Bab 13

1242 Kata
Ketika Ranu selesai mencuci muka dan mau pergi joging langkahnya terhenti sejenak saat melewati kamar Moizha. Sejak tadi terdengar suara-suara aneh dari dalam sana.   Ranu memicingkan mata dan menatap pintu itu dengan penuh curiga.  "Ouch!"  Suara itu kembali terdengar kali ini disertai dengan desahan 'ah' yang membuatnya ikut merasakan sensasi aneh.  Dia lagi teleponan sama pacarnya ya? Ranu berdiri lama di tempatnya.  Tiba-tiba, terdengar suara 'cklek' dan pintu kamar itu terbuka. Ranu yang kaget langsung menempelkan badannya di tembok.  Moizha keluar dengan rambut berantakan dan pakaian yang jauh dari kata layak. "Sebentar ya pipis dulu," katanya sebelum menutup pintu.  Setelah punggung Moizha menghilang dari pandangannya barulah Ranu melangkahkan kakinya ke turun ke bawah dan tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya. Masa Moizha begitu?  Ranu lari keliling komplek sebanyak dua kali, tapi pikiran tentang apa yang dilakukan Moizha tadi tak mau enyah dari kepalanya.  Ponsel yang tadi di bawa ke kamar mandi, suara desahan dikamar, berarti dia? Ah, gak mungkin. Setahunya Moizha itu masih polos.  Lagian, apa enaknya bercinta online?  *** Bukan Moizha namanya kalau bisa bangun pagi. Bukan karena dia pemalas atau apa, tapi dia hanya kepingin menjadi manusia yang berhati nurani. Menurut buku yang sumber informasinya berasal dari sumur bor suci yang pernah dia baca, tak sepantasnya kalau manusia bangun lebih dulu dari ayam.  Bayangkan, dari masih berbentuk telur saja ayam sudah diceplok atau didadar, belum cukup umur dibuat nugget kemudian lagi usia ranum-ranumnya dipotong dan dibuat ayam goreng, tua sedikit dibikin opor.  Kapan mereka bahagianya?  Eh, seakan belum cukup semua penderitaannya si ayam. Rejekinya pun masih mau dipatok.  Bagaimana perasaan si ayam coba?  Tapi untuk sekarang ini bodo amat! Kakinya yang sakit lebih penting dari perasaan si ayam.   Tadinya dia berpikir setelah di kompres kakinya baik-baik saja. Tetapi menjelang dini hari tadi, sakitnya semakin menjadi membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak.  Karena tak tahan, subuh-subuh dia nekat turun ke bawah walaupun dengan susah payah. Awalnya Moizha mau tanya di mana letak kotak obat sama bibi yang suka bantu-bantu di rumah. Tak tahunya si bibi malah berbaik hati mau memijat kakinya sekalian sebadan-badannya.  Tanpa malu lagi dirinya mengerang kalau pijatannya terasa sakit atau mendesah ketika tekanan ringan membuat otot-ototnya rileks.  Moizha telentang di atas tempat tidur. Setelah dipijat dan berendam dalam bathtub berisi air hangat, seluruh tubuhnya termasuk kaki terasa lebih ringan serasa semua dosa-dosanya ikut luntur.  Kantuk pun perlahan-lahan menyerang, semakin lama semakin berat.  "Moizha!"  Teriakan tiba-tiba terdengar di telinganya. Tak peduli dia belum memakai baju dan hanya menyisakan pakain dalam di balik selimut yang menutupi tubuhnya, Moizha langsung bangun dan terduduk. Selimutnya melorot sampai pinggang, tapi dia cuek saja.  Ranu yang berdiri di arah datangnya sinar matahari pagi, menyeringai menatap tubuh bagian atas gadis itu yang hanya memakai bra. Moizha memicingkan matanya karena silau.   "Nih,"  Apa-apaan orang ini? Mau ngerjain pasti.  "Gak suka baca."  Moizha yang semakin mengerutkan alisnya karena silau mengabaikan novel yang disodorkan oleh Ranu. Namun, Ranu tetap meletakkan buku itu ke atas pangkuannya.  "Rumah ini memang bagus, tapi gak kedap suara."  Lantas? Moizha menatapnya tanpa berkata apa-apa.  Ranu tertawa kecil.  "Sebenarnya aku gak masalah sama orang yang suka telepon atau video call m***m. Kecuali yang tadi pagi."  "Hah? Maksudnya?"  Mengabaikan d**a yang bergerak naik turun pelan didepannya dia kembali berkata. "Maksudku, kalau sama-sama cuma membayangkan gimana rasanya, lebih enak baca aja kan? Gak berisik dan bikin polusi di kuping orang. Kata Rayyan buku ini banyak adegan panasnya, siapa tau membantu."  Ranu membungkuk dan berbisik di telinga Moizha lalu mengangkat buku itu dan meletakkannya lagi sebelum pergi.  "Apaan sih tuh orang?" Moizha hanya melihat Ranu dengan tatapan aneh.  Moizha yang tadinya berpikir tak pernah melakukan hal-hal yang memalukan itu kembali berbaring. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia teringat suara erangan yang keluar dari mulutnya saat di pijat dan teringat tadi pagi dia juga melihat Ranu yang berdiri depan kamarnya. Kemudian menghubungkan keduanya...  "Dasar orang ini! Kotor banget isi kepalanya!"  Sebelum menutup pintu, Ranu menghadap ke arah Moizha. "Badanmu bagus, kalau nanti ada adegan di buku yang susah dibayangin. Aku gak keberatan dipanggil buat jadi alat uji coba."  "Amit-amit! Gak usah kegeeran deh!"  Moizha menyambar buku lalu melemparnya sekuat tenaga. Tapi Ranu sudah keburu menutup pintu dan ketawa kencang.  "Homo m***m k*****t!!!"   ***** Dua hari kemudian, Moizha sibuk memilih baju mana yang mau dia pakai. Karena sebagian besar bajunya tidak dia bawa, pilihannya pun terbatas hanya kaos, celana pendek atau kemeja pas badan dan celana jeans.  "Pake ini aja, Moi." Tante Wida menganjurkan gaun selutut warna hitam yang langsung dia tolak. Dia kan mau datang wawancara, bukan melayat.  "Yang ini gimana, Tan?"  Wida menggeleng. "Terlalu terbuka, ada baiknya lebih tertutup."  Moizha meringis ketika mengembalikan lagi atasan model off shoulder bermotif lucu ke tempatnya semula. Tinggal tambah kalimat sakti 'maaf sekadar mengingatkan' maka menjelmalah tante Wida sebagai netizen yang maha benar dengan segala nasehatnya.  "Pake baju tante aja deh, Moi yang lama-lama udah pada kekecilan."  "Gak usah, Tan. Aku pake yang ini aja." Moizha mengambil pakaian yang tempo hari dia beli. Blus sifon putih berkerah bulat dengan rok lipat pendek warna biru Persis anak sekolah, tapi mendinglah dari pada pakai baju zaman batu.  Sebagai sentuhan akhir. Moizha memulas liptin pada bibirnya lalu menyambar tas selempang yang tergeletak di atas meja. Tante Wida sudah turun duluan, jadi Moizha turun sendirian. Ketika mau masuk ruang makan, di dengarnya suara tante Wida yang membuatnya terpaku.  "Ibu gak sungguh-sungguh mau menjodohkan mereka, kan? Apalagi Moizha itu udah punya tunangan."  "Tapi siapa yang jamin dia sama tunangannya akan menikah? Memangnya kamu gak suka sama dia?"  "Awalnya dia kelihatan gadis baik-baik, tapi sekarang penampilannya berubah..."  "Yang nyuruhkan anakmu sendiri, Tan" Moizha bergumam pelan.  "...kadang ngomongnya juga gak sopan."  "Itu tugasmu untuk memperbaikinya."  "Apalagi dia lama tinggal di luar negeri. Tanpa ada pengawasan, pasti hidupnya bebas." Terdengar lagi keluhan Wida. "Kasihan Ranu kalau dapat sisaan orang."  Moizha terkejut, hampir dia terjatuh kalau tak cepat-cepat disandarkannya punggungnya ke tembok. Tangannya terkepal erat.  Terdengar Giarti menghela napas panjang. "Kalau memang gak jodoh, mereka juga gak mungkin bersama. Jadi tenang aja."  Moizha balik lagi ke atas. Di pertengahan tangga dia ketemu Ranu dan sebuah ide terlintas di otaknya.  "Good morning, Ranu."  Ranu hanya balas memandang Moizha malas. "Pake bahasa inggris segala. Sok bule!"  Dasar jin sarimi, ngomong good morning aja di katain sok bule. Gimana kalau denger aku bersin pakai bahasa inggris?  Moizha hanya menggerutu dalam hati. Depan Ranu dia memamerkan senyumnya yang menawan. Tak apalah, sebentar ini cuma sampai di lihat tante Wida aja.  "Udah mau berangkat ya? Bareng dong."  Moizha memeluk lengannya. Ranu melihat perempuan itu seakan melihat sesuatu yang aneh.  "Boleh ya? Anggap aja buat tabungan di akhirat nanti." Moizha sengaja ketawa geli ketika matanya menangkap tante Wida yang memperhatikannya asyik dengan Ranu. Wajahnya tampak kaku saking tegangnya.  Ya ampun itu ibu-ibu dikira aku mau sama anaknya kali.  Moizha benaran tak tahu setan mana yang membisikinya. Mendadak saja dia mau usil sama tante Wida yang mengawasi gerak-geriknya. Awas saja kalau nanti kena stroke.  Moizha mengikuti Ranu masuk ke mobilnya. Masih diikuti oleh tatapan tajam Wida.  Moizha menahan tangan Ranu yang berada di atas perseneling. Lalu dengan provokatif dia mendekat menempelkan bibirnya ke telinga Ranu.  "Buku yang kemarin. Ada beberapa yang aku kurang paham,"  Perempuan yang terlihat seperti mau menggodanya itu tersenyum ramah. Kesambet apa dia jadi begini,pikir Ranu.  "Tawaranmu masih berlaku?"  Ranu  mengangguk kaku. Napasnya sangat teratur, mata mereka saling beradu, jarak keduanya semakin dekat. Ranu perlahan merapatkan tubuhnya ke arah Moizha. Bayangan Moizha yang berada di bola matanya semakin membesar.  Oke, dia tahu ini salah. Tapi Moizha benar-benar tak bisa berpaling dari mata kelam yang menatapnya dalam.  "Kamu gugup?" Ranu tersenyum. Tanpa sadar gadis itu mengangguk dan memejamkan mata. Bibirnya setengah terbuka. Suara rendah Ranu mendekat di telinganya. Dari setiap ucapannya terdengar tawa tertahan. "Aku cuma membantumu pakai sabuk pengaman." Ctek. Bersamaan dengan sabuk pengaman yang terpasang, Moizha semakin menenggelamkan di kursi, rasanya enggan membuka mata lagi.  Sabuk pengaman... Moizha tertawa kaku lalu berkata dengan santai, "thank's, kebetulan aku emang gak tau gimana cara pakainya." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN