**
Giarti dan cucunya menoleh, walaupun gerakan mereka bareng tapi ekspresinya berbeda. Ranu kayak menahan tawa, sementara Giarti melihatnya dengan dahi terlipat.
"Emang kamu tau nomornya?"
"Tahu lah, Nek. Aku kan bukan anak durhaka."
Giarti ketawa sambil mengibaskan tangan. "Bukan ayahmu, Moi. Ini Zainuri satpam rumah makan. Tadi dia laporan, Ranu abis misscall gak bisa dihubungi, udah gitu mobil ada diparkiran tapi gak dikunci. Orangnya dicari kemana-mana gak ada..."
Moizha melongo gak percaya. Jadi, dia bela-belain jalan kaki sampai kakinya celaka begini, karena takut diaduin sama satpam?
Moizha sesaat menatap Ranu dengan wajah kesal dan geram. Ranu hanya membalasnya dengan tersenyum dan tatapan mata 'salahnya dimana?'
Giarti tak memperhatikan situasi panas diantara mereka. Sebaliknya, wanita itu malah memperhatikan pergelangan kaki Moizha yang memerah, "lho, itu kakimu kenapa?"
Moizha tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyindir. Dia melihat kaki kanannya seraya berkata. "Oh, ini lagi sial. Tadi lewat jalan sana,"telunjuk Moizha menunjuk asal-asalan. "Eh, tiba-tiba ada anjing, hampir aja aku kena gigit. Untung bisa kabur tapi malah jatuh."
Ranu nyaris terbatuk-batuk mendengar jawaban yang keluar dengan lancar dari mulut Moizha. Malaikat juga tahu 'anjing' yang dimaksud oleh gadis itu.
Giarti gak percaya ada anjing berkeliaran di kompleknya. Yaah bagaimana mau percaya, anjing yang ada di cluster ini rata-rata sudah punya kartu identitas masing-masing. Penasaran, wanita tua itu menarik tangan Ranu yang sudah mau pergi dan menanyakan dimana anjing itu berada.
Dan Ranu pun menjawab,
"Guk!"
*****Tbc
Renjun lah yang pertama kali menyadarinya, "Ini, nggak salah, El? Kok men's jacket, harusnya woman dong, buat Tera kan?"
Yang mengejutkan jawaban Ghamaliel adalah pertanyaan, "Siapa bilang itu buat dia?"
liburan musim panas, orang yang perilakunya sulit dipahami, selain oleh neneknya.
Orang yang sifatnya sombong, narsis, dan merasa dirinya paling disukai oleh semua orang, perlahan berubah menjadi pribadi yang lebih rendah hati dan menyenangkan.
Nggak seratus persen sih berubahnya, dalam kondisi tertentu, lagi kumpul dengan teman atau kolega misalnya, sifat narsis dan over proud Ghamaliel kadang masih sering muncul, tapi masih tahap yang wajarlah
Hanya saja, belakangan ini semakin parah.
"Berapa item yang harus ku beli?" Pertanyaan Alarik masuk ke telinga Renjun yang sedang mengisap rokoknya sembari berpikir.
"Berapapun adanya, beli semua. Jaket itu edisi terbatas, nggak akan ada lebih dari sepuluh di setiap butik."
"Jadi, kalau ada sepuluh, beli semuanya?"
"Berapapun adanya ambil!" Ghamaliel menggeser kartunya ke depan Alarik, "saldo di sini lebih dari cukup buat beli separuh isi butik. Yang paling penting, kamu pastikan nggak ada satupun jaket model itu yang tersisa di sana!"
Alarik dan Renjun mengubah ekspresinya secara bersamaan.
Ini belanja di Prda lho, di butiknya yang resmi, bukan di Tanah Abang.
Dan Ghamaliel dengan entengnya bilang berapapun adanya, beli!
Kalkulator dalam kepala mereka mulai berhitung.
Taruhlah, barang yang dia mau itu harga per itemnya paling murah 20 juta, dikali sepuluh, dua ratus juta!
Gila nggak dua ratus juta cuma buat beli jaket! Kepala Alarik bergeleng pelan, Bosnya memang bukan kaleng-kaleng.
Itu cuma minta diakui lho, dia berani keluar uang segitu banyaknya. Bagaimana kalau minta menikah, saham perusahaannya kali dia kasih ke Tera.
Pantaslah dia yakin banget nggak akan kalah taruhan
ajuin ke editor ilang, sumpah, ilang banget mood.
Padahal ini udah di kejar2 deadline juga...
Jadi sambil ngetik yang baru, biar seoalah2 update aku publish ulang... kalau udah pasti aku benerin.
***
Setelah memisahkan diri dari rombongan mahasiswa tadi, Moizha gak tahu harus pergi kemana. Jadi, dia asal saja naik busway. Sewaktu ambil dompet, gak sengaja Moizha lihat buku panduan yang tadi pagi dikasih nenek. Iseng dia ambil dan baca, mana tahu di sana ada referensi tempat yang bagus.
Belum juga lima menit, Moizha sudah menggulung buku panduan yang -katanya- dibuat dengan sepenuh jiwa raga oleh wanita tua yang sayang sama cucunya, lalu dilemparnya gulungan itu ke dalam tempat sampah.
Apa lah nenek ini gak sadar apa, ion-nya dan ion Ranu itu sama-sama negatif. Kalau mereka berdua ketemu, pasti salah satunya harus mengoleskan cream penahan rasa ingin ribut. Kayak gitu kok malah dikasih referensi tempat buat bulan madu. Biar apa coba? Gelut?
Walaupun sudah kehilangan minat buat jalan-jalan, tapi Moizha belum mau pulang. Jadi, dia menghabiskan waktu dengan berkeliling gak jelas. Pikirnya, Jakarta itu unik, tanahnya juga subur. Buktinya, tadi dia lihat dipusat kota banyak tumbuh pohon plastik. Selain itu, jalanannya juga gak pernah sepi, semakin sore malah semakin ramai dan semrawut. Pokoknya beda jauhlah dengan Melbourne.
Dengan kedua tangan memegang tali tas, Moizha berjalan santai di sepanjang ruko yang berjejer. Suasana hatinya juga sudah mulai tenang, kadang dia berhenti buat beli jajanan, kemudian berjalan lagi tanpa tujuan. Sampai akhirnya dia berhenti di depan kedai yang gak bisa dibilang mewah, tempatnya saja cuma pelataran rumah biasa, tapi pengunjungnya itu lho, ramai minta ampun.
Yang beli pasti sultan, pikir Moizha ketika tatapan matanya beralih ke bahu jalan yang berubah fungsi jadi tempat parkir. Beberapa mobil mewah terparkir rapi, dan...gila! Ada lambo juga di sana. Lamborghini lho, lambo asli bukan kaleng-kaleng. Pasti ini bukan rumah makan biasa atau jangan-jangan yang punya artis?
Beberapa keluar dari dalam dan Moizha menganggapnya sebagai tanda untuk pergi. Tapi saat dia mencangklong tasnya ke pundak, ada orang yang memanggilnya.
"Moizha?"
Moizha menoleh, ternyata Zeon. Astaga, betapa sempitnya dunia ini.
"Nggak nyangka ketemu lagi, jangan-jangan kita emang beneran jodoh nih."
"Hah?"
Zeon tersenyum lucu melihat ekspresi Moizha, lalu dia berkata lagi. "Kuperhatiin kamu kayak orang ilang, kenapa gak masuk?"
"Gak usah deh, lagian juga udah mau pulang." Moizha menolak ajakan Zeon. Biarpun penasaran tempat ini jualan apa, tapi benaran dia gak berani masuk.
Mending nanti malam gak bisa tidur nyenyak gara-gara kepikiran sama kedai ini, dari pada menghabiskan waktu buat menyesal dan bego-begoin dirinya sendiri karena telanjur masuk dan beli makanan yang harganya gak masuk akal.
Baru saja Moizha mau pamit, Zeon malah menarik tangannya. "Sebentar lagi kerjaanku selesai, kamu tunggu di dalem aja, nanti ku anter. Oke?"
Ternyata sebentarnya Zeon itu hampir satu jam, karena bosnya yang pengacara terkenal itu minta didampingi sewaktu banyak warga yang minta konsultasi hukum.
Sebelum kembali ke rumahnya, pria tambun yang jari-jari tangannya penuh berlian segede batu akik itu, merogoh-rogoh saku celananya yang berwarna ungu terang seraya berkata.
"Pantaslah dari tadi gak enak kali aku duduk, ada recehan rupanya di sini. Ambillah buat kalian!"
Moizha yang lihat cuma bisa melongo. Gila! Itu duit ada kali dua juta masa dibilang receh. Belum habis rasa herannya, Zeon sudah mendorong punggung Moizha.
"Mau ditraktir dimana nih?"
"Gak usah ih, kalau besok diminta lagi gimana?"
Zeon terbahak kemudian dia menunduk sampai matanya sejajar dengan gadis itu, senyumnya yang cerah susah diabaikan. "Buset! Beli apartemen seratus unit aja dia anggap kayak beli ciki, masa udah ngasih dua juta minta dibalikin. Gak mungkin lah."
Oke lah kalau begitu. Dari pada luntang-lantung sendirian, Moizha akhirnya setuju ditraktir pakai uang 'receh' dari bosnya Zeon.
Mereka senang-senang berdua, dimulai dari makan, main, ngemil, main lagi, dan tentunya sambil ngobrol-ngobrol.
"Gak ada niat cari kerja di sini, Moi?"
"Ini lagi cari-cari lowongan." Moizha sambil menendang kerikil, mereka berjalan beriringan ke tempat parkir motor.
"Di restaurant atau cafe mau?"
"Mau aja sih, daripada nganggur."
Zeon berhenti di samping motornya yang besar, mengambil ponsel dari saku celananya. Berpikir sebentar sebelum memutuskan untuk menghubungi Ranu atau Rayyan.
"Moi, menurutmu enakkan bos yang udah punya calon istri atau yang playboy?"
Walaupun bingung dengan maksud pertanyaan Zeon, Moizha tetap menjawab. "Yang udah punya calon istrilah."
Baiklah, keputusan sudah dibuat. Zeon memutar kunci motornya dan terdengar suara mesin yang halus. "Ayo naik,"
"Kemana?"
"Ketemu calon bos lah."