Di kediaman Gilbert. Hubungan keluarga Cinta beserta suaminya semakin terlihat harmonis, hari-hari mereka terlihat begitu manis. Namun setelah sekian bulan berlalu, rumah tangga mereka belum juga di karuniai seorang momongan. Hal itu membuat Cinta teramat sedih. Ia merasa menjadi istri yang tidak sempurna. "Sayang, kenapa kau bersedih hm?" Tanya sang suami. Cinta hanya memainkan ujung selimutnya. "Apa kau menginginkan seorang anak?" Tanyanya lirih. Gilbert tersenyum. "Jika Tuhan memberikan nya aku akan sangat bahagia," tuturnya, namun ia tak menyangka jika ucapannya begitu menembus ke dalam hati sang istri terlalu dalam. "Apa aku bisa memiliki seorang anak?" Pertanyaan ambigu yang muncul dari bibir Cinta, membuat Gilbert sedikit mengernyitkan keningnya. "Kenapa hm? Tentu saja kau b

