gua bawain kunci inggris dari bengkel." William menaikkan alisnya, "Apa hubungannya?" "Buat korekin kuping lu." kata Neo kesal sebelum berjalan mendahului William ke bawah. Keduanya memang jarang menggunakan lift, lebih suka naik turun tangga sekaligus melatih otot kaki. Jangan heran dengan bahasa keduanya yang terdengar kasar dan aneh setiap buka suara. Sudah jadi rutinitas mereka sejak dulu. *** "Gua pulang mau nongki dulu sama anak-anak. Lu balik jalan kaki aja." kata William sembari menurunkan Neo di depan bengkel bertuliskan RoadSide dari motor CBR250R miliknya. "Nongka nongki mulu hidup lu." "Ya elah, namanya anak muda. Btw, duit." Neo mendesis kesal, tapi tetap mengambil dompet dari saku jeansnya. Dua lembar uang berpindah tangan dan membuat William bersorak. "Woy, baru mau berangkat? Udah setengah delapan ini, Wil." Dylan, sohib Neo keluar dari bengkel dan menghampiri mereka sembari membawa secangkir kopi. "Halah aman, paling disuruh push up doang. Kecil." katanya. "Kalo ada surat dari sekolah lagi, gua bakar motor lu." ancam Neo. "Aman, santai aja. Yok bang, duluan." William langsung menancap gas meninggalkan bengkel, suara motor cbrnya sedikit menggelegar di bandingkan kendaraan lain. "Gila, makin manteb aja badan William." kata Dylan sembari menyesap kopinya. "Tiap hari disuruh push up gimana nggak manteb." balas Neo sembari masuk ke dalam bengkel. *** "Fe! Ciee...apart baru." Feli yang baru keluar dari lift langsung disapa Layla, teman terdekat Feli di kantor. "Bikin cape La, masih banyak barang belum dibongkar. Jam satu baru bisa tidur." kata Feli nampak lesu. Ia bahkan meletakkan kepalanya di atas meja. "Tidur dulu, kalo si pirang ke sini gua bangunin nanti." kata Layla membuat Feli tersenyum kecil. Belum juga Feli memejamkan mata, seorang pria berambut pirang masuk ke ruangan mereka. Feli spontan berdiri, menyapa pria itu dengan menundukkan kepala kecil. "Tumben udah berangkat, Pak?" tanya Layla, cukup terkejut dengan kedatangan Bryan, kepala divisi mereka. Pria dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya itu melihat sekeliling, "Madeline belum berangkat?" tanyanya. "Belum, Pak." balas Feli singkat. "Ke mana ya?" Layla memutar bola matanya, "Kita nggak tau, Pak. Itukan pacar bapak." balasnya sedikit menaikkan nada bicaranya. Feli menyenggol Layla di sampingnya, Layla yang diberi kode hanya melirik pada Feli. "Yaudah kalo gitu, siap-siap rapat bulanan." ucap Bryan sebelum berjalan masuk ke ruangannya yang ditutup teralis dengan rapat. "Jangan gitu, La. Nanti lu disuruh lembur lagi kalo nggak sopan." Layla hanya menggedikkan bahunya, "Lu yang jangan gitu, bisa nggak lu benci sama dia? Empat tahun bukan waktu yang sebentar, Fe." "La, lu sama aja nggak sayang gua dong kalo kayak gitu. Jangan ungkit-ungkit lagi masa lalu. Gua cuma pengen kerja buat dapet uang, gua harus hidupin Lily sama Nata." Layla menatap melas Feli, "Sorry, Fe. Gua cuma nggak terima lu diginiin." Feli tersenyum kecil, "Mulai sekarang, anggap aja gua sama Pak Bryan nggak ada hubungan di masa lalu." Layla menghela napas, kemudian memeluk Feli erat. Feli tertawa kecil, membalas pelukan hangat Layla. "Apa-apaan nih, pagi-pagi udah pelukan?" suara teman kantor menginterupsi kegiatan mereka. "Kalo mau join nggak usah malu, Den. Sini." kata Layla melambaikan tangan pada Denis. "Pengen sih, tapi takut kegep sama istri." Feli dan Layla sontak tertawa mendengar ucapan Denis yang terdengar seperti bisikan itu. *** Nata tengah berdiri di atap gedung sekolah sembari menatap pemandangan gedung-gedung pencakar langit di depannya. Siswa dengan kemeja putih yang dilapisi rompi merah itu menyandarkan kedua tangannya di pagar besi, membiarkan angin siang menyapu rambutnya yang sedikit berantakan. Dari tempat itu, hiruk-pikuk kota terlihat begitu jauh, seolah tak ada hubungannya dengan kegelisahan yang kini memenuhi dadanya. Matanya menerawang, bukan pada gedung-gedung tinggi itu, melainkan pada pikiran-pikirannya yang sejak tadi tak mau berhenti berputar. "Baru kali ini gua liat anak baru bolos pelajaran." Nata membalikkan badannya, menemukan seorang siswa dengan seragam biru, dengan baju yang dikeluarkan berjalan mendekat. "Gua tebak lu terpaksa pindah sekolah? Makanya lu bolos pelajaran." kata cowok dengan kalung titanium berliontin petir yang melingkar di lehernya. "Sok tau." kata Nata, kembali membalikkan badan dan menatap gedung-gedung. Cowok itu hanya terkekeh mendengar ucapan Nata. Kemudian Ia ikut berdiri menatap hamparan gedung tepat di samping Nata. "Mau?" tawar cowok itu merogoh sesuatu dari saku celananya. "Apa, rokok?" tanya Nata, menatap penuh curiga pada orang di depannya. "Taraa!" cowok itu mengeluarkan permen lolipop. "Nggak." kata Nata menepis permen itu dari depan wajahnya. "Nggak mau, yaudah." katanya membuka bungkus permen itu dan memasukkannya ke mulutnya. "Jangan suka negative thinking sama orang. Lu kan belum kenal gua." katanya, "Mau kenalan nggak?" sambungnya. Nata melirik sinis, "Gua udah tau siapa lu." "Yahh...ketauan gua seleb sekolah." katanya. Nata berdecak, "Gua tau karna lu satu-satunya yang dihukum push up tadi pagi, William." William, bocah narsis nan tengil itu menatap Nata sembari meringis. Memamerkan rentetan gigi rapinya tanpa rasa bersalah. "William Alaric." katanya mengulurkan tangan, mengajak Nata bersalaman.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Putri Korban dan Janji Gelap Sang CEO

read
5.4K
bc

Revenge

read
35.9K
bc

Beautiful Pain

read
13.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.6K
bc

Marriage of Revenge

read
29.5K
bc

I Love You Dad

read
294.9K
bc

The CEO's Little Wife

read
682.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook