Bab 16

1226 Kata
**** Katanya tukang servis printer masih di basement dan sedang dalam perjalanan ke sini. Berarti sebentar lagi dong, dari pada bolak balik, ya sudah mereka menunggu di sana. Dari lima menit, jadi sepuluh menit.  Terakhir Ranu bilang, "dua puluh menit lagi orangnya datang."  Itu orang lantai basement-nya ada di Chum Bucket kali ya? Ke lantai lima saja kok lama benar.  Moizha merasa gerah. Diliriknya Zeon yang masih belum terima kalau dia ini tunangan Ranu. Sama, Moizha juga belum bisa terima kalau dua pria itu ternyata masih sepupuan. Beda sifat soalnya.  Zeon yang duduk berhadapan dengan Moizha menyuruh gadis itu berdiri. "Sebentar aja, enggak lama kok."  Moizha manut. "Begini?" tanyanya sembari meluruskan roknya yang agak kusut.  "Sekarang mundur empat langkah."  Moizha mengikuti permintaan Zeon dengan tampang bingung campur malu. "Mau ngapain sih?"  "Cantiknya kelewatan makanya ku suruh mundur."  Tawa Moizha berderai.  "Gak keliatan kayak cewek putus asa yang rela datang ke sini buat di jodohin. Kayak yang kemarin dibilang sama bang Ranu."  Moizha langsung mendelik sewot kepada Ranu yang kelihatan sibuk depan komputernya. Sebentar-sebentar wajahnya mengerut, sebentar lagi senang, sedetik kemudian kelihatan kesal.  "Yang ngomong gitu pasti lidahnya ditusuk besi panas pas di neraka nanti." Sahut Moizha  Ranu mengangkat kepala. Dipandangnya Zeon dengan rupa kesal. Pria itu berdehem-dehem, tiba-tiba.  Jegrek!  Dari printer keluar dua lembar kertas. Moizha dan Zeon saling pandang.Lalu gadis itu menatap Ranu dengan mata yang disipitkan, "ini bisa, mau bohong ya?"  Zeon mendekat dan mengambil alih mouse komputer lalu terdengar suaranya yang sengau ber hm-hm. Karena mau tahu, Moizha melangkah ke belakang meja, ikut melongok ke dalam komputer. Wajahnya pelan-pelan berubah kesal.  "Jadi dari tadi kita nungguin kamu main Game of Sulthan, Nu?"  Moizha masih menatap Ranu yang kelabakan tak bisa menjawab. "Kalau aku kasin tau ini ke nenek, wah, beliau pasti senang cucunya kepengen punya istri banyak. Yah walau cuma digame."  Ranu kedengaran menggertakkan gigi. "Gak usah ngadu-ngadu. Ini cuma bagian dari test kerja, duduk sana mau ku mulai interviewnya."  Wawancaranya ternyata tidak berlangsung lama, hanya sepuluh menit kalau tak salah. Kata Ranu dia sudah lolos tes tahap awal. Mulanya Moizha bingung tes yang mana. Ketika Ranu memberitahu tes apa, dia cuma bisa melongo. Masa printer rusak dan nunggu orang main game itu termasuk tes. Tes kesabaran katanya, salah satu point penting yang harus dimiliki seorang waitress.  Dari kepingin marah, Moizha jadi merasa geli. Aneh-aneh saja tes kerja di negara bekas jajahan Belanda.  Selesai menandatangani surat kontrak yang masa berlakunya hanya sebulan. Ranu mengulurkan buku masakan tradisional Indonesia yang dia ambil dari lemari di belakangnya.  "Kamu baca nih, supaya bisa bedain ayam bakar madu sama ayam bakar kecap." perintahnya.  Moizha memandang tiga buah buku yang sudah berpindah ke tangannya. Malas banget bawa buku setebal dosa kemana-mana. "Di Google gak ada?"  "Gak ada, ini buku warisan." Sahutnya seraya menggiring Moizha keluar dan menyuruhnya cepat pulang takut nanti keburu turun hujan.  Sementara Zeon, dia malah disuruh Ranu buat periksa surat perjanjian kerjasama dengan salah satu vendor. Ditolak pun percuma, dia pakai jurus telepon atasannya Zeon. Katanya, "urgent harus hari ini!"   Dari sinilah Moizha mulai mencium aroma-aroma busuk. Sepertinya Ranu sengaja supaya dia tidak bisa pergi sama sepupunya. Tapi kenapa?  Moizha merasa lambungnya melilit minta jatah buat digiling dia melihat jam ditangannya, sudah hampir jam tiga. Dari pagi tadi dia cuma makan roti itu juga hanya sepotong. Dia teringat restaurant Jepang yang tadi dibilang Zeon, jadi dia langsung turun ke lantai satu.  Sesampainya di sana dia hanya bisa merengut kecewa. Menu hari ini, semuanya khusus couple. Dan pejuang LDR macam dirinya bisa apa?  Tiba-tiba ia kaget ketika bahunya disentuh, dan sebuah tangan dilihatnya terjulur menjangkau buku menu di meja depan pintu.  "Kalau gak keberatan, kita bisa makan bareng."  Terdengar suara berat dan dalam. Moizha langsung berbalik dan melihat laki-laki dengan celana jeans dan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku seperti tadi pagi. Bedanya, sekarang di pinggang pria itu melingkar sebuah apron warna hitam.  Rayyan.  "Nanti aku kasih tau info tentang Ranu. Kami dekat lho,"  Bilang saja mau nyingkirin saingan, sorry yee aku gak tertarik sama cowokmu. Sahut Moizha dalam hati.  Kemudian pria itu mengangkat plastik bening di tangannya. "Tapi kuantar ini dulu buat dia. Tau sendiri kan orang kalau sibuk suka lupa makan."  Moizha menarik lehernya ke belakang sambil menatap Rayyan dengan menyesal. Menyesal karena orang seganteng ini sukanya yang sama-sama ganteng. Padahal kalau dia normal pasti banyak rela telentang gratis.  "Lain kali aja deh," Moizha menepuk lengan pria, "aku tahu kalian menjalin hubungan yang sulit. Kamu harus lebih percaya lagi sama Ranu." Lalu dia melangkah ke pintu dan pergi.  Rayyan termenung, mengerutkan kening, tak habis pikir apa maksudnya.  Memang hubungan siapa yang sulit sih?  **** "Ambil aja kembaliannya, pak." Kemudian, Moizha keluar dari mobil sambil menenteng buku. Rumah kelihatan sepi. Dibukanya pintu yang tidak  Diketuknya pintu, si bibi yang muncul.  "Kok sepi-sepi aja, Bi? Kemana nenek sama tante Wid?"  "Ibu nyusul bapak tadi, mau kondangan katanya. Kalau bu Giarti hari ini ke panti jompo ketemu teman-temannya. Masuk, mbak."  Moizha asal menaruh sepatunya di rak depan, dilemparkannya buku yang ia bawa ke atas sofa. Moizha belum lama tergolek malas ketika dia merasakan ponselnya bergetar.  "Moizha," Ranu memanggil di ujung telepon. "Udah sampai mana?"  "Di rumah, kenapa?"  "Ohh, kirain ngeluyur dulu. Soalnya yang kamu bawa itu buku langka. Awas aja kalau sampe ilang!"  Telepon langsung ditutup tanpa ucapan salam. Moizha memiringkan kepala dan menatap ponselnya sambil bergumam, "orang yang aneh."   Tiba-tiba perutnya kembali terasa lapar. Sekali entak dia berdiri ketika mau ke dapur, didengarnya suara bibi yang menjawab telepon.    "Mbak Moizha? iya baru sampe, mas."  Moizha berhenti sejenak menguping. Rupanya Ranu tak percaya dia bilang sudah sampai rumah. Itu buku selangka apa sih?  Moizha membuka kulkas dan mengambil sekotak yoghurt dingin untuk mengganjal perutnya. Tidak kedengaran bunyi apa pun kecuali air dalam galon. Tak lama kemudian, datang bibi dari depan.  "Tadi Ranu bi yang nelepon?"  "Iya mbak. Nanyain mbak Moi pulang jam berapa. Sama ini, tumben-tumbenan mas Nu nanya masak apa. Ya bibi jawab gak masak, lha wong gak ada orang."sahutnya dalam sekali tarikan napas. "Mbak Moi udah makan?"  Moizha menunjuk kotak yoghurt yang sudah ia minum setengah. "Ini lagi makan."  "Walah, pantesan bule-bule pada kaya ya mbak. Makannya cuma s**u lima ribu wes wareg. Tambah sugih nanti mas Nu kalau nikah sama  mbak Moizha. Enggak usah beli beras, lauk, cabe. Wes hemat lah pokoknya!"  Dibilang begitu Moizha memamerkan gigi putihnya dan terbahak-bahak. Bayi kali minum s**u sudah kenyang. Si bibi hanya ber O, oalah dan gitu ya, sewaktu Moizha memberitahu kalau di luar negeri juga ada makanan pokok lain kayak beras.  "Terus mbak Moi sama mas Nu kapan nikahnya?"  Kepo banget sih nih ART, gerutu Moizha. Dia baru mau pamit ketika ucapan wanita paruh baya itu membuatnya kembali terduduk. "Jangan lama-lama mbak, takutnya kalau kelamaan malah batal. Kasian mas Nu masa gagal lagi nikah sama perempuan."  "Emang dia pernah gagal nikah, Bi? Kapan?"  "Udah lama mbak."  Semakin pelan omongan si bibi, semakin kepo Moizha. "Gara-garanya kenapa?"  Si bibi menumpukan kedua tangannya ke atas meja lalu mencondongkan badannya lebih dekat ke Moizha. "Gak ada yang tau kenapa, soalnya mas Nu diem. Bu Wida dari yang nanyain setiap hari sampe capek sendiri."  "Bibi pernah liat calonnya?"  Si bibi mengangguk. Moizha semakin semangat buat mengorek lebih dalam. Syukur-syukur kalau tahu nama dan alamatnya, tinggal kontak, ketemuin mereka secara tak sengaja, terus mereka balikan deh. Kayak di ftv-ftv gitu, tenang deh hidupnya. "Namanya siapa? Cantik gak?"  "Cantik banget, tinggi. Cocok lah sama mas Nu, namanya...sek tak inget-inget dulu."  Hidung Moizha kembang kempis penuh harap. Tangannya sudah standby di kolom pencarian IG, mendadak bel rumah berbunyi nyaring. ART kesayangan nek Giarti buru-buru berdiri, lima menit kemudian dia kembali dengan membawa bungkusan plastik yang ia letakkan depan Moizha.  "Siapa yang ngasih?"  Moizha membuka bungkusan itu dan membaca memo yang ditempel di atas mika.  Kata Rayyan tadi kamu mau makan ini!  6/
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN