Bagaksara "Bicarakan semuanya dengan kepala dingin, Leo." Aku duduk di sampingnya dan berusaha menahan dia agar tidak menghindariku. "Jangan menilai segala sesuatu dari luar atau hanya dari masa lalunya. Karena orang yang punya kenangan kelam, belum tentu selamanya dia akan menjadi orang jahat." Aku berbicara penuh penekanan agar dia mengerti kalau aku yang sekarang bukan lagi yang dulu. Kehilangan Vania dulu membuatku nyaris gila dan diri ini pasti sudah gila sungguhan kalau masih tidak berubah. Sekarang aku ingin dia percaya kalau orang yang duduk di sampingnya ini bukan lagi Bagaksara yang mementingkan ego diri dan keras kepala. Aku yang sekarang lebih suka diskusi dan menjalani hidup sesuai ketentuan agama Islam. "Kau yakin?" desisnya tampak tidak percaya dengan apa yang aku lakuka

