Aleesa menoleh menatap mister Jose lekat. Ia benar-benar bimbang menentukan pilihan dengan ancaman Jose. Ia sangat ingin membuktikan diri, bahwa ia mampu menjadi CEO yang handal. “Boleh minta waktu?” tanya Aleesa menoleh. “Tidak! Kalau kamu menerima tawaran Jhon, hari ini juga, aku akan membawa Junior ke Jerman.” Aleesa diam, lalu melanjutkan tugasnya. Sepertinya kali ini pun dia harus mengubur mimpinya untuk membuktikan diri. Walau dia yakin pasti tidak mudah menjadi seorang pimpinan, setidaknya dia telah mencoba. Tapi dia juga tidak siap kehilangan Junior. Lalu Sekarang apa? Dering telphon memecah keheningan di ruangan itu, tertulis nama Wendy di layer kaca. Kening Aleesa berkerut, apa lagi ini? “Halo,” sahutnya malas. “Halo, Ca, … kamu buruan datang ke rumah sakit, bunda sesak nap

