23

955 Kata
Moizha mengambil ponsel dari tangan Ranu dengan sebal. Pikirnya kesambet apa kok jadi baik, gak tahunya ada maunya.  Namanya bikin skenario bohong, pasti ada saja halangannya. Baru nulis beberapa kata, Moizha di tegur sama dua orang cowok. Ternyata mereka rombongan mahasiswa yang tadi mengajaknya demo.  Awalnya cuma say hai, malah jadi ngobrol seru dan baru berakhir waktu mahasiswa itu mau turun. Sebelum berpisah mereka sempat meminta akun IG atau sss milik Moizha. Katanya, kalau nanti ada reuni pasti dia bakal diundang.  Tadinya Moizha bingung. Reuni apa? Waktu dibisiki, dia cuma bisa ketawa. Ada-ada saja. Yakali demo ada reuninya.  Sampai mereka turun dari bus, Moizha belum juga mengetik satu kata pun. Ranu juga diam saja, gak marah atau mengingatkan. Jadi, ya Moizha santai saja. Pikirnya, alah paling gak jadi.  Namun, saat dia mengambil ponsel dan mau pesan ojek. Ranu malah bilang.  "Ngetiknya sambil jalan aja!"  Moizha melongo. Hah, Jalan? Gak salah?  Sudah pasti Moizha menolak, lagi capek disuruh jalan kaki. Rupanya Ranu lebih pintar di teleponnya pak Zainuri, sehingga terpaksa Moizha yang mengalah  "Kamu tulis garis besarnya aja. Sisanya biar aku yang ngarang."  "Berisik!" Moizha menyahut sengit.  "Omong-omong gimana kamu bisa kenal Zeon?" Ranu penasaran. Kegiatan Moizha hari ini sudah terketik rapi dalam note ponselnya, tapi sudah dua kali dia baca gak ada nama Zeon tertulis di sana.  Moizha memiringkan kepalanya. "Zeon?"  Ranu mengangguk.  "Ra-ha-si-a!"  Ranu berdecak mendengar jawaban Moizha yang seenaknya, lalu dia kembali bertanya dengan sinis. "Hmm, cadangan baru rupanya! nanti yang bule kamu kemanain?" Moizha menghentikan langkahnya sejenak. Menoleh menatap Ranu dengan dahi berkerut dan kedua tangan terlipat di d**a. "Gak usah kepo sama urusan pribadiku!"  "Cuma nanya, Moi. Salah?!"  "Salah!" Potong Moizha gemas. Melanjutkan langkahnya dengan terburu-buru sampai gak melihat lubang di pinggir jalan yang membuatnya terjerembab dan berteriak kesakitan.  "Awww!!!"  "Kaki udah dikasih mata, jalan masih gak bener!" Ranu mendecakkan lidah kemudian berjongkok memeriksa kaki Moizha. "Sakit gak?"  Pikirmu?  Sebenarnya bagian yang ditekan tadi terasa nyeri. Tapi demi menjaga harkat dan martabat diri, Moizha mengangkat dagu dan menjawab. "Gak, biasa aja!!"  "Kayaknya terkilir." Ranu menegakkan lagi punggungnya. "Diem dulu di sini. Ku telepon sopir biar dijemput."  "Gak perlu!" ketus Moizha, lalu mengayun langkah menjauh dengan tertatih. Tadi masih jauh disuruh jalan eh giliran tinggal sekedipan mata minta dijemput. Konyol!  Seraya menatap punggung Moizha yang tak menjawab meski sudah dipanggil berkali-kali, Ranu menambah seruannya. "Hoi! Kalau dipaksa jalan nanti kakimu bisa patah tuh!"  "Bodo!"  Mendengar suara yang galak tak terkira, Ranu hanya bisa mengangkat bahu. Pada akhirnya, dia cuma berjalan sambil memandang bagian belakang tubuh Moizha yang menolak bantuannya.  Lagi-lagi Moizha berhenti, tangan kirinya bersandar pada tembok sementara tangan kanannya mengurut pergelangan kaki kanannya yang semakin nyeri.  Dasar kepala batu!   Ranu yang melihat hal itu jadi gak sabar. Dengan langkah lebar dia mendekati Moizha. "Kalau jalannya kayak gini, besok kita baru sampe ke rumah!"  "Ya ampun, kamu ngapain sih?" Dengan segera Moizha berteriak ke arahnya. "Cepet turunin!"  Ranu malah membetulkan posisi tangannya yang berada dipunggung Moizha, lalu berjalan dengan seorang perempuan yang terus berontak dalam gendongannya.   "Ranu! Turunin!!!"  Moizha yang di gendong Ranu terus teriak dan berontak sekuat tenaga, tapi Ranu gak mau membiarkannya turun. Dengan kesal Moizha terus menerus memukuli lengannya. Dia baru terdiam ketika Ranu mengancam mau membungkam mulutnya...dengan mulut pria itu sendiri.  Moizha yang berada di pelukan Ranu mencuri-curi pandang ke arahnya. Begitu pria itu lengah tiba-tiba.  "Sakit bodoh!"  Moizha langsung melompat turun begitu Ranu mengendurkan pelukannya. "Makanya kalau aku bilang turunin, ya diturunin!"  Moizha melihat Ranu yang mengelus lengan kanannya. Sakit banget pasti, tadi dia gigitnya sekuat tenaga.   "Gak usah gigit juga pasti aku turunin! Emang siapa yang mau gendong kamu sampe ke dalam?"  Sampai ke dalam? Moizha menolehkan kepala ke  kanan dan ke kiri dan baru menyadari mereka sudah sampai depan rumah.  Bersamaan dengan itu, pintu kecil yang berada di samping pagar terbuka. Giarti muncul dan terkejut melihat cucunya.  "Lho kalian di sini?"  "Baru sampe." Ranu menyahut, "Nenek mau kemana?"  "Ya nunggu kalian pulang. Tadi Zainuri telepon, katanya kamu misscall dia telepon balik gak dijawab."  Mendengar nama ayahnya keluar dari mulut nenek, Moizha gak jadi masuk.  "Tadi hp di silent. Nanti kutelepon balik."  Mata Moizha membesar. Ranu mau menelepon ayahnya? Mau apa dia? Bahaya nih kalau sampai dia ngomong yang aneh-aneh.  "Telepon sekarang!" Jantung Moizha makin gak keruan mendengar perintah Giarti. "Jangan bikin orang khawatir."  "Udah gak usah, Nek. Biar aku yang nelepon."  Giarti dan cucunya menoleh, walaupun gerakan mereka bareng tapi ekspresinya berbeda. Ranu kayak menahan tawa, sementara Giarti melihatnya dengan dahi terlipat.  "Emang kamu tau nomornya?"   "Tahu lah, Nek. Aku kan bukan anak durhaka."  Giarti ketawa sambil mengibaskan tangan. "Bukan ayahmu, Moi. Ini Zainuri satpam rumah makan. Tadi dia laporan, Ranu abis misscall gak bisa dihubungi, udah gitu mobil ada diparkiran tapi gak dikunci. Orangnya dicari kemana-mana gak ada..."  Moizha melongo gak percaya. Jadi, dia bela-belain jalan kaki sampai kakinya celaka begini, karena takut diaduin sama satpam?  Moizha sesaat menatap Ranu dengan wajah kesal dan geram. Ranu hanya membalasnya dengan tersenyum dan tatapan mata 'salahnya dimana?'  Giarti tak memperhatikan situasi panas diantara mereka. Sebaliknya, wanita itu malah memperhatikan pergelangan kaki Moizha yang memerah, "lho, itu kakimu kenapa?"  Moizha tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyindir. Dia melihat kaki kanannya seraya berkata. "Oh, ini lagi sial. Tadi  lewat jalan sana,"telunjuk Moizha menunjuk asal-asalan. "Eh, tiba-tiba ada anjing, hampir aja aku kena gigit. Untung bisa kabur tapi malah jatuh."   Ranu nyaris terbatuk-batuk mendengar jawaban yang keluar dengan lancar dari mulut Moizha. Malaikat juga tahu 'anjing' yang dimaksud oleh gadis itu.  Giarti gak percaya ada anjing berkeliaran di kompleknya. Yaah bagaimana mau percaya, anjing yang ada di cluster ini rata-rata sudah punya kartu identitas masing-masing. Penasaran, wanita tua itu menarik tangan Ranu yang sudah mau pergi dan  menanyakan dimana anjing itu berada.  Dan Ranu pun menjawab,  "Guk!" *****Tbc ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN