Anti Mistis

1207 Kata
Sabtu pagi ku nikmati udara segar di teras depan rumahku. Di temani segelas kopi dan rokok, aku sedang menunggu seorang teman lamaku yang sudah tidak pernah bertemu. Hari itu dia berkunjung ke rumahku sekaligus membawa tugas kuliahnya. Dia ingin aku membantunya untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Dengan waktu yang sangat luang, tentu aku tidak menolaknya. Dan sekalian ingin melepas rasa kangen. Namun itu semua bisa berubah 180 derajat celcius dengan satu perdebatan tentang mistis. Aku sangat menyesalinya. Mengapa aku harus terus meladeninya. Sedangkan temanku yang satu ini sangat anti dengan apa yang aku jalani sekarang. Yaitu membahas hal-hal mengenai mistis yang jauh berbeda dengan pendapatnya. Setelah kami membuka obrolan dengan lamanya dua orang yang tak bertemu, temanku mulai menanyakan tentang tugas-tugas yang sudah dia persiapkan. Aku membantunya dengan lihai. Selang beberapa menit, sambil aku menunggunya selesai mengetik, ku buka-buka hp ku yang mengarah menuju YouTube dan dengan spontan nya ku tonton channel seorang praktisi yang sedang melakukan mediasi di sebuah makam. "Posting video kuburan seperti itu tidak bagus. Musyrik." kata Dwi temanku. "Wah beliau juga pasti mengkaji lagi, tidak sembarangan. " Jawabku. "Iya tapi pekerjaan seperti itu kan musyrik. " tambahnya. "Pastinya gak sembarangan. Channel ini kan milik seorang ustad. Saya yakin beliau bukan percaya 100% kepada kuburan apalagi jin nya. " kataku lagi. "Ada kepentingan kan? Semua itu gak boleh. Bohong. " ucapnya yang kian bernada tinggi. "itu video mediasi nya bukan hanya di kuburan saja. Beliau bermediasi dengan makhluk gaib. Bukan hanya ziarah minta yang macam-macam. Kita hidup di lingkungan budaya yang syariat nya kental. Terus tentang masalah gaib juga terus saling mengkaji. " aku coba jelaskan dengan santai. "Acara itu semua bohong, terus mereka mainkan shooting seperti itu kepentingan nya apa? " tanya nya padaku. "Ya menurutku itu sebuah karya saja. Kamu tidak percaya kepada yang gaib? Sekarang sudah zaman media. Apapun sudah ada di dalam YouTube. Termasuk konten spiritual. Itu tanpa ada rekayasa. Hal-hal seperti itu terus melingkari kehidupan kita, bro." Jawabku dengan kondisi yang sudah terbawa emosi. Dan penjelasan ku tentu ngawur. Terlalu berbelit-belit. Sudah pasti tidak akan di mengerti oleh Dwi. "Percaya gaib harus. Karena malaikat gaib, bahkan Tuhan pun gaib. Tapi mereka shooting gitu ada kepentingan nya kan? Munafik berarti itu." Kata Dwi yang masih teguh dengan pendapatnya. "Yah ribet memang kalau urusan nya sudah beda pendapat tentang dunia gaib." kataku sembari menaikan kedua alisku. "Yang jelas shooting begitu tidak baik. Mereka mengerti itu semua, berarti kan munafik. Mana ada setan bisa diajak ngobrol. " kata Dwi yang sudah mulai menghiraukan laptopnya. "Jangan asal saja menilai orang munafik. Berarti para tokoh spiritual seperti kiyai munafik juga dong? " tanyaku balik yang tak mau kalah. "Kalau seperti itu iya. Kaya di TV tuh shooting seperti itu sudah tidak benar." jawab Dwi. "Di televisi itu banyak rekayasa nya. Banyak tambahan materinya ketimbang di YouTube. Kalau ente bilang kami munafik, berarti para kiyai yang masyhur-masyhur itu juga munafik? Kami juga mengiblat kepada para ulama dan kiyai yang sebagian besar memegang ilmu spiritual nya. Itu ilmu yang sudah turun temurun dari beliau-beliau." papar ku dengan perasaan yang sudah tersinggung oleh perkataannya. "Yang salah shooting nya bukan para ulamanya." katanya lagi. "Kan tadi ente bilang kami munafik dan musyrik. Coba sekarang ente cek akun YouTube yang milik kiyai atau ustad? Bukankah seperti itu? Apa bedanya? Secara tidak langsung ente bilang para kiyai berarti munafik dan musyrik." kataku yang sudah semakin tegang. "Bukan begitu bro. Mereka shooting setan. Berarti mereka mempercayai itu. Padahal itu bohong." Kata Dwi dengan tetap kekeh. "Kalian percaya seperti itu, itu sudah tidak benar." tambahnya. "Iya bro, Di video itu bukan masalah setannya, mereka melakukan mediasi. Sudah jelas juga mereka memaparkan untuk jangan terlalu mempercayai omongan para jin dan setan. Ada benar dan ada salahnya." aku mencoba mengulang kalimatnya agar lebih jelas. "Iya, kalian itu semua percaya dengan yang dimediasi. Itu bohong. Itu hanya akal-akalan saja. Berarti kalian sama saja mempercayainya." Dia pun terus mengulang dengan kalimat seperti itu. Di antara kami tidak ada yang ingin mengalah. Dwi yang benar-benar anti mistis tetap kekeh dengan pendapatnya. Sedangkan aku sebagai pelaku di dunia mistis sangat merasa tersinggung. Dengan sangat marahnya dia akhirnya pamit pulang. Niat untuk mengerjakan tugas jadi berantakan karena kejadian ini. Setelah Dwi pulang aku sangat menyesali perdebatan itu. Aku mengadukan hal ini kepada Yusuf. Karena selain aku merasa tersinggung, aku juga merasa bersalah dengan perdebatan yang akhirnya menjadi konflik ini. "Susah Di, kalau orang sudah tidak percaya kepada hal mistis. Dan jangan pernah memaksakan mereka untuk percaya kepada apa yang kita jalani sekarang." kata Yusuf menasihati ku. Mulai dari saat itu, aku tidak akan pernah membahas apalagi membuat perdebatan tentang hal yang menyangkut paham dunia gaib. Yusuf menceritakan pengalamannya beberapa hari yang lalu, saat dia mengobati seorang pasien. Entah mengapa Yusuf tidak biasanya tidak mengajak kami saat itu. Mungkin tidak enakan. Dan khawatir mengganggu aktivitas kami. Padahal aku dan Aga sudah menjadi bagian dari pekerjaan yang Yusuf kerjakan. Dia sedikit pesimis. Karena si pasien yang sudah ditanganinya tidak ada perubahan sama sekali. Tidak membaik. Bahkan malah bertambah semakin parah. Aku disini sebagai sahabat nya hanya bisa mencoba untuk memotivasi nya. "Suf, kita pernah diajarkan sama abah ente, bahwa tugas kita adalah sebagai perantara, sebagai wasilah. Yang maha menyembuhkan adalah Allah." kataku dan dia hanya terdiam saja beberapa saat. "Bagaimanapun juga semuanya sudah skenario Allah. Ente dipercaya sama orang-orang untuk mengobati yang sakit non medis." kataku lagi. "Ane khawatir disalahkan keluarga si pasien. Kalau si pasien malah tambah parah." ujar Yusuf. "Yang penting kita sudah berusaha. Lagian siapa yang mau? Bukannya keluarga si pasien yang minta kamu untuk mengobatinya kan?" tambah ku lagi. "Tetep aja Di, kalau pemikiran mereka tidak seperti itu." katanya. Lalu kami diam untuk beberapa saat. "Terus apa lagi ?" tanyaku. "Materi Di." Jawabnya singkat. "Tujuan ente ngobatin orang buat apa bro?" tanyaku untuk meneguhkan niatnya. "Fisabilillah. Tapi ana gak munafik Di. Ana juga manusia biasa. Ana juga banyak kebutuhan. Sudah punya tanggung jawab. Kadang ane ngerasa sakit hati dan kecewa jika keluarga si pasien menganggap kita sebelah mata saja. Padahal mereka yang minta ane buat menanganinya. Tapi mereka tidak paham bahasa pengertian." paparnya sambil memalingkan wajahnya dariku. "Ya buktinya abah ente banyak yang menghargai. Banyak yang segan sama beliau." kataku lagi yang terus menanggapinya. "Itu abah ane Di. Ane belum seperti beliau. Beliau mungkin doa nya cepat di kabul Allah. Sedangkan ane masih banyak dosa. Orang-orang yang berobat ke beliau akan malu kalau ngasih upah sedikit ke abah. Karena derajat beliau sudah lumayan." kata Yusuf yang masih tidak percaya diri. "Ya bolehlah kita kebelakang kan masalah uang. Tapi minimal ada bahasa terima kasih yang pantas buat ane Di. Ane juga manusia biasa yang masih butuh pengakuan. Ini bukan soal uang atau apalah. Ane juga merelakan nyawa ane sendiri buat ngebantu orang membasmi makhluk-makhluk gaib." tambahnya. "Mungkin ane bakal break dulu Di buat ngebantu orang." kata Yusuf sekalian pamit padaku. Mulai saat itu Yusuf berhenti sejenak untuk mengobati orang yang terganggu sihir atau sejenisnya. Dia ingin membuka usaha kecil-kecilan bersama istrinya. Walau bapaknya adalah seorang kiyai yang masyhur dan banyak hartanya, yang jika Yusuf tinggal minta sangatlah mudah kemungkinan nya, namun beliau mendidik anak-anaknya untuk tetap hidup mandiri. Sebab orang tua hanya bisa memberi jalan doa nya. Selebihnya anak lah yang memutuskan untuk memilih jalan hidup yang seperti apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN