Bab 24

804 Kata
****** " Selesai mencuci tangan dan membasuh wajah, Moizha kembali ke mejanya dan menjatuhkan diri ke kursi. Gadis itu mengaduk-aduk cream dalam Frappuccino Green Tea, meminumnya dengan gerakan kasar. Gadis itu kembali menatap passport yang tinggal sampulnya dengan sedih. Karena ayahnya pakai cara licik, hidup Moizha berubah jadi lebih buruk hanya dalam satu malam.  Suka atau gak, sekarang ini dia cuma bisa mengikuti permainan yang dibuat ayahnya sampai selesai. Moizha sih gak takut dia bakal kalah, dia sudah yakin banget sama perasaan dan keinginannya sendiri. Pesan baru masuk ke ponsel yang berada dalam genggamannya. Moizha membaca pesan dari ayahnya yang berisi data diri Ranu sambil lalu. Dilihat dari spesifikasinya sih kayaknya pria itu lumayan. Kalau tampang siapa yang tahu? Fotonya saja gak ada. Moizha menatap ke depan dengan satu tangan bertumpu di dagu, dia sudah menghabiskan sepuluh tahun hidupnya di Australia, sebelum pulang ke Indonesia sebulan lalu. Dia sedikit aneh melihat pengunjung cafe yang hampir semuanya berambut hitam, sama sebenarnya dengan warna rambutnya sendiri. Entah kenapa dia merasa asing di negaranya sendiri. Bersamaan dengan helaaan panjang napasnya, seorang pria masuk ke dalam cafe dan langsung menarik perhatian beberapa orang gadis. Moizha bisa mendengar salah satu dari gadis itu yang berkata. "Duh cakep banget sih, tapi sayang..." lalu mereka ketawa. "Kalau gue punya pacar ganteng kayak gitu, normal gak normal tetep gue kekepin jangan sampe lepas." Moizha yang penasaran ikut memutar badannya. Untung tempat duduknya strategis, dia bisa ikut menilai pria itu tanpa takut ketahuan. Ternyata memang ganteng sih, tapi bukan seleranya. Untuk ukuran orang Indonesia pria itu termasuk tinggi, mungkin sekitar 180. Selesai memesan, pria itu berbalik. Moizha langsung sibuk sama ponselnya, bertanya-tanya kenapa gak ada satupun telepon dari orang yang mau menjemputnya. Dasar nasib. Dari sekian banyaknya kursi yang kosong, pria itu malah pilih duduk di kursi yang berhadapan sama Moizha. Lumayanlah, dia bisa melanjutkan penilaiannya. Seperti generasi millenial lainnya, pria itu juga gak lepas dari ponselnya. Gak tahu, lagi chat atau nonton. Yang pasti pria itu sekarang ketawa, memamerkan giginya yang putih dan bibirnya yang merah segar. Tapi bagian wajahnya yang paling menarik menurut Moizha, ada di matanya. Kelopak mata pria itu membentuk garis lengkung indah sewaktu dia ketawa. Dan saat itulah telepon berdering, menyela penilain Moizha. Dipikirnya yang bunyi itu ponsel miliknya, ternyata punya si orang ganteng. "Udah beli cadangan nyawa lu, berani ngajak gue ketemu?!!" Duhh, suaranya juga bagus, tapi kayaknya galak. Tebak Moizha. "Mana bisa gue tenang sekarang?" Pria itu menggeram kesal. "Gara-gara kelakuan lu, gue disuruh menikah sama cewek yang gak gue kenal!" Kok nasib kami sama sih? Moizha membatin lagi. "Gue juga gak tau. Katanya sih anaknya temen bokap gue." Pria itu menyandarkan punggungnya, "iya, dulu tetanggaan. Sebelum pindah, bapaknya cewek itu jual rumah. Duitnya sebagian dikasih ke nenek buat modal buka Godong Jati..." Moizha langsung menegakkan punggungnya. Kayaknya pernah denger cerita kayak gini. Kebetulan kah? "Iya, kayaknya dia minta balas budi deh, makanya gue ditunangin sama anak ceweknya." Pria itu terdiam sebentar, mungkin lawannya lagi ngomong. "Takdir pala lo! Inget juga nggak gue sama dia, gimana mau nikah." Tanpa sadar Moizha mencondongkan tubuhnya, mau nguping. "Mana aku tau! Katanya sih dari SMP udah sekolah di Ausie, dapat beasiswa. Hmmmm... dengernya sih lulusan manajemen...ya di sana jugalah!" Astaga! Jangan-jangan dia ini...? Tubuh Moizha seketika lemas. "Itu sih gak usah lo tanya, gue aja heran...mungkin dia putus asa kali. Gak laku disana, makanya rela kesini demi dijodohin... ya iyalah! Apalagi dijodohinnya sama aku!" Moizha melihat pria itu tersenyum, memamerkan dekik kecil yang terletak di sudut kiri bagian bawah bibirnya, yang bikin gadis-gadis teriak gemas. Kecuali Moizha ya, soalnya perempuan itu sekarang berniat menendang pria itu sampai...sampai? Duhh, sampai mana kek, pokoknya di tendang! "Gak tau lah!" Kata Ranu, diam sejenak. Lalu dia melanjutkan lagi ucapannya dengan nada songong. "Bayangin mukanya kayak gimana aja aku males!" Sialan! Ini sih namanya penghinaan! Moizha melihat Pria itu mengacak-acak bagian belakang kepalanya. Sumpah! Nih orang berasa dirinya kecakepan kali, seenaknya ngomongin orang! Moizha gak bisa bersabar lagi. Gadis itu merapikan tas dan barang bawaannya, lalu berdiri. Tangan kanannya menyeret koper, tas gantungnya yang lumayan besar dia kempit diantara bahu dan ketiak kiri. Tangan kirinya memegang satu cup besar frapucino yang baru dia minum sedikit.  Diam-diam Moizha tersenyum licik. Persis saat ia melewati pria yang masih asyik menelepon itu. Tiba-tiba minuman yang dia pegang melayang, lalu meluncur pelan kebawah dan menumpahkan isinya yang lengket, persis di kepala dan badan Ranu yang terkaget-kaget mendapat serangan mendadak. "Oppss! Sorry." Moizha menutup mulut dengan tangan dan memasang tampang kaget. "Sorry?" Tanya Ranu, berusaha menjaga ekspresi mukanya tetap datar dan normal. Walaupun susah dengan cairan lengket yang menetes. Moizha mendengkus. Dia sebenarnya mau mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya yang bikin kuping pria itu ngebul kepanasan. Tapi yang keluar dari bibir mungilnya justru.  "Akhirnya kita ketemu, Ranu Mahameru." Gadis itu menyodorkan tangan kanannya. "Kenalin, aku Moizha Arimbytha." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN