Vania Aku tersenyum menyeringai. Ternyata orang tua Emi lebih berbahaya dari yang aku kira. Sungguh tidak seperti kelihatannya. Di saat aku tengah berpikir keras, Mas Bagas tiba-tiba tersenyum menakutkan. "Kenapa, Mas? Apa ada ide baru?" tanyaku dengan suara yang sangat pelan. "Tentu saja, ada. Mas memang selalu punya ide kalau untuk mencari kebahagiaan kamu sama Azka," gombalnya. Di saat seperti ini pun dia masih punya waktu untuk memuji diri sendiri, tetapi aku akui apa yang dikatakannya memang benar. Dia adalah lelaki hebatku. "Baiklah, aku berikan Mas kesempatan untuk menjalankan rencananya," ucapku sambil mengacungkan kedua jempol. "Semoga sukses!" Mas Bagas kembali tersenyum aneh, aku tahu, yang dilakukan Mas Bagas pasti cara yang agak ekstrim. Makanya dia mengeluarkan senyuma

