Masa lalu
"Masa lalu itu memang boleh diingat, tapi jangan terus berada di masa lalu itu, sebab ada masa depan yang menunggumu.”
~Muhasabah Cinta~
Seorang gadis berjalan dengan sempoyongan, kaki jenjangnya yang putih mulus dan memperlihatkan paha nya itu sedang berjalan ke arah parkir. Dia baru saja keluar dari Night club. Memakai rok mini yang kurang bahan dan memakai baju yang memperlihatkan lengan indahnya. Sungguh, wanita itu sedang mabuk.
Dia berhenti kala seorang pria menghadangnya. Pria itu mengelus lengannya yang tidak tertutupi.
“Apaan sih! Pergi Lo!” bentaknya. Ada rasa takut dalam dirinya, namun dia memberanikan diri.
“Hai, cantik. Kok, malam-malam ginih sendirian sih? Abang temani yah?” ujar pria bertubuh tegap, tinggi itu.
“Apaan sih, gak usah pegang-pegang! Gue mau ke mobil, minggir lo!" ucapnya dengan nada ketus. Ia berjalan dan masih sempoyongan. Tatkala ia memasuki mobilnya, namun dia sudah tak sadarkan diri, pingsan.
Pria itu langsung menggendongnya kedalam mobil milik wanita itu. Membawanya menuju hotel. Entah rencana apa pria itu, dia membawa gadis itu menuju hotel.
Mobil yang ditumpanginya berhenti, memarkirkan mobilnya, dan membawa gadis itu ke dalam hotel. Ia memesan satu hotel untuknya.
Entah berapa gelas alkohol yang gadis itu minum. Sehingga membuatnya pingsan begitu lama. Sudah berjam-jam, gadis itu masih saja menutup matanya.
Pagi telah menyapa, gadis itu mengerjapkan matanya. Sinar matahari yang menyilaukan matanya, ia membuka matanya. Kaget. Ketika melihat dia berada di kamar hotel. Pikirannya terus melayang bagaimana ini bisa terjadi. Tidak mungkin. Gadis itu menggeleng kepalanya, frustasi.
"Tidak mungkin!" teriaknya sambil menjambak rambutnya.
Sadar. Itu hanya masa lalu, sudah saatnya dia hijrah. Pergi dari masa lalu yang begitu kelam. Segenap rasa bersalahnya hinggap di hatinya, kala mengingat kejadian di masa lalunya.
Mengapa kejadian itu terus terulang di otaknya. Dia ingin melupakan masa lalu yang membuatnya hampir saja bunuh diri.
Dia sangat menyesal.
"Ya Rabbi ... Ampuni dosa hambamu ini," ujarnya kala sedang sendirian di dalam kamarnya.
Air mata yang membasahi niqob nya adalah air mata penyesalan. Dia menyesali apa yang telah dia perbuat di masa lalu dulu.
Dibalik niqob nya gadis itu terus berdzikir memohon ampun kepada pemilik semesta ini.
Meminta ampunan kepada Allah, salah satu bentuk taubat hamba-Nya. Bertaubat untuk tidak mengulang kesalahan yang pernah kita lakukan. Menjadi seseorang yang taat akan perintah-Nya, dan menjalankan apa yang Allah perintahkan, juga menjauhkan apa yang Allah larang.
Hijrahnya hanya untuk Allah. Bukan karena siapa-siapa. Apalagi untuk mengharapkan pasangan yang baik, karena diri kita harus menjadi baik juga. Bukan begitu. Perbaiki niatnya, hijrah hanya karena Allah. Memperbaiki diri karena-Nya, bukan karena ingin mendapat jodoh yang baik.
Allah sudah menjanjikan seorang hamba, ketika dia memutuskan untuk hijrah. Dalam Al-Quran surah An-Nisaa ayat 100.
“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan Rizki yang banyak” [An-Nisaa/4 : 100]
Untuk itu, Tasya memutuskan untuk hijrah. Benar-benar hijrah karena Allah. Gadis dengan nama lengkap Anastasya Putri Alisya Firdaus, memang sedang menjalani proses hijrah. Tidak mudah memang, tapi inilah jalan yang dia ambil. Menjadi hamba yang taat dan menjalani perintah Allah.
Memang sudah seharusnya bukan, seorang wanita itu harus menutup auratnya. Allah yang memerintahkan wanita untuk menutup auratnya.
“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" [al-Ahzab/33:59]
Dulu dia tidak pernah mendengarkan Ayahnya, dan sekarang dia sadar. Bahwa wanita itu mulia dengan menutup auratnya. Sejak dia memutuskan untuk berniqob, tak banyak orang yang mengetahuinya. Dia merasa asing, bahkan ketika dirinya bertemu dengan kedua sahabatnya, Amel dan Angel. Mereka mengatakan bahwa Tasya ini teroris yang dengan kedok cadarnya. Rasanya Tasya ingin melepas niqob nya saat itu juga, namun lagi-lagi dia teringat Allah. Allah-lah alasan dia untuk hijrah.
Pernah suatu ketika dia pergi seorang diri, untuk pergi ke sebuah toko buku. Disana ada banyak orang-orang yang lewat, dan yang membuat hati Tasya sakit adalah mendengar perkataan, “Jilbab saja panjang, pakai niqob pula, tapi akhlaknya tak sesuai dengan pakaian.”
Astaghfirullah, bukankah untuk memakai jilbab ataupun niqob tak harus menunggu menjadi baik dulu? wanita yang memiliki masa lalu kelam berhak menjadi baik di masa depan.
“Sya ...” seorang wanita cantik yang memanggil Tasya masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu adalah Maira, Bundanya Tasya.
“Ehh ... Bunda,” Tasya kaget ketika bundanya masuk ke dalam kamarnya.
“Lho, kok kaget sih, ini Bunda, sayang,” katanya yang sudah duduk disamping Tasya.
Tasya hanya tersenyum dibalik niqob yang dia kenakan. Air mata yang sedari tadi belum juga dia hapus. Namun, ketika melihat Bundanya, ia langsung menghapusnya.
“Kenapa lagi, kok Bunda lihat akhir-akhir ini Tasya murung terus?” tanya Bunda sambil memperhatikan wajah anak sulungnya itu dibalik niqob. Melihat mata Tasya agak sedikit sembab, Maira sudah mengetahui bahwa anaknya itu habis menangis.
“Bunda ...” rengek Tasya, kemudian memeluk erat Bundanya. Tangisannya kembali terisak.
“Bun, apa Tasya masih pantas untuk mendapatkan surganya Allah?” tanya Tasya disela isak tangis.
“Insyaa Allah nak, kalau Tasya hijrah karena Allah dan ingin bertaubat karena-Nya, insyaa Allah, Allah akan menghadiahkan surga-Nya untuk hamba yang mau bertaubat,” tutur Maira lembut sambil mengelus jilbab Tasya.
“Tapi Bun, Tasya teringat dosa yang dulu Tasya lakukan, hiks...” katanya terisak.
Dia teringat ketika berbuat dosa.
“Mintalah ampunan-Nya. Insyaa Allah, Dia akan mengampuni hamba-Nya yang ingin bertaubat”
“Apa Allah mengampuni Tasya Bun?” tanya Tasya lagi.
“Insyaa Allah nak, Allah mengampuni dosa-dosamu,” ujar Maira menenangkan hati anaknya.
Maira sebagai orang tua harus memberikan semangat untuk anaknya yang sedang proses hijrah. Mungkin dulu Tasya belum menyadari akan kewajibannya sebagai seorang Muslimah. Berkali-kali Maira dan Raihan mengingatkan Tasya untuk menutup Auratnya, namun gadis itu enggan sekali untuk menutup auratnya.
“Bunda selalu berdoa untuk anak bunda, semoga Tasya Istiqomah dalam menjalani perintah Allah,”
“Aamiin ya Allah... Terima kasih Bunda,” Tasya memeluk bundanya lagi.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Raihan memerhatikan keduanya di depan pintu. Raihan kagum dengan putrinya itu, bisa sabar dalam menghadapi ujiannya.
Ya Allah ... Terima Kasih telah menyadarkan anak hamba...
***