Bagaskara Vania menggeleng cepat. "Badanku lengket, Mas, bau," ucapnya pelan, tapi aku tahu itu hanyalah alasan. "Tidak apa." Aku kembali memeluknya erat dah tidak memedulikan kedua tangannya yang berusaha mendorongku agar menjauh. Setelah kerinduan berkurang, aku menggenggam tangannya menuju ke dalam rumah, dan memintanya duduk. Karena makanan dan minuman sudah tersedia di atas meja, jadi sekarang kita hanya tinggal mengobrol saja. Tentu aku tidak akan meminta untuk bertemu mereka kalau tidak ada beberapa hal yang perlu dikatakan. "Kenapa, Mas? Padahal akhir-akhir ini kamu menghilang, kenapa sekarang malah mengajak bertemu tiba-tiba?" Vania bertanya dengan acuh, seolah di antara kita tidak ada hubungan apa pun. Namun, aku tahu kalau saat ini dia sedang merajuk. "Tentu saja karena aku

