"Aku memang bukan wanita suci, bukan juga wanita yang paham agama. Akan tetapi, Aku hanya wanita yang sedang memantaskan diri kepada Rabb-ku.~
~Muhasabah Cinta~
Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abd Al-'Uzza. Ia biasa dipanggil Ummu Hindun dan digelari Ummul Mu'minin (ibu orang yang beriman). Ia dilahirkan di Makkah tahun 68 sebelum hijrah. Pada masa Jahiliyah, ia dipanggil Ath-Thahirah (wanita suci) karena ia senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.
Orang-orang Quraisy menyebutnya sebagai pemimpin wanita Quraisy. Ia adalah seorang wanita terpandang dan memiliki kekayaan yang berlimpah yang diinvestasikannya dalam bidang perdagangan.
Sebelum menikah dengan Nabi SAW, ia pernah menikah dengan 'Atiq bin 'Abid. Dari perkawinannya dengan 'Atiq, ia dikaruniai seorang anak perempuan bernama Hindun. Setelah 'Atiq meninggal, ia menikah dengan Abu Halah At-Tamimi dan dikaruniai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.
Lalu, setelah berpisah dengan Abu Halah, ia menikah lagi dengan Rasulullah saat berusia 40 tahun. Dari pernikahannya dengan Rasul SAW, Khadijah dikaruniai enam orang anak. Mereka adalah Abdullah, Qasim, Zainab, Fathimah, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum.
Ia adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan membenarkan risalahnya. Ia dengan senang hati dan penuh kerelaan ikut berpartisipasi dalam memikul beban dakwah Rasulullah.
“Maasyaa Allah ...” gumam Tasya saat membaca sebuah novel yang menceritakan tentang ibunda Khadijah. Dia malu, karena dirinya bukan wanita sesuci ibunda Khadijah. Dia kotor. Apakah dia pantas mendapatkan ampunan dari-Nya?
Tasya ingin sekali mencontohkan para wanita di zaman Rasulullah. Dia ingin seperti Khadijah yang menjaga kesuciannya. Namun, mengingat masa lalunya, dia merasa tidak pantas untuk mendapatkan ampunan-Nya.
Tapi, asalkan kalian ketahui, bahwa ampunan Allah itu luas, seluas lautan. Allah akan selalu mengampuni seorang hamba, jika hamba-Nya ingin bertaubat. Dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 133 yang artinya,
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (133)
Dari situ, kita paham bahwa memang ampunan Allah itu sangatlah luas.
Mungkin Tasya memiliki masa lalu yang kelam, tapi dia tidak tahu, bahwa ada masa depan yang menunggu disana.
Tentang masa depan, kita tak pernah tahu, bukan? Bagaimana nanti ke depannya, seperti apa kita di masa depan? Ya, karena itu hanya Allah yang tahu. Namun, bukan berarti kita tak memiliki masa depan yang baik. Setiap orang memiliki masa lalu, entah itu baik atau buruk. Dan setiap orang juga memiliki masa depan yang cerah. Tak menutup kemungkinan, Tasya juga memiliki masa depan yang cerah.
Hari ini, dia ada jadwal untuk bertemu dospem alias dosen pembimbing. Berada di semester akhir, membuat Tasya selalu sibuk dengan skripsinya. Belum lagi dia harus merevisi naskah-naskah novelnya. Ya, Tasya juga menyukai hal-hal yang berbau literasi. Dia memiliki hobi menulis. Sejak kecil, dirinya sudah belajar menulis. Namun, untuk menulis novel, sejak memasuki sekolah menengah atas dia menekuni dunia literasi. Awalnya, dia hanya menulisnya di laptopnya saja. Akan tetapi, teman sekelasnya menyarankan agar cerita yang ia buat di publikasikan di aplikasi bernama w*****d. Dari situlah, dia mulai menyukai tulisan-tulisan islami.
Dia beranjak dari duduknya, melihat jam dinding pukul setengah sembilan, dia langsung mengambil tas selempangnya dan sebelum itu ia membenarkan Khimar dan niqob nya. Berjalan ke arah meja makan. Disana sudah ada bundanya, Maira.
“Bunda, Aku ada jadwal buat bimbingan ke dosen pembimbing jam sembilan,” kata Tasya menghampiri Maira.
“Iyaudah, kalau begitu kamu sarapan dulu yah,” sahut bunda yang membawa dua piring berisi lauk pauk. Tasya hanya mengangguk.
Setelah semuanya sudah siap di meja makan, Maira memanggil suaminya. Jangan tanya anak kedua Maira, karena sejak pagi tadi, dia sudah berangkat sekolah.
“Yah, boleh Tasya lanjut kuliah lagi?” tanya Tasya ketika Raihan dan Maira sudah duduk di kursi.
Raihan menatap anak sulungnya itu, dia akan selalu mengizinkan anak-anaknya untuk mengejar cita-cita.
“Memangnya kakak mau kuliah dimana?” tanya Raihan pada Tasya.
“Hmmm, di Al-Azhar Mesir, ”ucapnya membuat Raihan dan Maira saling bertukar pandang.
Kairo, Mesir? Raihan berpikir sejenak mengenai permintaan anaknya. Sebenarnya, Raihan tak ingin Tasya hidup sendirian disana. Namun, dirinya juga tidak boleh egois. Dia harus mengizinkan anaknya untuk menggapai cita-cita.
“Kan nanti disana ada tante Ayla, biar Bunda bilang sama beliau kalau Tasya mau kuliah disana yah” kata Maira mengingat sahabatnya yang masih berada di Mesir. Ayla adalah sahabat sejak masa putih abu. Dia menetap di sana, karena mendapatkan suami orang Mesir. Maasyaa Allah.
“Iyaudah, Ayah izinkan. Asalkan kakak harus menuntut ilmu dengan baik dan benar. Jika nanti kakak sudah berada disana, kakak harus jadi anak yang mandiri yah,” itu pesan Raihan pada Tasya.
“Iya Ayah, insya Allah Tasya akan mandiri disana,” sahutnya.
Setelah selesai sarapan, Tasya pamit kepada orang tuanya untuk pergi ke kampusnya. Menggunakan mobil yang diberikan oleh Raihan saat ulang tahunnya ke dua puluh tahun. Saat ini, Tasya berumur dua puluh satu tahun. Memiliki adik lelaki yang masih mengenyam sekolah menengah atas, berumur delapan belas tahun. Terpaut usia tiga tahun dengan dirinya.
Jalanan agak lengang, mobil Tasya membelah kota Jakarta. Tak lama kemudian, mobilnya telah sampai di area parkir kampus. Lantas ia turun dari mobilnya, membawa tas selempang dan juga dokumen-dokumen yang akan dia perlihatkan kepada dosen pembimbingnya. Setelah semalaman dia merevisi skripsinya, semoga saja skripsinya di acc.
Di usia yang masih sangat muda, Tasya pasti menginginkan masa depan yang cerah. Walaupun memiliki masa lalu kelam.
Dia berjalan menyusuri koridor kampus, ada banyak para mahasiswa maupun mahasiswi yang sedang berkumpul bersama teman-temannya. Mengingat teman, ada dua sahabat Tasya yang sangat dia rindukan. Angel dan Amel. Entahlah, sekarang dirinya tak tahu keberadaan dua sahabatnya itu. Mungkin dulu Tasya terpengaruhi oleh Angel dan Amel. Sehingga membuat dirinya melanggar peraturan Allah. Sahabat masa Jahiliyah itu, membuat Tasya banyak belajar. Bahwa dalam berteman itu kita harus memilih. Memilih dalam hal kebaikan. Kita harus memilih teman yang taat kepada Allah.
Tasya pernah mendengar kajian Ustadz Handy Bonny. Yang menampar tapi membuat kita sadar atau yang membelai tapi membuat kita lalai. Itu isi kajian yang pernah dia dengar. Kita disuruh memilih untuk mencari teman yang baik. Yang menampar dalam artian membuat kita sadar. Jika Adzan telah berkumandang, dia mengingatkan kita untuk salat. Itulah sahabat.
Sesampainya di ruangan, dimana dospem nya berada di dalam sana. Ia mulai mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
“Masuk!” titah seorang lelaki dari dalam.
“Permisi pak! Saya mau nyerahin skripsi saya,” kata Tasya dengan sopan. Pria setengah baya itu memperhatikan dokumen alias skripsi yang tadi Tasya sodorkan kepada dospem nya. Hendra, dosen pembimbing yang di kenal killer itu membuat Tasya harus super sabar dalam menghadapinya.
“Sudah saya bilang berapa kali, revisi di bagian bab duanya!” bentak Hendra selaku dosen pembimbing.
Mendengar bentakan itu, Tasya menundukkan kepalanya. Dia hanya mengangguk.
“Ya sudah, jika kamu ingin cepat wisuda tahun ini, selesaikan skripsinya dan revisi bagian bab duanya,” katanya dan lagi Tasya hanya menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, saya permisi pak, Assalamualaikum,” tanpa menunggu jawaban dari dosen itu, dia beranjak dari duduknya dan menuju ke arah taman.
Disinilah dia, duduk di kursi berwarna putih. Ada banyak orang yang berlalu lalang di taman ini.
Dia paling tidak suka dibentak, Ayahnya saja tidak pernah membentaknya.
Kesal. Saat ini yang Tasya rasakan adalah kesal. Kemarin, ketika dirinya sudah menyerahkan skripsinya, dosen itu bilang harus revisi bagian tiga. Dan sekarang dia harus revisi bagian dua. Maunya apa sih itu dospem? Membuat Tasya diuji dengan kesabarannya.
“Tasya!” panggil seorang lelaki.
Mendengar namanya dipanggil, dia menoleh ke arah suara.
Deg!