Bab 26

1563 Kata
"Buat surat tender proyek perbaikan jalan desa dan provinsi. E-mail ke saya, cc ke Pak Rusdi, juga ke direktur bidang konstruksi, selanjutnya biar mereka yang tangani proyek ini!" Alarik mengangkat alisnya dengan takjub dan membuat catatan di tab-nya. "Bos memang hebat, berangkat umtuk lihat tanah, pulang malah bawa proyek bernilai milyaran." "Kamu yang lebih hebat. Perusahaan dapat proyek ini berkat jasamu yang cukup besar. Akhir bulan ini, kamu dapat bonus tambahan sebesar 10% dari gaji pokok." Alarik merasa bingung dengan bosnya yang tiba-tiba jadi murah hati. Siang tadi, Alarik dan pak Rusdi, direktur pengembang properti, ditambah kepala desa yang merangkap jabatan sebagai calo tanah, mengikuti bosnya melihat sebidang tanah. Rencananya di tanah itu akan dibangun villa dan pemandian air panas ala Jepang. Ternyata tanah itu masih berupa hutan cemara yang luas dengan infrastruktur yang tak memadai. Jalanan utamanya hanya selebar dua kendaraan, dengan gundukan dan lubang yang cukup untuk berendam seekor kerbau ditambah dengan tanjakan, turunan serta tikungan tajam. Tidak seperti biasanya, Alarik KO dalam perjalanan pulang, dia mabuk darat dan menumpahkan isi perutnya dalam Range Rover Velar yang harganya lebih dari 2 milyar. Gara-gara dia semua orang sibuk, perjalanan tertunda setengah jam. Bosnya tidak berkata apa-apa. Dia menunggu di luar saat sopir membersihkan muntahan asistennya sambil menelepon ke direktur keuangan untuk membeli mobil baru. Pada titik ini Alarik benar-benar kehilangan sosok tampan dan berkelasnya. Pada saat dia berpikir perjalanan tadi adalah momen terakhir dalam kariernya sebagai asisten, bos besar malah memberinya bonus gaji 10%. Kali ini Alarik percaya, keajaiban itu ternyata benar-benar ada. Di jalan, saat mereka terus melaju,  Alarik melihat Ghamaliel dari sudut matanya. Mereka baru saja menempuh perjalanan yang medannya 11-12 dengan wahana halilintar di dunia fantasi. Namun, pria itu, terlihat seolah dia baru keluar dari pekan mode di Paris saat dia mendiskusikan sesuatu lewat ponsel-nya dengan sikapnya yang terlihat angkuh.  "Kalian berdua hebat," Alarik mulai bersuara, "nggak ada yang mabuk sama sekali lewat jalan tadi." "Itu sih..." ucapan pak Rusdi dipotong Ghamaliel. "Karena kami nggak minum larutan soda kue sebelum berangkat." Larutan soda kue? Alarik bertanya-tanya maksud ucapan Ghamaliel, tapi tak ada jawaban. Bosnya malah menjawab panggilan telepon, bertanya ke pak Rusdi juga percuma, sepertinya dia tidak tahu apa-apa. Kenapa dia tidak tanya ke Google? Pasti google tahu jawabannya. Merasa tercerahkan, pria itu tersenyum, matanya berbinar ketika menulis kata kunci di tab-nya. Dia membuka web Alo dokter untuk melihat hasil pencarian. Hatinya langsung loncat ke tenggorokan ketika membaca. ...efek samping paling parah adalah muntah-muntah hebat, kejang, gangguan pada saraf dan otak, perburukan pada penyakit ginjal atau jantung, gangguan pada elektrolit seperti... Sudut mulut Alarik berkedut. Dia teringat air minum dari Ghamaliel. Harusnya air merk itu ada manis-manisnya, tapi yang dia minum tadi sedikit pahit. Kemudian otak cerdasnya menghubungkan ucapan pria itu dan jawaban dari Google barusan. Alarik terdiam sesaat, lalu bertanya. "Bos, minuman yang tadi aman kan ya?" "Kamu pikir aku segampang itu dapat tender proyek ini kalau minuman itu aman?" Sahut Ghamaliel dengan wajah masam. "Kepala desa tadi benar-benar licik. Dia menjual hutan ke kita, tapi memberikan proyek perbaikan jalan dan pengelolaannya ke perusahaan lain. Mereka berdua untung berkali-kali lipat. Kita? Sepuluh tahun kedepan belum tentu balik modal!" "Kok tiba-tiba dia bisa berubah pikiran?  Bapak deal pakai apa" Kata pak Rusdi, dia melihat Ghamaliel dari spion atas. "Pakai penderitaan orang," Ghamaliel mendengus bangga, '"aku berniat menuntutnya kalau Alarik dalam bahaya karena muntah hebat di sepanjang jalan tadi. Tenyata selain licik orang itu juga bodoh, dia setuju begitu saja menyerahkan proyek itu ke kita, dengan syarat tak ada tuntutan ke dia karena kondisi Alarik, selain itu dia minta 50% fee-nya dibayar di muka. Ternyata segampang itu." Ghamaliel tertawa senang, lalu berkata. "Ide menambah minuman dengan soda kue itu benar-benar luar biasa. Aku benar-benar pintar." Alarik hampir muntah darah mendengarnya. Akhirnya terjawab sudah apa jasa besarnya buat perusahaan. Betapa tidak berperasaan bosnya ini, menjadikan penderitaan asisten yang setia, pintar, rajin, dan bisa diandalkan seperti dirinya sebagai tumbal untuk mendapatkan kekayaan duniawi. "Lalu hutannya, jadi dibeli?" "Buat apa buang-buang duit buat beli hutan? Itu cuma buat alibi. Dari awal yang aku incar ya proyek ini." Ghamaliel mengangkat alisnya dan mendengus sembarangan. "Pak Rusdi, awasi terus kepala desa sampai penandatangan kontrak. Orang itu sangat licik kita harus hati-hati!" Dia yang licik, tapi ngatain orang lain licik. Dasar manusia licik yang nggak punya kaca! Alarik marah-marah. Namun, karena Ghamaliel itu bosnya, dia hanya bisa melakukannya dalam hati. "Bos kenapa nggak ngomong kalau mau menggertak kepala desa? Kalau ngomong kan, aku bisa bantu dengan berakting pura-pura mabuk darat sampai pingsan, atau pura-pura kesurupan juga bisa." "Nggak akan berhasil. Aktingmu jelek!" "Tapi mending itu daripada ngasih minuman beracun ke orang!" Alarik mendapati dirinya kesulitan untuk tetap tenang saat itu. Dia memiringkan badannya melihat ke belakang, matanya menunjukkan jejak kemarahan. "Memangnya bapak nggak baca efek samping kebanyakan mengkonsumsi soda kue? Gagal jantung, pak! Saya bisa mati!!" "Buktinya, sampai detik ini kamu masih hidup, dan gajimu nambah 10% bulan ini. Bukankah itu bagus?" Alarik berpikir menghantamkan kepalanya pada sesuatu setelah mendengar itu. 10%? Artinya 1.500.000. Fucek! Nyawanya yang berharga ini cuma dihargai 1.5 juta, lebih murah dari Red Hi-Top Trainers-nya game PUBG yang mencapai 3 juta. Fucek! Fucek! Fucek!  Ghamaliel nampaknya mendengar jeritan batin Alarik dia berkata, "nggak usah pasang tampang suram! Beresin surat-suratnya hari ini, besok kamu boleh libur!" Libur? Sampai di titik ini kemarahan Alarik mereda. Kapan terakhir dia rebahan di hari kerja? Sepertinya sudah berabad-abad yang lalu. Suasana hati Alarik berubah dengan cepat karena satu kata, 'libur'. Dia mengeluarkan ponsel pribadinya. Ada puluhan pemberitahuan yang belum dibuka, tapi yang menarik perhatiannya Whatsapps, ada 75 pesan di sana. Wow! Alarik tidak bisa tidak merasa takjub. Dengan segelintir orang yang tahu nomor pribadinya, 75 pesan itu termasuk banyak. Alarik menyesal begitu mengklik layar ponselnya. Harusnya dia bisa menebak, siapa lagi yang suka spam pesan selain nenek-nenek yang posesif dengan cucunya. Isi pesannya sama, mungkin hasil copy paste. Enggan terlibat masalah, Alarik mengabaikan pesan tersebut dan membuka status. Ada satu yang membuatnya tertarik, foto imut dengan tulisan. "Otw Bogor."  Ngapain bocah ini ke Bogor? Sudah lama dia tak bertemu kondom bocor, dan sekarang mereka berada di kota yang sama. Tak ada salahnya dia mengajaknya nongkrong atau makan. Alarik mengetik pesan dengan riang gembira. Dia membaca ulang pesannya sebelum di kirim, ponselnya tiba-tiba bergetar. Foto nenek tua yang berpose seakan mau memukul menggunakan stik golf, memenuhi layar. Nenek ini menganggunya pada saat yang tidak tepat. Dia menolak panggilan dan teleponnya berbunyi lagi, Alarik kembali menolaknya, sebagai gantinya dia mendapat pesan. "Anak kurang ajar! Berani kamu ya matiin telepon! Suruh cucu durhaka itu meneleponku!!" Alarik merasa hampir gila karena nenek-nenek posesif ini. Apa susahnya sih menelepon sendiri? Handphone punya, pulsa unlimited, nomor cucunya juga ada. Kenapa aku yang selalu di kejar-kejar? Dia lalu berbalik untuk memberitahu si cucu durhaka. "Bos nenekmu minta ditelepon." "Nenek yang mana?" Pria itu menjawab datar. Mendengar pertanyaan ini, dia menjawab dalam hati. Nenek yang mana lagi? Nggak mungkin itu nenekku. Nenekku nggak pernah bikin gila cucunya, nenekku nggak pernah spam wa  ke cucunya. Yang penting, nenekku jarang pegang smartphone! "Sutedja." "Aku sibuk!" Alarik pun berkata dengan tak berdaya, "Bos, walaupun nggak minta, aku maafin masalah soda tadi, oke? Tapi plis, tolong aku dengan menelepon nenek, sebentaaar aja, atau jawab wa-nya. Kalau nggak, nenekmu itu pasti menerorku terus menerus." Ghamaliel mendengus, tidak peduli sedikitpun, "yang penting bukan aku yang diterornya. Alarik mau menangis dan hanya bisa menatap horor ponselnya yang kembali berdering. "Bos..." "Angkat! Dan bilang aku sibuk. Apa susahnya?!" Kata Ghamaliel. Sambil memerintah dia mengambil ponselnya dan mengirim beberapa pesan. Fixed! Dia akan menulis surat pengunduran dirinya hari ini! Merasa lelah Alarik, menyandarkan kepalanya. Nenek tua Sutedja memang paling jago kalau urusan teror meneror. pemberitahuan WA dan ponselnya berbunyi silih berganti, dan tak berhenti meskipun dia sudah menjawabnya. Di dalam hatinya, Alarik terus meratap. Dia mengutuk mereka, mengutuk nenek dan cucu keluarga Sutedja. Kenapa mereka berdua, tanpa alasan yang jelas selalu punya cara untuk menyusahkannya? Pak Rusdi merasa suhu dalam mobil menurun drastis. Dia melirik Alarik, dan bisa merasakan penderitaan pemuda itu. Tidak mudah memang jadi asisten bos besar, dan hanya bisa bersimpati untuknya. Ketika mobil mendekati persimpangan yang mau masuk ke jalan tol, Ghamaliel meminta pak Rusdi berbelok. "Balik ke Savero, Pak!" Savero? Ketika ia menyebut Savero, Alarik bersemangat. Ternyata dalam diri bosnya masih tersisa hati walaupun sedikit. "Bosqu, nenekmu sudah ada di sana. Kalian bisa datang bareng ke acara pembukaan mall barunya." Ghamaliel sedikit mengernyit. "Siapa yang bilang aku datang ke sana?" Alarik benar-benar terdiam, "Jadi ke Savero?" "Ada mahasiswi ku yang bimbingan skripsi." "Hah?" Sekarang dia terkejut. Alarik melihat Ghamaliel dengan tidak percaya, "Jadi dosen pembimbing? Are you Serious, bosqu?" Tak ada tanggapan dari Ghamaliel. Alarik bertepuk tangan, "luar biasa!Pasti bayarannya gede, sampai orang yang sibuk sampai nggak punya waktu buat neneknya, menyempatkan diri jadi dosen pembimbing. Kali ini, saham yang mana? Berapa persen?" "Tanya sendiri pada pria tua yang tinggal dirumahmu, yang kamu panggil ayah itu!" Ghamaliel menjawab dengan ekspresi datar. Alarik mengangkat bahu. "Bosqu, jangan lupa kenyataan, kalau kamu juga salah satu hasil dari sel s****a pria tua itu. Yang pertama dan terbaik. Benarkan, bos? Atau aku panggil Abang? Kedengaran lebih akrab." Ekspresi Ghamaliel menjadi suram, "jangan panggil aku abang selama otak dalam kepalamu masih dibawah standar!" Alarik meringis. Selain tak punya hati, pria ini juga bermulut jahat. Tiba-tiba dia merasa kasihan dengan mahasiswi yang mendapatkan orang semena-semena ini sebagai dosen pembimbing? Siapa orang sial yang malang itu? *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN