"Ganti semua pakaianmu dengan baju yang ku beli, besok-besok Aku tidak mau melihatmu menggunakan pakaian seperti ini lagi. Baju yang terlihat seperti karung."
Azura tertegun, juga menelan ludahnya dengan kasar. Sebab baju-baju yang dia pakai sekarang adalah pemberian sang ibu, bahkan ada beberapa baju yang sama pula dengan milik ibunya. Baju pasangan ibu dan anak.
"Tapi Tuan_"
"Kenapa? Kamu ingin menolak perintahku?"
Azura jadi kembali menelan pertanyaan yang ingin dia lontarkan. 'Katanya aku harus bicara, tapi setiap kali aku mulai buka suara tuan Aditya selalu memotong ucapan ku.' batin Azura. Akhirnya dia kembali menunduk, tanpa bicara dan hanya menatap banyaknya paper bag di atas meja.
Diam-diam hatinya menghitung dan ternyata ada 8 bungkus. Entah baju seperti apa yang ada di dalam sana, Azura belum berani membukanya sebelum mendapatkan perintah.
"Baju-baju ini dari butik, baju mahal. Harusnya kamu terima dengan senang hati, bukannya malah berniat melayangkan protes," ucap Aditya.
Padahal Azura tidak bicara apa-apa, Aditya hanya terus menuduh sesuai keyakinannya sendiri.
"Jangan hanya diam saja, bawa semua baju ini ke dalam kamar dan buang baju lamamu."
"Maaf Tuan, tapi saya tidak bisa membuang baju lama saya," balas Azura lirih, memberanikan diri untuk menyela karena baju-baju yang dia miliki juga berharga.
"Terserah, yang penting jika ada aku di rumah ini pakai baju yang aku belikan!" balas Aditya ketus, dia tidak ingin tahu apa alasan Azura enggan membuang semua baju lamanya. Yang Aditya inginkan hanyalah Azura menuruti semua perintahnya.
"Baik, Tuan." Azura membawa semua paper bag itu masuk ke dalam kamar.
Dan ternyata Aditya mengikuti langkah istri keduanya tersebut. Saat Aditya duduk di tepi ranjang, Azura mulai membuka lemari pakaiannya untuk menyimpan baju-baju baru ini.
"Cepatlah, jangan terlalu lama."
"Iya Tuan," jawab Azura, dia hati-hati sekali saat menciptakan ruang baru untuk baju baru tersebut.
Jangan sampai obat pencegahan kehamilan yang dia sembunyikan di sini sampai diketahui oleh tuan Aditya.
Ketika ruang kosong telah tersedia, Azura akhirnya membuka satu persatu paper bag tersebut. Tapi kemudian dibuat tercengang saat melihat baju-baju ini sangat terbuka. Baju yang akan menunjukkan dengan jelas pundak serta kakinya. 'Ya Allah, baju macam apa ini?'
Azura sampai bergidik ngeri Dan makin mendelik saat melihat sebuah baju yang lebih mirip saringan tahu. 'Astaghfirullahaladzim,' ucap Azura di dalam hati, saking terkejutnya dia sampai beristighfar.
Kata tuan Aditya semua baju-baju ini berasal dari butik, tapi bagi Azura semua baju ini sebenarnya belum selesai dijahit.
"Kenapa? kamu merasa aneh dengan semua baju-baju itu?" tebak Azura.
"Ba-baju ini terlalu terbuka."
"Itulah namanya fashion, wanita kampungan seperti dirimu mana paham." Tegas Aditya, "Tidak usah banyak protes dan gunakan saja. Karena baju seperti itulah yang ingin aku lihat kamu pakai."
'Ya Allah.' Azura sampai tak mampu berkata-kata, melihat baju-baju ini saja Azura sudah merasa jadi wanita yang tidak benar, seperti wanita penghibur.
'Tidak, tidak, Jangan berpikir seperti ini Azura. Tuan Aditya suamimu, dia bahkan berhak melihatmu tanpa menggunakan sehelai benang pun, apalagi hanya baju ini.'
"Malam ini pakai yang sedang kamu pegang, cepat ganti."
Sebuah lingerie berwarna merah maron, warna yang sangat disukai oleh Siena. Aditya ingat betul tiap kali dia bercinta dengan sang istri pasti Siena menggunakan lingerie berwarna merah maron.
Saat menggunakan lingerie itu Siena terlihat sangat cantik.
"Baik, Tuan." balas Azura pasrah, dia membawa baju saringan tahu itu masuk ke dalam kamar mandi. mengumpulkan semua keberanian untuk mengenakannya.
"Astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim," ucap Azura, sampai berulang kali beristighfar ketika sudah menggunakan baju tipis ini.
Jika dipikir-pikir lebih baik dia telanjang saja daripada harus menggunakan baju ini. Bagaimana tidak, bukan hanya lekuk tubuhnya yang terlihat dengan jelas.
Namun kedua inti tubuhnya pun seperti dipasarkan dengan cuma-cuma. Pucuk d**a terlihat samar-samar, juga inti di bawah sana yang menerawang.
"Astagfirullah," ucap Azura lagi.
"Azura!!" panggil Aditya dari luar, sudah lebih dari 5 menit dia menunggu tapi Azura tidak juga keluar dari dalam kamar mandi itu. Padahal hanya mengganti baju tidak membutuhkan waktu yang lama.
Dan mendengar teriakan sang suami Azura reflek membuka pintu dengan buru-buru, rasa takutnya akan dimarahi membuatnya sesaat lupa dengan rasa malu.
Namun ketika sudah berdiri di hadapan tuan Aditya, mendadak rasa malu itu kembali menjalar menguasai dirinya. 'Ya Allah,' batin Azura.
Sementara Aditya menatap lekat penampilan Azura malam ini. Dilihatnya dari atas sampai bawah, lalu diam-diam membandingkan tubuh di antara istri pertama dan istri keduanya.
Tubuh Azura dan tubuh Siena memang berbeda, Siena memiliki tubuh yang lebih berisi sedangkan Azura tidak.
Tapi lingerie itu tetap saja terlihat pantas di tubuh Azura. Kulit putih bersih Azura sangat membantu penampilan wanita itu malam ini.
'Jangan menatapku seperti itu, Tuan. Aku mohon,' pinta Azura, karena hanya dari tatapan itu saja sudah membuat darahnya seperti mendidih. Azura sampai meremat kedua tangannya karena merasa gugup.
"Duduk di sini," titah Aditya, dia menepuk posisi kosong di samping kirinya dan Azura hanya bisa mematuhi keinginan suaminya tersebut. "Tiap aku di rumah Jangan pernah menggunakan baju lusuh mu lagi, paham?"
Azura mengangguk tanpa membalas tatapan Aditya. Azura masih belum memiliki keberanian untuk membalas tatapan sang suami
Setelah beberapa saat ada hening, Aditya kemudian menyentuh tengkuk Azura dan mulai mencium bibir Azura dengan lembut. Lembut sekali sampai Azura tanpa sadar memejamkan mata menikmati sentuhan tersebut.
'Siena,' batin Aditya dan memperdalam ciumannya, menelusupkan lidah bahkan menyesap bibir Azura dengan penuh hasrat.
Azura sampai kewalahan menghadapi ciuman tersebut, ini adalah pengalaman pertamanya dan membuat Azura kehilangan banyak udara. Azura sampai kesulitan bernafas.
Selama ini mana pernah tuan Aditya mencium Azura sedalam ini. Yang selalu Aditya lakukan hanyalah langsung melakukan penyatuan. Terkesan kasar tanpa ada sedikitpun perasaan.
Tapi malam ini benar-benar berbeda, Ternyata baju yang Azura kenakan sangat mempengaruhi suasana hati pria tersebut.
Azura mulai berpikir mungkinkah tuan Aditya sama seperti dia, yang mulai menganggapnya sebagai istri.
Azura tidak tahu saja bahwa percintaan mereka malam ini Aditya tidak menganggap dirinya sebagai Azura, mainkan istri pertama Aditya yaitu Siena.
"Ah," Azura reflek mendesah ketika akhirnya penyatuan itu dilakukan dengan lembut, tak ada sakit, semuanya terasa sangat berbeda.
Bahkan kecupan yang tuan Aditya lakukan pada tubuhnya terasa begitu berarti, penuh makna. Tidak buru-buru seperti selama ini. Dan yang membuat Azura lebih bahagia akhirnya dia merasakan apa itu namanya pelepasan.
Lalu disusul pula oleh erangan tuan Aditya, "Ahk Siena."