Bab 10

1116 Kata
Kalau tahu di balik handuk itu masih ada celana pendek, gak bakal deh dia kerajinan menahan tangan Ranu, bikin tangannya tercemar saja!  "Kok mukamu keliatan kecewa gitu?" goda Ranu sambil mengamati Moizha. "Perlu dibuka gak nih celana?"  "Sialan!!!"  Suara tawa Ranu perlahan menghilang bersamaan dengan Moizha yang menutup pintu kamar mandi.  Begitu bayangan Moizha sudah gak kelihatan lagi, Ranu bergegas ke bawah shower, mengguyur kepalanya yang mendadak pusing dengan air dingin.  Sambil meraih sebotol shampoo yang fungsinya gak cuma buat keramas Ranu bergumam kesal.  "Benar-benar tuh perempuan. Pagi-pagi udah bikin semua urat tegang aja!"  ****Jam delapan pagi. Ranu jadi orang terakhir yang masuk ke ruang makan. Seperti biasa, dia duduk di sebelah Moizha yang gak menoleh ke arahnya sama sekali. Siapa yang peduli, toh dia turun buat sarapan, bukan mau bercengkrama dengan perempuan yang sudah membuatnya mandi air dingin pagi-pagi buta.  Ibu dan neneknya yang pagi-pagi sudah heboh membicarakan pernikahan salah satu artis dan pengusaha kaya langsung menoleh begitu mendengar suara kaki kursi yang bergesekan dengan lantai.  "Kamu minum ya semalem?"  Ranu yang baru duduk menatap neneknya dengan wajah bingung. Setahunya semua orang sudah tidur waktu semalam dia masuk. Pria itu mulai paham sewaktu suara sopir ayahnya yang sering membersihkan mobilnya terdengar dari dapur.  "Oh, iya sedikit,"  "Boong tuh. Hampir empat kaleng kok sedikit."   "Kamu tau, Moi?"  "Tau lah, semalem kami bareng kok," Moizha tersenyum sambil menatap jendela. Udara pagi ini tiba-tiba terasa segar, pasti karena sebentar lagi ada mau di omelin. Sukur!  "Oh, kirain sama siapa, kalau sama kamu sih nenek gak masalah. Begitu dong, kalian tuh harus sering-sering jalan berdua, biar makin deket."  Padahal belum makan, tapi rasanya ada tulang ayam yang menyangkut di tenggorokannya gara-gara reaksi nenek Giarti yang di luar dugaannya. Untunglah pengurus rumah datang dengan membawa beberapa macam masakan, jadi perhatian mereka beralih ke sana.   Seperti biasa, menu makanan di rumah ini selalu memperbaiki moodnya yang buruk.  "Cobain yang ini, Moi."  Wajah Moizha semrimgah, baru mau mengangkat piring tiba-tiba.  Dug!  "Aduh!" Moizha meringis kesakitan. What the...  "Perutmu masih sakit?" Dengan manisnya Ranu bertanya, padahal jelas-jelas Moizha kesakitan karena kakinya dia injak, "tadi pagi juga muntah-muntah, kan?"  Keruan saja Moizha langsung jadi perhatianenam pasang mata yang ada disana, ah bukan delapan termasuk mata teduh yang menatapnya sekarang.  "Kan aku udah bilang, kalau gak biasa makan nasi gak usah dipaksa, gak usah sungkan sama ibu atau nenek."  Moizha membelalakkan mata tak percaya. Kapan dia ngomong begitu? Selama ini dia baik-baik saja kok sama  makanannya. Mau bikin siasat apa lagi dia? Moizha menatap Ranu lekat-lekat sambil mengerutkan keningnya. Tiba-tiba Ranu berbisik ditelinganya sambil tetap tersenyum dan mengatupkan giginya.  "kita liat, siapa yang gampang dikerjain di sini?"  "Kalau gak cocok harusnya kamu bilang, Moi. Sampe muntah muntah gitu. Duh, kalau ayahmu tau, kami jadi gak enak, nanti dikiranya tante gak bisa ngurus anaknya lagi."  "Bu-bukan gitu, Tan." Moizha mencuri pandang ke arah Ranu, tapi yang dilirik malah pasang tampang cuek dan asyik mengunyah.  Sialan nih orang, natural banget bohongnya, bakat murni tanpa latihan, biasanya manusia model begini nih yang jadi penghuni neraka lewat jalur prestasi,  "Hari ini biar Moizha minum teh hangat dulu, mulai besok siapin roti aja buat dia." Kata Ranu seraya tersenyum licik.  Moizha langsung menoleh memandang dengan sebal, tapi cuma sekejap. Ketika nenek memanggilnya, matanya sudah biasa lagi, bibirnya malah menyunggingkan senyum.  "Iya, Nek?"  "Hari ini jadi jalan-jalan?"  "Rencananya sih, kenapa, nek?" "Biar Ranu yang nemenin." Nenek mengelap mulut dengan serbet, lalu menoleh ke cucunya. "Mau ya?"  "Aku sibuk, suruh aja sopir taxol atau sewain ojek." Ranu menolak, hari ini sih sebenarnya dia libur, tapi dari pada menemani Moizha, mending dia ke restaurant.  "Masa sehari aja, gak bisa? Lagian pake ojek atau taksi kan harus bayar."  "Jadi, lebih sayang keluar duit daripada pekerjaanku?"  "Kerjaan! kerjaaaan terus kamu jadiin alasan, dulu waktu ngasuh kamu emangnya nenek gak sibuk? Gak banyak kerjaan? Sekarang udah bangkotan dimintain tolong kok ya susah banget!"  Ayahnya yang sedari tadi diam menepuk-nepuk tangan nenek. "Tenang, Bu. Inget jantung."  "Mati juga gak bakal tenang kalau inget anakmu ini! Selalu aja bantah omongan ibu." Nek Giarti menatap cucunya sengit.  Sial! Kalau neneknya mulai mengomel, sudah deh dia gak   bisa berkutik lagi. Ranu tahu banget bagaimana kondisi neneknya, sampai neneknya kolaps bisa dilaknat seumur hidup dia. Takut nanti gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba tersambar petir dan mati sebagai cucu durhaka, akhirnya Ranu mengangkat kedua tangannya.  "Iya, Nek. Iya. Gak usah ngomel lagi, nanti kupenuhi semua permintaan nenek."  Mata Giarti melebar. "Semua?"  "Cuma nemenin Moizha," Ranu buru-buru mengoreksi sebelum nenek menyuruhnya menikah  sama Moizha besok.  Moizha mengernyitkan hidung. Dia yang mau pergi, kenapa jadi mereka yang repot. Perdebatan itu berakhir dengan Giarti yang tersenyum senang dan berkata kepadanya.  "Nenek udah cariin rekomendasi tempat yang bagus, ajak Ranu kesana. Kalau dia gak mau..."  Ranu menyela. "Rekomendasi tempat apaan sih?"  "Udah nanti kalian liat aja." Giarti menyuruh menantunya mengambil tumpukan kertas yang sudah terjilid rapi dekat kulkas, dengan mata bersinar-sinar penuh semangat dia memberikannya ke Moizha. "Liatnya nanti aja, sudah sana siap-siap, keburu siang ntar macet."  Dapat perintah begitu mereka langsung ke atas. Sambil memukul-mukul tangan dengan gulungan kertas tadi, Moizha berkata dengan imut.  "Pengen ke kota tua deh, ntar ke sana ya?"  "Ya udah, pergi aja sendiri." Ranu menaiki tangga mendahului Moizha.  "Tapi kan nenek udah nyuruh kamu nemenin. Udah bilang oke juga,"  "Masa gak ngerti," Ranu menggeleng seraya berhenti di ujung tangga, menunggu Moizha. "Nenek lagi berusaha deketin kita, kalau aku beneran pergi sama kamu, rencananya berhasil dong. Inget ini, Moi. Ada yang pertama biasanya ada yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Kalau udah begitu, siapa yang paling kasihan  disini?"  "Siapa?"  "Ya kamu lah." Sahut Ranu cepat.  Moizha menunjuk hidungnya sendiri. "Kok aku sih?"  "Gampangnya sih gini, nanti gara-gara sering bareng, terus kamu jatuh cinta sama aku gimana? Padahal kamu tau aku gak suka perempuan, apa gak hancur itu hati? Kalau udah hancur, mau kabur kemana lagi?"  Moizha menaikkan sudut kiri bibirnya. Buah kalau jatuh jauh dari pohonnya, terus dibawa codot memang begini nih. Songong! Beda jauh sama nenek atau orangtuanya yang baik.  "Kamu pergi aja sendiri, terus laporan sama aku."  "Laporan buat apa?"  Ranu mendecak, "buat nyamain cerita lah biar nenek percaya."  Moizha cemberut, matanya lurus menatap Ranu. "Kalau ketauan gimana? Aku kan gak biasa bo'ong kayak kamu."  "Mau nikah pacar bule mu gak?" Ranu mengingatkan, dan langsung di jawab Moizha menjawa dengan anggukan senang.  "Ya udah, ikutin aja yang bilang. Siniin rekomendasinya, biar kucariin tempat yang bagus."  Moizha meletakkan kliping yang dibuat Giarti ke atas meja supaya bisa dilihat bareng. Telinganya sempat mendengar Ranu bergumam, 'kurang kerjaan banget pake dijilid segala, kayak skripsi aja.'  Ketika melihat judul dari klipingan tersebut keduanya melongo.  'Tempat kencan di Jakarta, mulai dari taman sampai hotel yang membuat cinta anda semakin b*******h!"  ***( Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN