Vania Mama kembali menjerit dan tatapan matanya menatap kami tajam. Aku bahkan tidak sanggup melihat matanya yang merah menyala. Aku hanya menatap tajam Emi yang sudah tidak bertanggung jawab. Kalau bukan dia yang menceritakan semuanya, hal ini tidak akan pernah terjadi. Aku mencekal pergelangan tangan Emi dan menariknya ke dalam gudang yang ada di dekat kamar mama dan mengunci pintunya. Sekarang di sini hanya bertiga, aku, Emi, dan Gion. "Apa yang kau lakukan, Emi?" Gion menatap tajam wanita yang katanya sangat dicintainya itu. Emi malah tersenyum menyeringai. "Aku tidak akan melakukan hal ini kalau kamu tidak melenceng dari jalan yang kita sepakati, Mas," lirihnya tanpa ragu. "Jalan yang disepakati?" Gion tertawa kecil. "Jalan yang mana? Bukankah selama ini kamu menjalankan rencana

