Bab 15

1350 Kata
*** Sejak kepulangan Natasha. Ranu butuh sebuah tameng untuk menolak perempuan itu masuk lagi ke dalam hidupnya. Berita dirinya seorang gay sudah pasti tak mempan.  Apalagi mantannya itu sudah kenal Rayyan lama. Selain itu dia jeli dan tidak mudah dibohongi seperti Moizha.  Jadi satu-satunya jalan ya memanfaatkan keberadaan Moizha. Sekalian mengumumkan dia sudah ada yang punya. Dengan begitu, gosip gay-nya hilang, Natasha juga akan mundur dengan sendirinya.  Ini sama saja dengan mengusir tiga burung dengan satu batu.  Burung ketiganya Moizha. Perempuan itu paling mudah diurus, panggil saja tunangannya yang bule itu ke sini. Beres!  Pintu lift terbuka. Moizha mendahului masuk karena masih kesal, dia menekan tombol closed. Ranu nyaris terjepit pintu lift yang hampir tertutup.  Ranu memandang Moizha dengan aneh. Bukannya meladeni Moizha yang sudah mengepalkan tangannya, Ranu malah bertanya, "lantai berapa?"  "Lima!" untuk menegaskan Moizha mengacungkan kelima jarinya.  Ranu menekan tombol angka lima dan tidak menekan tombol lainnya. Menyadari hal itu Moizha bergumam, "dasar penguntit!"  Moizha tidak bisa bersabar lagi. Begitu pintu lift tertutup, dia langsung berkacak pinggang sambil memandang Ranu. Yang membuatnya semakin marah adalah Ranu bukannya minta maaf, malah berdiri di depannya dan mengamati situasi dengan ekspresi senang setengah mati.  "Heh, sinting! Pikir dulu dong sebelum cari sensasi!" Akhirnya kemarahan Moizha tersembur keluar.  "Sensasi apa?"  "Ciuman tadi!" Moizha langsung meninggikan suaranya, "gimana kalau ada yang rekam terus di sebar kemana-mana?"  Dahi Ranu mengeriput, ingatannya kembali ke kejadian sebelumnya.   "Maju lagi selangkah, aku gak akan segan-segan!" Moizha mengancam.  "Seperti apa?" Ranu menunduk, mendekatkan wajahnya. Bola matanya menatap Moizha lekat-lekat. Senyumnya tidak berdosa, tapi juga agak kurang ajar.  Tiba-tiba pandangan Moizha gelap. Dahi mereka saling bersentuhan, bibir yang lembut pelan-pelan menempel dibibirnya. Membuatnya terkejut.  "Jangan main-main, Nu!" Geramnya. Lalu, digigitnya bibir Ranu kuat-kuat.  "Sakit bodoh!" mata Ranu terlihat kesal, lalu memegang wajah Moizha dengan kedua tangannya, tapi Moizha malah memperkuat gigitannya.  Dari kacamata orang lain terlihat seorang pria yang memegang wajah si gadis dengan kedua tangannya, bibir mereka bertemu saling mengulum dengan mesra. Padahaaaal yang di rasa Ranu, bibirnya seperti dikoyak-koyak.  Sakit!  "Oh, itu ciuman ya? kok rasanya kayak digigit anjing."  Dug!  Ucapan Ranu langsung di balas Moizha dengan satu tendangan keras pada tulang keringnya. Pria itu menekuk kaki kanannya dengan ekspresi menahan sakit.  Brengsek!  Baru berduaan beberapa jam sudah dua kali dia dapat kekerasan dari Moizha. Tadi digigit,dan barusan ditendang. Ah iya, tiga kali kalau ditambah hampir terjepit pintu lift.  Ranu mendongak, melihat ke setiap sudut lift mencari kamera cctv. Sebelum pulang nanti mau dia minta rekamannya ke pengelola gedung, dan kasih ke neneknya. Supaya beliau tahu bagaimana tabiat asli perempuan yang mau dijodohkan ke cucunya.  Tanpa disadarinya, Ranu menghela napas panjang.  "Kenapa menghela napas? sakit ya sakit? aku masih ada jurus tendangan lain nih, mau coba?"  "Coba diperiksa, kamu itu keturunan orang atau apa? Liarnya kok kayak kuda sumbawa, suka nendang-nendang!"  Bersamaan dengan suara ting, lift berhenti dan Moizha pun urung menghadiahkan tendangan tanpa bayangannya ke Ranu.  Zeon yang baru selesai menemui kliennya melangkah masuk ke dalam lift. Dia menghentikan langkahnya sejenak kemudian menatap Ranu dan Moizha dengan senyum cerah mengembang di bibirnya.  "Gue baru mau ke tempat lo,"  Ranu melirik Moizha, wajahnya langsung berubah cerah saat melihat Zeon. Refleks, Ranu menggeser tubuhnya menutupi gadis itu, dan saat bicara tangannya merangkul bahu Zeon supaya dia tidak berinteraksi dengan Moizha.  "Mau nanyain lowongan buat temen lo kemarin?"  "Bisa bantu kan? Buat sementara aja."  "Sebelum gue jawab, selain ijazahnya keluaran luar negeri. Kira-kira dia punya keahlian lain gak?"  "Keahlian lain tuh maksud lo kayak gimana, Bang. Pijet?"  Ranu memukul kepala sepupunya, "makanya jangan ikutin bos lo ke pijet plus-plus terus. Korslet kan otak!"   "Ya, lo yang aneh! Ngelamar jadi waitress aja pake nanya keahlian, yang penting kan putih, cakep, punya kaki buat jalan!"  "Kucing peliharaan ibu mu juga putih, cakep, punya kaki juga buat jalan. Empat malah kakinya. Kenapa bukan mereka aja yang lo suruh kerja di tempat gue!"  Zeon ketawa, Moizha hanya mendengarkan dari tempatnya berdiri. Mau ikut nimbrung, tapi nanti dikira suka ikut campur.  Setelah tawanya mereda Zeon kembali mengajukan pertanyaannya tadi. Ranu menjawabnya dengan gelengan kepala.  "Sorry, Ze. Karyawan di restaurant udah banyak. Tapi kalau temen lo mau ditempati di luar kota sih...,"  "Gak usah lah, kasihan. Dia di sini juga belum lama." Zeon menolak tawaran Ranu.  Ranu memperhatikan Zeon dan melirik ke arah Moizha bergantian. Tidak usah jadi dukun, punya indra ke enam atau ijazah cumlaude untuk mengetahui kalau teman yang dimaksud Zeon itu Moizha.  Runut saja kejadiannya dari awal. Dari mulai pertemuan mereka, Zeon yang menelepon karena butuh pekerjaan buat temannya. Kedatangan Moizha ke sini lah yang memperjelas semua.  Jangan dikira alasan Ranu menolak karena cemburu, bukan sama sekali. Dia hanya membantu supaya Moizha tidak punya hutang budi sama Zeon.  Hutang budi yang pasti akan dijadikan modus oleh Zeon untuk mendekati perempuan itu. Prinsipnya, lebih baik mencegah sebelum digerecoki.   Zeon menggigit pipi bagian dalamnya  berpikir, sesekali dia mencuri pandang ke arah Moizha yang melihatnya dengan tatapan, 'yang kalian maksud itu aku?', Zeon hanya menjawab tenang, dengan menggerakkan mulutnya.  Setelah terdiam lama Zeon tiba-tiba menjentikkan jarinya. "Ah, Rayyan! Pasti di tempat dia bisa."  "Jangan kalau di tempat Rayyan!"  Zeon yang sudah mengambil ponselnya menoleh ke Ranu, "kenapa?"  "Bawa pengaruh buruk buat anak gadis," sahut Ranu asal. Percuma dong, susah payah dilepas dari Zeon malah diumpan ke Rayyan, semakin susah buat menjaganya. "Ya udah lah apa boleh buat, biar dia kerja tempat gue aja!"  Ranu yang menganggap ini jalan keluar terbaik menatap Moizha dengan mata ceria. Tahu lah perempuan itu kalau dirinya yang sejak tadi jadi topik pembicaraan.  "Katanya udah banyak karyawan," kali ini, Zeon melihat Ranu dengan bingung.  "Gampang, bisa diselipin!"  Jawaban Ranu membuat Moizha kesal setengah mati. Dia menikam pria itu dengan pandangan tajam. dan sinis.  Meremehkan banget, memangnya dia apa sampai harus di selipin? Duit haram?  Sementara Ranu hanya membalasnya dengan ekspresi jangan macam-macam sama bos baru.   Angka lima di atas pintu berwarna merah. Pintu bergeser pelan lalu terbuka lebar, mereka keluar bergantian, dan menyusuri koridor beriringan dengan Moizha berada di tengah.  Zeon yang tidak tahu apa yang sedang ada di pikiran mereka berdua berkata dengan nada ringan, "lo tau gak, Bang? Jauh-jauh gue cari Moizha sampe Ausie, ketemunya malah di Jakarta. Jodoh emang jorok ya, nemu di mana aja."  "Ngaco!" Moizha langsung ketawa.  Ranu sendiri menanggapi ucapan Zeon dengan candaan, "dapet wasiat jodoh dari mana lo? Setahu gue jodoh lo masih dalam telur kinderjoy, belum dieramin."  Zeon meninju lengan Ranu sambil ketawa, "urusan kerjaan udah selesai kan?"  "Belum, sampai Moizha tuntas tanda tangan kontrak."  "Gak lama kan? Gue mau ngajak dia makan siang,"  Zeon merangkul bahu Moizha dan sorot mata Ranu terlihat semakin tajam. Padahal Moizhanya sendiri santai-santai saja. Malah tanya-tanya makanan apa yang enak.  Ranu diam-diam mengambil ponsel dari saku kemeja lalu menekan nomor Zeon. Ketika Zeon sibuk dengan ponselnya yang berdering, Ranu memaksa Moizha bertukar tempat dengannya. Beres sudah.  Semoga kebaikannya menyelamatkan satu anak gadis yang hampir jadi korban modus dicatat malaikat. Amin.  Zeon melihat satu panggilan tak terjawab, dan langsung melayangkan pandangannya ke Ranu yang hanya di beri jawaban, "Sorry, kepencet!"  "It's okay," Zeon menyimpan lagi ponselnya, "gue mau pastiin lagi , bikin surat kontraknya gak lama kan?"  "Gak! Tinggal gue ketik nama, ngeprint, dibaca, dipelajari, tanda tangan. Beres!"  Zeon mengangguk puas, lalu menjulurkan kepala memanggil Moizha, "Moi, makannya di bawah aja ya yang deket. Jam tiga aku ada janji."  Harusnya bikin surat kontrak itu pekerjaan sekretaris, tapi demi Moizha, Ranu mengetiknya sendiri. Sekalian mengawasi dua orang yang sedang mengobrol dengan seru di depannya. Ternyata perempuan itu bisa lembut juga, sayangnya depan orang lain. Kalau depan Ranu, ampuuuun deh! Galaknya bikin orang takut kawin.  Surat kontrak yang ia buat selesai, tinggal ia print. Ranu melihat jam di ponselnya, jam setengah satu. Huh! Kalau suratnya di kasih sekarang enak di mereka dong.  Baca kontrak sampai tanda tangan paling lama setengah jam. Setelah itu, mereka punya waktu dua jam untuk makan siang berdua.  Nah, selama dua jam itu tidak mungkin Zeon cuma diam, pasti tebar benih-benih pesona yang tinggal di pupuk dengan modus berupa perhatian-perhatian kecil. Setelah itu.  Ranu kembali  melihat jam.  "Ze, gue baru inget," dia melihat Zeon dengan wajah serius, "printer di kantor rusak, tunggu sebentar bisa kan?"  ***Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN