Bab 25

1130 Kata
**** Yang nunggu cerita inj harap bersabar yaa, ini pasti di lanjut, tapi eike mau ubah alur sama matengin idenya. Sementara nunggu, ini eike uodate sama hal2 yang gak penting dulu, misalkan bab-bab cerita yg lain.  Maklum, buat cerita ini masih agak buntu idenya, buntuuu banget.  Maaf yaa, buat yang udah lama nunggu.  Peace, jangan ngambek. **** Yang nunggu cerita inj harap bersabar yaa, ini pasti di lanjut, tapi eike mau ubah alur sama matengin idenya. Sementara nunggu, ini eike uodate sama hal2 yang gak penting dulu, misalkan bab-bab cerita yg lain.  Maklum, buat cerita ini masih agak buntu idenya, buntuuu banget.  Maaf yaa, buat yang udah lama nunggu.  Peace, jangan ngambek. ***( Yang nunggu cerita inj harap bersabar yaa, ini pasti di lanjut, tapi eike mau ubah alur sama matengin id ******* Nanti calon suamimu yang jemput di Gambir." Eeehhhh? Moizha gak percaya saat membaca pesan yang dikirim ayahnya. Calon suami yang mana lagi coba? Shawn? Gak mungkin, dia sekarang masih dalam penerbangan ke London. Moizha jadi membayangkan, pasti menyenangkan deh kalau sekarang ini mereka sudah menikah. Moizha bisa ikut ke sana, sementara Shawn melanjutkan S2-nya, dia bisa kursus culinary art, cari kerja atau apalah yang bermanfaat dan yang penting bisa jadi duit. Moizha menyandarkan punggungnya, menutup kedua matanya sambil menarik napas dalam-dalam. Buat sementara ini, dia harus cukup hanya dengan khayalan. Gadis itu ingat lagi sama pesan dari ayahnya. Entah kenapa perasaannya mendadak jadi gak enak. Sambil menegakkan kerah jaket untuk melindungi diri dari hawa dingin. Moizha menekan nomor ayahnya.  Sekali, dua kali, sampai tiga kali dering gak diangkat. Di deringan ke enam baru terdengar suara galak Pak Zainuri. "Masih subuh, Moiii. Gak bisa tunggu besok neleponnya?"  Moizha menjauhkan ponsel dari telinga dan melihat jam. Pantes itu bapak ngomel-ngomel, masih jam tiga pagi ternyata. "emang ayah masih tidur?" "Hmmmm..." Cuma hmmmm doang? Pikir Moizha. Berasa lagi teleponan sama Nisa Sabyan. Terbesit perasaan bersalah dalam hati gadis itu, pasti ayahnya capek banget. Umurnya sudah gak muda lagi, tapi setiap hari mesti bangun jam empat subuh pergi ke pasar buat buka toko dan sekarang jatah tidurnya berkurang karena gara-gara teleponnya. "Ya udah deh, kalau gitu ntar a..."  "Ya! Ya! Jabret...jabret! GOLLL!!!" Teriakan keras itu menggaung sampai gendang telinganya terasa pengang. Moizha mengunci pandangannya ke layar ponsel dengan tatapan sewot. Pasti ayahnya sekarang lagi joget-joget gak jelas sama bapak-bapak lainnya yang pasang taruhan di tim yang sama. Rugi banget tadi dia sempat punya perasaan bersalah! "Itu calon suami maksud ayah apa?!!" Akhirnya Moizha berteriak melalui earphone-nya. "Sebentar." Terdengar ayahnya berjalan sebelum kembali menjawab. "Namanya Ranu, Moi. Cucu nenek Giarti. Gak mungkin kamu gak kenal. Kami, maksudnya ayah sama nenekmya sepakat buat jodohin kalian berdua. Demi masa depan." Moizha mendelik. Apa-apaan sih ayahnya ini? Pria yang dia pacari hampir tiga tahun diusir, eh tiba-tiba kasih calon suami. dari antah berantah. Gak jelas! "Moi gak mau!" "Denger ya, Moizha." Pak Zainuri mulai membujuk. "Seperti Adam yang diuji sama Tuhan dengan kehadiran Hawa. Ayah mau melakukannya ke kamu lewat Ranu, dia gak kalah cakep kok sama londo prengus yang kemaren kamu bawa." Moizha celangap. Saking marahnya dia mematikan teleponnya tanpa berkata apa-apa. Setelahnya gadis itu menempelkan kepalanya pada kaca, melihat kegelapan diluar dari balik jendela. Moizha menggeleng-gelengkan kepala. Gak percaya kalau dia bisa setolol itu sampai masuk ke jebakan betmen yang dibuat oleh ayahnya. Tiba-tiba dia menggumamkan nama pria yang mau dijodohkan sama dirinya. "Ranu...Ranu." Ya Tuhan! Kenapa harus sama dia? Oke! Dia nggak boleh cuma diam dan pasrah saja! Moizha menganggap ini permainan adu strategi sama bapak-bapak egois itu. Bertekad gak mau kalah, Moizha mulai memikirkan langkah yang harus dia ambil. Gadis itu mengetuk-ketukkan jari di keningnya, lalu meraih ponselnya lagi. Pertama, dia harus mengecek jarak antara stasiun Gambir dan Bandara. Ternyata lumayan lah, gak terlalu jauh. Setelah tahu harus naik apa ke sana. Moizha langsung membuka aplikasi tiket online buat lihat jadwal sekaligus tempat duduk yang masih bisa dipesan untuk penerbangan ke Melbourne yang jamnya paling cepat. Setengah jam kemudian, Moizha menyunggingkan senyum puas. Gak bakal menang deh kalau ayahnya mau adu otak sama dia. Sembari menunggu keretanya berhenti di Gambir, Moizha mengambil tas kecil tempat passport dan dokumen penting lainnya. Begitu turun nanti, dia harus cari travel agent buat issued tiket. Setelah itu, bye Indonesia. Lima tahun lagi dia sama Shawn yang sudah jadi suaminya, akan pulang. Nengok ayah dan adiknya, sekaligus bawain oleh-oleh satu atau dua orang cucu blasteran yang lucu. Kalau sudah begitu, masa iya dia masih gak dapat restu? Moizha menimang passport-nya dengan kedua alis yang bertaut. Kenapa agak tebal ya? Ketika passport itu dia buka, bola matanya yang bulat indah nyaris melompat keluar dari rongganya. My Goodness!!! Kenapa bagian dalam passport-nya berubah jadi buku iqra??? **** Ranu mengusap-usap wajahnya dengan kesal. Jam lima subuh, di hari liburnya yang berharga dia sudah memarkirkan SUV-nya di parkiran mobil stasiun Gambir untuk memenuhi permintaan neneknya. Ranu memandangi jam tangannya. Walaupun baru sepuluh menit berada di sini, dia sudah merasakan penyesalan yang menembus sampai ke tulang DNA-nya. Sekarang disuruh jemput dia turuti, besok suruh antar jalan-jalan! Besoknya antar belanja, besoknya lagi disuruh temani perempuan itu makan. Satu tanda bahaya berkedip dalam otak pria itu. Nanti lama kelamaan nanti, bisa- bisa dia digiring buat mengucapkan ijab depan bapaknya perempuan itu. Sebelum hal itu kejadian, mending dia diusir duluan. Pintu kedatangan yang dituju Ranu terbuka. Terlihat segerombolan orang yang membawa tas bepergian keluar dari pintu tersebut. Pria itu menghampiri petugas yang berjaga, menanyakan kedatangan kereta dari Surabaya. Dia telat, kereta dari Surabaya sudah sampai sejak setengah jam yang lalu. Dengan kacamata bertengger diatas kepala, Ranu berdiri dibelakang besi pembatas. Diam-diam melihat dan menilai wajah beberapa perempuan muda yang ada di sana, yang dia cari itu perempuan yang pastinya pasang tampang kebingungan. Ranu gak tahu bagaimana wajah Moizha sekarang, jadi dia tebak-tebak saja pakai instingnya, tapi gak gampang. Mungkin karena instingnya sudah kelamaan gak diasah, jadinya tumpul. Diantara banyaknya orang yang ada di sini, Ranu benaran gak bisa nebak mana salah satu diantara mereka yang namanya Moizha. Haishh! Nyusahin banget! Ranu merutuk.  Salahnya sendiri, kemarin waktu ayahnya mengirim foto Moizha ke ponselnya, dia cuma lihat sekilas terus langsung dia dihapus. Bakal diamuk nanti kalau dia minta dikirimi foto itu lagi. Ranu mangacak-acak rambutnya kesal. Ketika berjalan, dia melihat seorang perempuan usia pertengahan dua puluh yang lagi celingak celinguk sendirian. Tebakannya cewek itu pasti Moizha. Dia lalu mendekati, mendadak ada orang lain yang menghampiri dan membawa perempuan itu pergi. Huh! Ternyata bukan. Moizha Arimbytha, sebenarnya orangnya kayak gimana sih? Ranu memutar-mutar kepalanya dengan maksud melemaskan lehernya yang teras kaku. Saat itu, dia melihat gerai kopi terkenal yang buka 24 jam. Karena butuh asupan kafein yang belum dia konsumsi sejak bangun tidur tadi, Ranu memutuskan berbelok ke sana. Bodo amatlah sama perempuan itu. Kalau belum ketemu sama yang jemput, nanti dia juga telepon. **** ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN