Bagaskara "Dasar pengecut!" Dabia tidak berhenti berteriak. Aku sungguh geram. Di mana para pengawal itu? Tidak mungkin kalau Dania sudah mengalahkan mereka bukan? "Sebentar, Mas." Vania yang masih lemah menarik diri menuju kamar mandi. Kakiku tergerak untuk mengikuti langkahnya. Aku melihat dengan jelas tubuh Vania berangsur membaik ketika dia mengambil wudu. Alhamdulillah, mungkin ini adalah pertanda dari Allah agar kita semakin memdekatkan diri kepada-Nya. "Ayo, kita keluar!" Vania merapikan jilbabnya sambil berjalan ke arah pintu. Ketika pintu dibuka, benar saja Dania sudah ada di depan dengan pria tua itu. Pantas saja dia berubah menjadi berani, ternyata karena ada pendukung. "Kenapa terus berteriak? Apa kau tidak sadar kalau sekarang kau sedang ada di rumah istriku?" Aku berta

