Bab 14

883 Kata
Ranu tersenyum tapi kata-katanya sedikit menusuk, "gak ada urusannya sama kalian!"   Semua orang jadi membisu. Benar juga sih Manajer dan perempuan di sebelahnya itu bukan urusan mereka, tapi kan kepo.  "Kenapa, dia pacar rahasia?"  Semua mengarahkan pandangannya ke Rayyan dengan tatapan terima kasih karena sudah mewakili mereka mengajukan pertanyaan itu. Sementara Rayyan menatap Moizha dengan tatapan menilai. "Kurang tinggi sih, tapi cantik."  Walau sebal dibilang pendek, Moizha tetap bilang terima kasih. Demi sopan santun.  "Btw, aku Rayyan, kamu pasti Moizha. Bener?"  Moizha mengangguk menerima uluran tangan Rayyan yang langsung dilepaskannya lagi. Dia seperti mencium aroma-aroma cemburu dan merasa geli sendiri. Dia ini perempuan lho, masa dicemburui juga?  Kemudian Ranu menunduk dan berbisik di telinga Moizha.  "Diam, jangan banyak ngomong."  "Kenapa?"  "Kalau kamu tutup mulut, nanti kuturuti satu permintaanmu."  Tiba-tiba saja Ranu melingkarkan lengannya pada bahu Moizha yang masih bingung dengan perkataannya. Ini orang mau cari perkara ya? Laki sama laki kan kalau cemburu serem. Sebelum Moizha sempat melawan, dia sudah berada dalam pelukan Ranu yang menarik napas panjang.  "Karena sudah ketauan apa boleh buat. Rayyan benar, dia ini pacarku."  Astaga! Tanpa sadar Moizha terlonjak kaget. Ngo-ngomong apa dia barusan?  Sedangkan Moizha melihat Rayyan yang tak kalah kagetnya dengan wajah memelas. Perkataan Ranu berikutnya malah menambah kepanikan gadis itu, "kami juga sudah tinggal serumah."  Wajah cantik Natasha langsung pucat pasi tatapan yang tadinya tegar itu tampak bergetar, "begitu... aku gak tahu. Selamat, ya."  "Ya ampun, gak usah ngasih selamat. Bukan pacaran be...hmmp!"  Namun sebelum ia sempat melanjutkan sanggahannya, Ranu menundukkan kepala dan menahan bibirnya sampai rasanya tak bisa bernapas.  Moizha memutar keran air di wastafel, membiarkan air mengalir memenuhi gelas panjang di bawahnya selama beberapa detik sebelum ia matikan kembali.  Sambil menyikat gigi, dia melihat bayangannya di cermin lalu menggeleng-gelengkan kepalanya keras-keras. Rambutnya yang panjang dan tebal mengenai pipi sebelum jatuh kembali mengenai bahunya.  Kalau bisa pilih nih, dia lebih senang jatuh karena terserempet mobil dari pada dipeluk Ranu. Kejadiannya memang cuma beberapa detik, tapi terasa panjang buatnya.  Ninggalin semua hal yang udah bikin nyaman, apa bukan t***l namanya!  "Huh! t***l apanya?" Moizha berdecak saat teringat ucapan Ranu selanjutnya. "Emangnya siapa si t***l itu?" Gumamnya lagi.  Buat Moizha sih, t***l itu kalau dia tetap tinggal dan menghirup oksigen di negara yang sama dengan Ranu. Apalagi setelah pria itu mengkhianati kepercayaannya bertahun-tahun yang lalu.  Gara-gara kejadian itulah, akhirnya Moizha sadar betapa pentingnya imunisasi campak dan rubella buat kaum perempuan. Yaaah, supaya perempuan-perempuan lain gak merasakan bagaimana sakitnya dicampakkan tanpa dibela. Kayak dia dulu.  "Kayaknya semalem dia gak mabok deh, tapi kenapa ngomongnya begitu ya?" Moizha menutup mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.  Saat itulah, dia mendengar pintu kamar mandi terbuka. Moizha memutar kepalanya dan melihat Ranu muncul hanya dengan sehelai handuk di pinggang.  Bisa bayangkan? Hanya sehelai handuk! Tanpa kaos, sarung atau apalah buat menutupi badannya! Singkatnya, Ranu muncul depan mata Moizha setengah telanjang!   Oke, tenang. Mata Moizha berusaha berkedip supaya gak dosa, tapi gak semudah itu Felguso! Jangankan buat berkedip, buat menarik napas saja rasanya susah.  Oke lah, jaman sekarang asal punya kuota siapa saja bisa melihat macam-macam bentukan cowok, mulai dari yang perutnya model roti sobek sampai roti kasur, dari yang cuma memakai boxer atau celana dalam berbelalai menggemaskan sampai yang gak pakai selembar benangpun juga banyak. Tapi visual nyata dari pria bertubuh bagus yang sedang berjalan ke arahnya benar-benar membuat gadis itu terpaku.  Ranu berjalan begitu saja melewati Moizha kemudian berhenti depan closet yang masih berada dalam jarak pandang gadis itu, dan kemudian...  "Adaw!"  Gelas plastik yang tadi masih berada di atas wastafel, sudah melayang ke kepala Ranu yang langsung menatap Moizha kesal. Sementara, gadis itu balas menatapnya dengan wajah gak habis pikir. Bagaimana bisa pria itu mau buang air kecil di depannya? Dia ini perempuan lho. Heran deh sama manusia satu ini, mentang-mentang gak punya malu itu gratis kok diborong semua buat dia sendiri.  "Gantian bisa kan?"  "Siapa suruh gak kunci pintunya?" Sahut Ranu dengan tampang tanpa dosa. Lalu,dia kelihatan seperti baru menyadari sesuatu. "Atau emang sengaja gak kamu kunci ya?"  "Apa?! Kamunya aja tuh yang gak tau sopan santun, main nyelonong seenaknya aja!"  Moizha agak mendongak, fokus melihat wajah Ranu, tapi dia gak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan bahu yang lebar dan bulu-bulu samar yang bikin perut rata pria itu kelihatan... seksi. Pemandangan itu gadis itu berusaha melihat kemana pun, asal bukan ke arah Ranu.  Melihat Moizha yang salah tingkah, Ranu mengulum senyum. "Kalau penasaran ngomong aja, Moi. Aku gak keberatan kok ngasih liat. Gak cuma bagian atasnya aja, sampai bawah sekalian kalau kamu mau.'  Keruan saja ucapan Ranu bikin wajah Moizha merona, malu lah sudah ketangkap basah mengamati tubuh pria itu. Belum juga habis rasanya malunya, tiba-tiba.  "Jangan kaget ya," kedua tangan Ranu sudah berada di ujung handuk, siap menarik satu-satunya kain yang menutupi bagian intimnya.  "Eh, jangan gila deh!" Moizha langsung melompat ke depan. Maksud hatinya sih, dia mau menahan tangan Ranu supaya gak nekat melepas handuk yang melingkar di pinggangnya, tapi malah berakhir dengan dirinya yang menubruk pria itu.  Ranu yang sempat terhuyung kebelakang terkesiap.  Sementara, mata Moizha makin membesar ketika merasakan bagian intim Ranu yang gak sengaja dia pegang berkedut pelan beberapa kali.  Ya ampun! Dia gay kan, tapi kok...?  Dengan panik Moizha menarik tangannya, ketika handuk yang menjadi biang masalah itu benar-benar melorot dia gak sempat memalingkan wajahnya dan cuma bisa mengumpat.  Faak!  ***  Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN