Bab 2 - Dinikahi Untuk Sementara Waktu

1049 Kata
"Tuan, sa-saya mohon beri saya waktu," pinta Azura dengan suara yang gemetar. Memang mereka telah menikah beberapa saat lalu, tapi bagi Azura pria di hadapannya ini bukanlah seseorang yang dianggapnya sebagai suami, namun masih orang asing. Ijab kabul yang baru saja terjadi seperti tak mengikat dirinya, Azura masih gamang. Lalu bagaimana bisa mereka berhubungan badan? Jangankan melepas baju, untuk melepas hijab yang menutup kepalanya pun terasa begitu sulit. Berat untuk Azura lakukan. Azura sontak berjalan mundur ketika melihat tuan Aditya melangkahkan kakinya mendekat. "Berhenti," gertak Aditya, suaranya memang pelan tapi terdengar begitu menakutkan di telinga Azura. "Jangan berpikir terlalu jauh, Azura ... Aku tidak melihatmu sebagai seorang wanita yang menarik," ucap Aditya setelah berhasil berdiri tepat di hadapan Azura. "Apa yang akan terjadi malam ini hanya karena aku ingin segera memiliki anak, bukan karena aku menginginkan tubuhmu," timpal Aditya, kali ini bicara dengan suara penuh penekanan. Ingin Azura tahu bahwa Apa yang akan terjadi malam ini bukan karena dia berminat, tapi hanya karena butuh. Dan kata-kata itu berhasil membuat Azura tersentak, ingat bahwa dia pun mengambil keputusan ini dalam keadaan sadar. Azura bersedia dinikahi, rela untuk mengandung benih tuan Aditya, sebab sebagai gantinya dia akan kembali mendapatkan rumah ini lagi. Perjanjian Pranikah bahkan telah Azura tanda tangani, jika sampai Azura menghianati perjanjian tersebut tuan Aditya tak akan segan membuat perhitungan. "Lepas sendiri atau aku akan melepasnya dengan paksa," ucap Aditya, bicara penuh intimidasi. "Sa-saya akan melepaskannya sendiri," jawab Azura lirih, dia kembali mundur satu langkah menciptakan jarak aman. Kamar ini adalah kamar miliknya, rumah ini adalah rumah keluarganya, namun Azura dilumpuhkan, dibuat tak berdaya. Kedua telapak tangan Azura sudah lembab, basah dengan keringat dingin. Namun sebanyak apapun rasa takut yang dia rasakan sekarang, Azura tetap harus menanggalkan hijab dan bajunya. Ketika kerudung berwarna putih itu terlepas, barulah Aditya bisa melihat rambut Azura yang panjang, diikat rapi seperti ekor kuda. Sebagai anak angkat di keluarga ini, Azura memang sedikitpun tidak memiliki kemiripan dengan kedua kakak laki-lakinya. Azura justru memiliki paras seperti orang arab. Hidung mancung dan kedua mata yang bulat, juga kulit putih bersih. Aditya kemudian mengalihkan pandangan, berjalan menjauh untuk mencari saklar lampu kamar ini. Mereka hanya perlu saling bercinta, tanpa perlu menatap satu sama lain. Klap! Lampu utama akhirnya mati, menyisahkan lampu temaram di atas meja rias kecil milik Azura. Dari cahaya yang samar-samar itu Azura pun melihat saat tuan Aditya mulai menanggalkan jasnya, kemejanya sampai terlihat punggung tanpa sehelai benangpun. Azura menangis, sebab tak kuasa memundurkan waktu. Jika bisa Azura ingin hidup di masa kedua orang tua angkatnya belum meninggal. Azura ingin membenahi apa yang salah di masa lalu, membantu sang ayah agar usahanya tidak bangkrut, ikut bekerja agar bisa meringankan beban kedua kakaknya. "Sudah ku bilang jangan menangis," kesal Aditya dan membuyarkan semua angan-angan Azura. Aditya lantas mencekal pergelangan tangan Azura dengan kuat, lalu melemparnya ke atas ranjang. Brug! tubuh Azura jatuh, seirama dengan air mata yang tak mampu dia bendung. "Tuan, pelan-pelan." "Diamlah atau aku akan semakin kasar." Azura memejamkan matanya erat-erat, sedikitpun tak ingin melihat kekejaman yang terjadi padanya pada malam ini. Bahkan ketika merasakan sakit dan pedih yang luar biasa Azura pilih untuk mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, sedikitpun tak ingin mengeluarkan suara. Hanya bercak darah di atas sprei yang menjadi saksi bisu ganasnya pria bernama Aditya Darmawan tersebut. * * Saat pagi menjelang Azura membuka kedua matanya secara perlahan, bangun dari tidur membuatnya kembali teringat semua hal yang terjadi kemarin, juga malam ini. 'Ya Allah,' batin Azura, hanya mampu membatin untuk menemukan setidaknya sedikit ketenangan di dalam hati. Diantara sepi dalam kamar tersebut, diam-diam Azura menjatuhkan air mata. Tapi dengan cepat dia hapus menggunakan salah satu tangan. Tak perlu menoleh ke belakang, Azura tahu di balik punggungnya yang polos ada tuan Aditya yang masih tertidur dengan pulas. 'Sudah jam 5 subuh, aku harus segera bangun,' batin Azura, dia melihat jam di dinding kamarnya. Susah payah Azura bangkit, menurunkan kedua kakinya yang lemas ke lantai. Azura hanya mampu menjangkau hijabnya untuk menutupi tubuh polos ini, lalu berjalan tertatih menuju kamar mandi. Suara gemericik air menganggu tidur Aditya, sampai berhasil membuat pria itu terbangun juga. Hingga ketika Azura keluar, dia melihat tuan Aditya telah duduk di tepi ranjang dengan pakaian sempurna. Sesaat tatapan mereka saling bertemu seperti garis lurus, sebelum akhirnya Azura yang lebih dulu memutus tatapan tersebut. Kini Azura juga sudah menggunakan baju dari dalam kamar mandi, lengkap pula dengan hijab yang menutup kepalanya. "Duduklah, aku ingin bicara," ucap Aditya. Suaranya selalu berhasil membuat Azura menciut. Secara perlahan Azura duduk di kursi meja riasnya. Pandangannya terus menurun, tak berani menatap kedua mata dingin pria tersebut. Sesekali Azura hanya melihat ranjang yang masih berantakan. "Jika ingin segera memiliki rumah ini, maka lakukan segala cara agar kamu secepatnya hamil, pergilah membeli vitamin, s**u atau apapun itu," ucap Aditya. "Gunakan uang ini," timpalnya pula seraya meletakkan sejumlah uang di atas ranjang. Azura melihatnya sekilas lalu meremat kedua tangannya kuat di atas pangkuan. Ketidakberdayaan ini membuatnya merasa benar-benar terhina. Demi mendapatkan rumah ini lagi banyak sekali hal yang harus Azura korbankan. 'Tidak, aku tidak boleh berpikir seperti ini. Apa yang ku lakukan semuanya demi ibu dan bapak. Demi janji yang sudah ku buat,' batin Azura. Demi membalas semua kebaikan yang selama ini dia dapatkan dengan tulus. "Jangan pernah berpikir untuk mengkhianati perjanjian pranikah kita, Azura ... aku bisa dengan mudah merubah rumah ini jadi tanah." "Ti-tidak, Tuan. Saya tidak akan berani melakukan hal itu, apapun akan saya lakukan agar bisa secepatnya hamil. Ta-tapi bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan?" tanya Azura lirih. "Apa? Katakan." "Apa ... Apa anda akan menyayangi anak yang Saya lahirkan nanti?" "Ingat Azura, itu bukan anak mu ... Itu hanya akan jadi anakku seorang. Aku dan istriku yang akan membesarkannya nanti, aku hanya butuh rahimmu." Azura terdiam, ternyata tuan Aditya telah menikah dan memiliki seorang istri, ternyata Azura adalah istri kedua. Wanita yang dinikahi untuk sementara waktu, sebelum akhirnya ditalak tanpa arti. Namun mendengar jawaban tuan Aditya tersebut, Azura juga yakin akan satu hal. Jika kelak anaknya akan disayangi pula, bahkan hidup berkecukupan sebab tuan Aditya adalah orang kaya raya. 'Ya seperti itu, aku tidak boleh ragu lagi. Aku harus secepatnya hamil dan terlepas dari perjanjian pranikah ini.' batin Azura. "Satu lagi," ucap Aditya hingga membuat seluruh perhatian Azura kembali tertuju pada pria itu. "Pernikahan ini hanya sebuah kesepakatan. Jadi jangan pernah menggunakan perasaan mu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN