Yang nunggu cerita inj harap bersabar yaa, ini pasti di lanjut, tapi eike mau ubah alur sama matengin idenya. Sementara nunggu, ini eike uodate sama hal2 yang gak penting dulu, misalkan bab-bab cerita yg lain.
***(
Yang nunggu cerita inj harap bersabar yaa, ini pasti di lanjut, tapi eike mau ubah alur sama matengin idenya. Sementara nunggu, ini eike uodate sama hal2 yang gak penting dulu, misalkan bab-bab cerita yg lain.
Maklum, buat cerita ini masih agak buntu idenya, buntuuu banget.
Maaf yaa, buat yang udah lama nunggu.
Peace, jangan ngambek.
*******
Jamgan kecewa ya aku update part2 yg aku ulang terus, masalahnya file ketikanku 10 part yg udah di
*********
Siapa sangka, melihat Moizha yang tiba-tiba muncul di wilayah teritorialnya bersama Zeon bisa membuat Ranu terusik. Dia benar-benar gak menduga kedua orang itu ternyata saling mengenal. Bahkan akrab, dilihat dari cara mereka berdua berinteraksi, terutama Zeon.
Ranu bisa merasakan kalau sekarang ini saudara sepupunya itu lagi tebar pesona kepada Moizha, yang notabene adalah calon tunangannya.
Ranu menggeleng kesal. Sepertinya hari ini isi otaknya memang sudah berkurang setengah ons, mau-maunya dia mengakui Moizha sebagai tunangan.
Tanpa menyadari ada yang memperhatikan dengan air muka keruh. Moizha menyandarkan pinggulnya di jok motor, setia menunggu Zeon yang berusaha menghubungi sepupunya.
"Lagi sibuk kayaknya, tumben-tumbenan telepon gak diangkat." Pria itu menyimpan kembali ponsel ke dalam saku, lalu menghampiri Moizha. "Kita langsung kesana aja deh, Moi."
Moizha melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam, pasti jam sibuk. Kalau mereka ke sana sekarang apa gak mengganggu?
"Eh, tunggu Moi, antingmu mau copot tuh." Zeon memegang kepala Moizha dengan kedua tangannya seperti mau memeluk.
Melihat adegan itu dari jauh, Ranu semakin tidak senang. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan geram, menghampiri dua orang itu dengan langkah lebar lalu tanpa ba bi bu, langsung menarik tangan Moizha pergi dari sana.
"Ihh, sakit! Lepasin gak!" Moizha mengibas-ngibaskan tangan supaya Ranu melepaskan tangannya, tapi cengkeraman tangan pria itu malah semakin kuat dan baru dia lepas ketika mereka sampai di depan area parkir mobil.
Moizha menggerutu sembari mengurut pergelangan tangannya. "Kamu ngapain sih? Narik tangan orang seenaknya, udah gila ya!"
"Harusnya aku yang tanya. Ngapain kamu mesra-mesraan ditempat umum, gak punya duit buat sewa kamar?!"
Hanya beberapa detik, tapi Moizha sempat melihat senyum mencemooh yang sekilas terlihat di wajah Ranu. Jangan salahkan dirinya, kalau dia menjawab ucapan pria itu dengan ketus. "Ada gitu orang yang sewa kamar buat benerin anting? Mana orang tololnya? Kamu?"
"Tapi yang aku liat bukan begitu!" Ranu gak mau kalah, "ini nih di timur, harusnya kamu ngerti mana yang pantas, mana yang gak!"
"Woy! Woy, Bang...tunggu sebentar," Zeon yang mengikuti mereka menyela dengan hati-hati, dia mau ikut meluruskan kesalah pahaman tadi supaya Moizha gak dituduh yang tidak-tidak.
Namun, raut wajah Ranu malah seperti hendak menelannya hidup-hidup. Karena gak mau ribut, akhirnya Zeon mengalah dan menurut ketika Moizha menyuruhnya menunggu di tempat tadi.
"Mau kemana lagi? Ayo pulang!" Kata Ranu sambil menarik tangan Moizha yang sudah membalikkan badannya.
"Ya udah! Sana pulang sendiri, ribet banget!"
"Kamu lupa... nenek?"
Kedua sudut bibir Ranu perlahan naik ke atas ketika Moizha berjalan mendekat. Lihat kan, bagaimana menurutnya gadis itu kalau dia sudah menyebut kata nenek.
"Ranu, denger ya. Yang tadi nurunin aku di tengah jalan siapa?" Moizha mendorong d**a Ranu dengan jarinya, "kamu kan? Tapi aku bisa lho cari jalan keluar sendiri, masa kamu gak bisa ngadepin satu nenek-nenek sendiri?"
Moizha langsung lari secepat kilat setelah selesai mengatakan hal itu kepada Ranu. Sampai di halte bus, gadis itu membungkuk sambil kedua tangannya memegang lutut, napasnya tersengal-sengal.
"Mau kabur? Gak semudah itu, Moizha! Butuh latihan sepuluh tahun lagi!" Terdengar suara mengejek yang langsung menembus ulu hati.
Moizha mendongak. Wajahnya langsung cemberut.
Saat mereka berdua hampir berdebat. Sebuah bus berhenti persis depan mereka. Orang-orang sudah menunggu di halte langsung menyerbu ke dalam bus. Ranu dan Moizha terpisah beberapa meter.
Pintu bus yang dia tumpangi akhirnya tertutup. Moizha menggerutu pelan karena kalah cepat ketika berebut kursi kosong dengan abg yang bicara lewat earphone dengan suara nyaring. Positif thinking aja, mungkin dia habis implan toa di tenggorokannya.
Moizha melihat sekelilingnya. Mana tahu ada sedikit rejeki dari Tuhan berwujud bangku kosong buat dia duduki. Sumpah! Betisnya pegal banget sekarang.
Rupanya Moizha gak masuk ke dalam kriteria anak soleh versi Sang pencipta. Sudah lihat ke sana ke mari sampai matanya pedih, semua bangku ternyata sudah terisi semua.
Huh! Gagal deh nulis caption 'rejeki anak soleh' di story.
Pantang menyerah, Moizha berpindah sedikit ke tengah lalu menoleh ke belakang. Rupanya keputusannya ini kurang tepat. Saat itu, tanpa di sengaja matanya beradu dengan tatapan Ranu.
Moizha membuang muka pura-pura gak melihat, tapi diam-diam diliriknya pria itu dan jadi kesal sendiri. Ranu enak-enakan duduk, sementara dirinya harus puas berdiri sambil memeluk tiang pegangan.
Setelah melewati tiga halte, penumpang bus semakin banyak. Moizha yang badannya mungil sampai terhuyung-huyung karena badannya terdorong ke sana sini oleh penumpang yang berdesakan.
Ranu tiba-tiba menjulurkan tangan untuk menarik tangan Moizha supaya gak terjatuh.
"Duduklah." Kata pria itu seraya berdiri.
Biarpun masih kesal sama Ranu, Moizha tetap terima tawaran pria itu untuk menduduki tempatnya. Lumayanlah mereka turunnya masih jauh.
"Coba liat celanamu! Gak dingin apa?"
Moizha menatap Ranu dengan mata terbelalak. Ranu melepas jaket yang dia pakai untuk menutupi pahanya yang terbuka karena hanya memakai mini pants yang panjangnya lima centi diatas lutut.
Sesaat Moizha merasa wajahnya memerah. Ternyata Ranu bisa juga kayak air pegunungan. Ada manis-manisnya, gitu.
"Thank's." Kata Moizha akhirnya.
"Gak perlu." Ranu mengambil ponsel dari saku celana, membuka aplikasi memo lalu menyerahkannya ke Moizha. "Tulis di sini hari ini kamu kemana aja."
Ishhh!
***