bc

Perjanjian Pranikah

book_age18+
1.3K
IKUTI
28.8K
BACA
dark
contract marriage
family
HE
age gap
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
lighthearted
bold
small town
affair
like
intro-logo
Uraian

Azura Putri, seorang anak angkat berusia 21 tahun yang cantik, murni dan polos. Sebelum kedua orang tua angkatnya meninggal Azura berjanji akan menjaga rumah peninggalan mereka juga menjaga keutuhan keluarga ini, Azura dan kedua kakak laki-lakinya.

Sayangnya, satu bulan setelah orang tua angkatnya meninggal, kedua kakaknya justru menjual rumah yang bagi Azura sangat berharga, karena di rumah itu, Azura memiliki kenangan yang tak ternilai.

Aditya Darmawan, pengusaha berdarah dingin yang membeli rumah itu dengan niatan menjadikannya vila. Tampan, kaku, dingin dan tak berhati adalah julukan yang cocok bagi Aditya. Sebagai pengusaha, tentu ada niatan di balik pembelian rumah itu.

Aditya menginginkan agar Azura melahirkan anak untuknya sebagai ganti rumah yang akan dikembalikan padanya setelah anak mereka lahir.

"Menikahlah denganku dan lahirkan seorang anak, setelahnya aku akan memberikan rumah ini padamu." Kata Aditya dingin dan melemparkan dokumen kontrak pernikahan siri mereka ke hadapan Azura.

*

"Ya Allah, beri aku petunjuk. bagaimana caranya aku bisa terlepas dari perjanjian pranikah ini." Azura Putri.

"Azura bukanlah wanita yang kuinginkan, tapi kenapa dia selalu membuatku candu." Aditya Darmawan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 - Perjanjian Pranikah
"Menikahlah denganku dan lahirkan seorang anak, setelahnya aku akan memberikan rumah ini padamu." Aditya Darmawan, seorang pengusaha yang dikenal berdarah dingin mengajukan penawaran tak masuk akal tersebut. 'Ya Allah' batin Azura lirih. Bagaimana bisa demi mempertahankan sesuatu yang berharga dia pun harus mengorbankan hal berharga lainnya. Azura tertunduk begitu dalam, ingin kabur namun janji dan kenangan mengikatnya di rumah ini. Air matanya jatuh mengingat diri yang tak berdaya. Tapi jalan mana lagi yang harus Azura tempuh? tidak ada, semuanya buntu. Ataukah Azura harus menyerah? lalu melupakan semua kasih sayang yang pernah dicurahkan oleh mendiang kedua orang tua angkatnya. Melupakan janjinya pada mendiang sang ibu untuk menjaga rumah ini dan hidup rukun dengan kedua kakak. Entahlah, Azura tak menemukan cara apapun. Sampai sebuah suara keras membuatnya tersadar dari lamunan. Brak! Aditya melempar sebuah berkas di atas meja, tubuh Azura yang ringkih sampai berjangkit kaget. "Kedua kakakmu sudah menjual rumah ini padaku, jadi segera tandatangani perjanjian pranikah kita atau segera pergi dari rumah ini." Azura makin terdiam, tubuhnya kini gemetar. Sementara tatapan Aditya yang dingin serupa dengan belati yang menusuk jantungnya tanpa ampun. "Satu ..." ucap Aditya, mulai menghitung karena telah habis kesabarannya. "Dua ..." "Tuan! Sa-saya akan menandatangani surat ini," ucap Azura, akhirnya buka suara meski pikirannya masih begitu kalut. Keputusan yang Azura ambil tanpa sempat berpikir panjang, semua Azura lakukan hanya demi mendiang kedua orang tua angkatnya. Rumah ini tak boleh dihancurkan dan diubah jadi Villa, rumah ini akan tetap jadi rumah mereka dengan banyak kenangan indah. Kelak, Azura juga akan meminta kedua kakaknya untuk tinggal di rumah ini lagi. Seperti pesan ibu sebelum meninggal, mereka bertiga harus hidup rukun. Asisten pribadi Aditya kemudian maju membuka berkas tersebut. Azura menggunakan hijabnya untuk menghapus air mata. Coba menatap dengan lebih rinci apa yang ada di dalam surat perjanjian pranikah tersebut. Mereka akan menikah secara siri, Azura harus hamil dan melahirkan anak Aditya untuk mendapatkan rumah ini. Setelah bayi lahir, mereka akan berpisah. Azura mendapatkan rumah ini dan Aditya mendapatkan anak mereka. 'Ya Allah, perjanjian macam apa ini? Apa pria itu tidak memiliki hati?' batin Azura. Mulai melihat jawaban kenapa pria ini menawarkan sebuah pernikahan dengannya, ternyata pria tersebut hanya menginginkan rahimnya. Saat pena diulurkan padanya, Azura tak bisa menolak. "Tuan, ba-bagaimana jika saya tak bisa hamil?" tanya Azura, memberanikan diri untuk bertanya. Ingin tahu sampai kapan nasibnya akan terus dipermainkan oleh pria tersebut. "Semua keputusan ada ditanganku, termasuk nasibmu," balas Aditya tanpa belas kasih. Azura menelan ludahnya dengan kasar, kini benar-benar tak memiliki keberanian untuk mengajukan pertanyaan lagi. Dan pada akhirnya Azura menandatangani surat perjanjian pranikah tersebut, dia gores pena di atas kertas dengan tangannya yang gemetar. Sampai tanda tangan yang tercipta di sana terlihat tidak lurus. Dengan ini Azura seperti telah kehilangan hidupnya, namun kemudian Azura kembali menatap sekeliling rumah ini. Mencari kehangatan kasih sayang mendiang kedua orang tuanya yang masih mampu dia rasakan. Dulu Azura hanyalah anak yang dibesarkan di panti asuhan. Sampai pak Basri dan ibu Endang mengangkatnya jadi anak. Kasih sayang yang mereka curahkan tidak main-main, terkadang Azura sampai lupa bahwa mereka tidak memiliki ikatan darah. Malam ini juga pernikahan siri itu digelar di rumah, sebagai anak yatim piatu Azura mendapatkan wali hakim untuk membuatnya bisa menikah secara siri dengan tuan Aditya. "Saya terima nikah dan kawinnya Azura Putri dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," ucap Aditya dengan lantang. "SAH!" jawab para saksi dan Azura hanya mampu menunduk tanpa menunjukkan reaksi apapun. Beberapa saat lalu Azura merasa keputusan yang diambilnya ini sudah yang paling benar, tapi setelah sah menjadi istri Aditya Darmawan seketika rasa penyesalan itu menelusup masuk ke dalam hatinya. Azura pernah merasakan hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua, dibuang seperti manusia yang tidak berharga. Lalu sekarang dia akan menyerahkan anaknya pada Tuan Aditya untuk ditukar dengan rumah ini. Air mata Azura jatuh lagi, 'Ya Allah, apa yang aku lakukan? kenapa aku menerima pernikahan ini? Apa bedanya aku dengan kedua orang tuaku dulu?' batin Azura. Sungguh, hatinya benar-benar bimbang. Tuhan menempatkannya di sebuah persimpangan yang tak bisa dia pilih. Tapi keputusan yang telah Azura ambil tak bisa diganggu gugat, bahkan kini pernikahan telah selesai dilakukan. "Berhentilah menangis, lama-lama aku muak melihat air matamu," bisik Aditya, kalimat pertama yang dia ucapkan setelah mereka sah menjadi suami dan istri. Azura tak menjawab, lagi-lagi menggunakan hijabnya untuk menghapus semua air mata di wajah. Pak penghulu dan para saksi satu persatu mulai meninggalkan rumah tersebut, bahkan asisten pribadi Aditya pun ikut pergi juga. Sampai rumah ini terasa sepi sebab hanya dihuni oleh Azura dan Aditya. Rumah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman warga, memiliki halaman yang luas dan sepetak kebun di belakang. Namun bangunanya masih sederhana, khas rumah jaman dulu. Kedua kakak Azura menjual rumah dan tanah ini seharga 350 juta, dijual tanpa berdiskusi ataupun persetujuannya, berdalih bahwa Azura hanyalah anak angkat. Tak memiliki sedikitpun hak untuk mengambil keputusan. Tuan Aditya membelinya sebab ingin dirubah jadi sebuah villa. Dan Azura adalah satu-satunya orang yang ingin tetap mempertahankan rumah ini. 'Ya Allah, aku pasrahkan semuanya padamu. Aku benar-benar tak tahu jalan mana yang benar dan jalan mana yang salah,' batin Azura. "Kenapa hanya diam? Tunjukan di mana kamarmu," titah Aditya, dia memang belum sempat mengelilingi rumah yang telah dibeli ini. Sebab setelah pembayarran selesai Azura datang dan memohon pembatalan jual beli. Sementara Azura tak punya apa-apa, tak bisa mengembalikan uang yang telah Aditya bayarkan pada kedua kakaknya. Satu-satunya hal yang dimiliki oleh Azura hanyalah tubuhnya dan Aditya yang butuh rahim pengganti segera menyodorkan perjanjian pranikah tersebut. Dengan begini Aditya pun tak akan rugi, baginya rumah ini tidak berarti apa-apa, hanya sepetak tanah yang dia beli. Namun dengan mendapatkan rahim Azura, justru membuatnya mendapatkan keuntungan lebih. Tiba di dalam kamar Aditya masuk dengan leluasa, seolah ini adalah kamarnya sendiri. Sementara Azura malah merasa asing, padahal selama 14 tahun dia telah menempati ranjang tersebut. Deg! Jantung Azura berdenyut nyeri ketika tuan Aditya menatap ke arahnya. belum apa-apa Azura sudah merasa ditelanjangi. 'Ya Allah, aku tidak sanggup,' batin Azura, tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. "Jangan mengulur waktu, lepas bajumu sekarang juga," titah Aditya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
65.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook