Bab 11

1276 Kata
Ranu yang berkata ada keperluan lain, dengan entengnya menurunkan Moizha di halte bus begitu saja, lalu wushhh! Melesat dengan mobilnya.  Moizha yang berdiri di tempatnya hanya bisa terbengong-bengong menatap kepergian Ranu, lalu mengembuskan napas dengan wajah kesal. Lagi seru-serunya nyanyi malah disuruh turun. Penistaan terhadap bakat terpendam nih namanya.  Kenapa dia begitu ya? Apa tadi dia keganggu karena aku nyanyi sepanjang jalan? Tapi kayaknya gak mungkin deh, kalau memang terganggu, pasti sudah diusir dari lagu pertama, bukan pas hampir selesai satu album.  Moizha kembali mengingat-ingat, lagu pertama aman, lagu kedua lolos. Nah, di lagu berikutnya, pas si penyiar radio bilang mau memutar satu lagu yang pernah hits tahun 2008. Tiba-tiba tampang Ranu jadi bete habis.  Ahh, Moizha menjentikkan jarinya. Pasti gara-gara itu, Ranu gak suka sama lagunya. Eh, Moizha yang dari dulu memang suka, malah seenaknya menambah volume radio tanpa seijin yang punya. Itu sama saja kayak menyodorkan betis mulus ke kandang yang ada tulisan, 'awas anjing galak' alias cari penyakit. Moizha mengaduk-aduk tasnya lalu mengeluarkan ponsel, tapi gak jadi. Kalau dia telepon rumah, bisa ketahuan dong mereka gak pergi bareng.  Tin-tiiiiiinnn!  Moizha terlonjak ketika ada motor yang membunyikan klakson, lalu cepat-cepat berpindah posisi dari pinggir jalan ke halte. Gak sampai lima menit, ada angkot yang berhenti di depannya.  "Ayok, Neng!" Pengemudi itu berhenti, lalu menyapa.  "Saya?" Moizha menunjuk hidungnya sendiri.  Sopir yang lehernya terlilit handuk kumal itu menatap Moizha. "Ada lagi orang yang berdiri di situ?"  Moizha menoleh ke kanan, kiri dan belakang lali menjawab pertanyaan si sopir. "Gak ada."  "Nah itu tau! Ayo naik, abang antar!"  Moizha menggelengkan kepala, wajah si sopir langsung berubah. "Buat apa kau berdiri disitu kalo gak mau naik angkotku!" Dia menunjuk ke rambu yang bertuliskan 'halte khusus penumpang'.  "Eh? Emang gak boleh berdiri disini ya, Bang?"  "Paok kau! Cantik-cantik tukang pehape, kupikir penumpang kau! Lain kali kalau cuma numpang berdiri kau gantikan sana tugu selamat datang! Paok kau!"  Sopir angkot berlalu dari sana setelah puas mengumpat.  Moizha melihat sekeliling suasana sangat ramai. Mobil dan motor berseliweran, tapi gak ada satupun petunjuk ini daerah mana, bikin tambah dosa karena Moizha bolak-balik mengutuk dalam hati.  Punya dendam apa sih si Ranu, gara-gara satu lagu saja anak orang ditelantarin sampai begini.  "Jadinya di Monas nih?"  Telinga Moizha langsung tegak begitu mendengar kata monas yang keluar mulut salah satu rombongan orang kebetulan melewatinya, dilihat dari penampilannya, mereka pasti mahasiswa.   "Katanya sih gitu, biar makin rame." Sahut cewek yang pakai jaket.  Monas? dua puluh lima tahun hidup didunia, kayaknya Moizha baru sekali deh pergi ke Monas. Eh, sekali atau dua kali ya? Pokoknya jarang deh.  Merasa ini kesempatan bagus, Moizha diam-diam mengikuti rombongan sudah duluan berjalan ke halte busway.  Monas jauh juga ternyata, sudah lewat beberapa halte dan dua kali ganti busway belum sampai juga atau jangan-jangan mereka kesasar. Aduh...jangan sampai.  "Anuu..." Moizha akhirnya menepuk lengan cowok yang dia pikir ketua rombongan.  Cowok itu langsung menoleh, gak cuma dia saja. Rombongan yang lain terutama yang cowok-cowok seumuran adiknya, mereka juga ikut memperhatikan Moizha dari wajah dan berhenti lama di bagian kakinya.  "Numpang tanya boleh?"  "Ada apa?"  "Bener ya ini bis yang mau ke Monas?"  Ketika mereka kompak mengangguk, Moizha tersenyum lega. "Oke deh, thank's ya?"  "Kamu mau kesana juga?" Seru cowok yang pakai jaket hitam, membiarkan Moizha pergi sama saja melepas ikan yang siap dipanen balik lagi ke empang. Rugi! "dari kampus apa?"  "Kok sendirian? Koordinatornya mana?" Tanya cowok lain.  Dahi Moizha terlipat. "Koordinator apaan?"  "Koordinator acara lah." Cowok yang tadi ditanyai Moizha menyahut, "lo mau gabung sama kita? Kebetulan gue koordinator kelompok ini."  "Heh, Ridho! Lo sembarangan banget sih main comot orang gak dikenal." Salah satu yang duduk berderet menegur temannya dengan suara ketus. "Ntar kurang nih jatah kita!"  "Yaelah, Mey. Cuma satu ini. Kasian dia nanti, udah capek-capek gak dapet nasi bungkus."  "Hah, dapet nasi bungkus?"    Gumaman Moizha terdengar oleh mereka. "Lo pasti baru sekali ikut demo. Makanya cupu, biasanya kalau abis demo kita dikasih nasi bungkus, nanti karetnya diselipin duit. Lumayanlah buat mahasiswa kayak kita."  "Sebentar," kata Moizha ditengah-tengah kebingungannya. "Kalian ke monas... bukan jalan-jalan?"  Mereka ketawa, lalu ada yang nyeletuk. "Masa jalan-jalan ke monas, panas! Jalan-jalan mah ke puncak apalagi sama cewek. Asoy!"  "Tapi Monas masih tempat wisata, kan?" Tanya Moizha lagi dan rombongan itu tambah ngakak.  "Itu sih dulu, jaman Sd. Sekarang monas udah jadi tempat demo! Mau ikut kan? Biar makin banyak nih!" Cowok yang namanya Ridho mulai memaksa.  Moizha melihat sekeliling busway, cari cara ampuh buat menolak. Kebetulan halte berikutnya sudah kelihatan, ketika busway berhenti dan pintunya terbuka, Moizha langsung menerjang keluar.  "Hei, tunggu! Dapetnya seratus lho, nyesel lo gak ikut!" Ridho berteriak, tapi Moizha sudah lari menjauh.  Ikut demo terus masuk tv, sampsi ayahnya lihat bisa disumpahi sepanjang tujuh tikungan obat nyamuk nanti.  ***** "Kenapa? Tampang kusut begitu?"  Ranu dengan tenang mengangkat wajah dan melihat Rayyan yang sudah menarik kursi kebelakang. "Gak ada lagu lain nih? Ini mulu yang kamu puter."  Rayyan ketawa tumben-tumbenan Ranu protes sama lagu dicafe, "ada nih lagu Ungu, biar kamu inget mati."  Ranu mendengkus. Dengar lagu Ungu sih bukan ingat mati, tapi ingat tontonan neneknya, tapi masih mending daripada ingat yang dulu-dulu.  Di masa putih abu-abu, Ranu pernah mati-matian belajar main gitar sama temannya yang suka nongkrong bareng. Waktu itu dia belajar memainkan lagu Peter Pan yang pernah hits jaman dahulu kala.  Kalau ditanya itu semua buat siapa? Ya buat Moizha lah, di masa alay-nya kan dia pernah jadi penggemar berat Ariel.  Dua hari sebelum ulang tahun Moizha, Ranu sudah lancar main beberapa lagu. Pokoknya, kemampuannya sudah teruji dengan mengamen di warung-warung bakso dekat rumahnya yang lama.  Di hari ulangtahun Moizha, Ranu sudah siapkan dua lagu buat kado. Waktu itu dia pulang sekolah kesorean karena harus mengerjakan tugas teman yang sudah mengajarinya main gitar.  Lewat depan rumah Moizha, gak tahunya si teman sudah ada di situ. Duduk, ketawa-tawa dan gak lupa pamer kalau dia jago main gitar. Semua lagu yang di request Moizha dia bisa semua.  Semua!  Ranu masih terdiam.  "Natasha otw ke sini." Rayyan sengaja menjatuhkan bom. Benar saja, Ranu langsung menoleh dengan kening berkerut.  "Ngapain? lo gak telepon dan nyuruh dia dateng kan?"  "Tadi gue ketemu dia dilantai dasar." Rayyan menjawab rasa penasaran Ranu. "Terus gue suruh mampir...gak salah kan?"  "Kalau gue bilang salah, emang lo mau usir dia?"  Rayyan tersenyum dan berkata. "Gue jawab mau juga percuma, orangnya udah dateng tuh!"  Beberapa saat kemudian, Natasha muncul. Perempuan itu berterima kasih ke Rayyan yang menarikkan sebuah kursi, sementara ekspresi Ranu sukar ditebak.  Cafe milik Rayyan letaknya berdekatan dengan restaurant milik Ranu, tapi lokasinya lebih strategis karena dekat dengan taman kota.  Ranu duduk di samping jendela, telinganya mendengar obrolan gak bermutu dari mulut Rayyan, tapi matanya lebih tertarik dengan pemandangan di luar dari pada perempuan yang duduk tepat di depannya.  "Nu, kamu diem aja dari tadi. Liat apa sih?" Natasha yang penasaran mendekatkan wajahnya ke jendela mengikuti arah tatapan Ranu. "Gak ada apa-apa ah."  "Emang kamu pikir ada apaan?" Sahut Ranu tanpa berpaling sedikitpun.  Lampu kelap-kelip sudah dinyalakan, suara klakson mobil dan motor nyaring bersahut-sahutan.  Di seberang jalan cafe, seorang perempuan turun dari motor lalu melepas helm dibantu pasangannya. Rambutnya tergerai sepanjang bahu, dan dia memakai hotpants yang...  Tunggu, itu bukannya...  "Itu Zeon sama pacarnya ya?"  Ranu langsung melotot ke Rayyan yang asal ngomong.   "Gue telepon ah, suruh ajak ke sini biar makin seru."  Ranu tiba-tiba berdiri dari tempatnya duduk. "Gue pulang duluan!"  Natasha menahan tangan Ranu yang mau melewatinya. "Kita makan bareng, yuk. Aku yang traktir."  Ranu sontak menampik tangan tanpa kata dan bergegas pergi.  Rayyan langsung melirik Natasha dengan tatapan iba. perempuan itu benaran kelihatan sedih. Benar-benar kepala batu si Ranu.  "Kamu mau begitu terus sama Natasha, Nu? Emangnya kalau udah putus kalian gak bisa berteman apa?"  Ranu menjawab dengan nada sedikit tinggi, kata-kata Rayyan terdengar menyudutkannya. "Ray, kalau lo masih menghargai gue sebagai teman, gue minta lo gak usah ikut campur! Ngerti?"  Natasha menarik napas dalam-dalam, dan berkata lagi. "Maaf, aku jarang kasih kabar selama di Amerika. Soalnya aku takut, aku takut nanti bakal goyah kalau dengar suaramu. Please, Nu. Kali ini kamu ngertiin aku."  Bukannya luluh, Ranu malah menatap tajam Natasha lalu berkata dengan dingin.  "Dari dulu aku bukan orang yang pengertian. Masa kamu gak tau!"  Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN