Cluster yang sekarang di tinggali Moizha termasuk perumahan elit. Gak heran baru jam sembilan malam sudah kelihatan sepi. Apalagi kalau malam Jum'at, dedemit dan setan yang dapat jatah gentayangan saja, cuma melamun sambil jongkok di bawah pohon. Habis pada bingung mau ganggu siapa.
Boro-boro ada tukang bakso sama tukang nasi goreng yang lewat dan bisa diganggu dengan pura-pura beli dan bayarnya pakai daun kayak jaman dulu, lha wong buat penghuni baru kayak Moizha saja, kalau mau masuk komplek wajib kasih lihat ktp dulu.
Lagian jaman sudah berubah, daripada keliling-keliling dorong gerobak bikin betis kejang, kulit hitam, ganteng menghilang. Abang-abang tukang jualan sekarang lebih senang join di aplikasi ojek online, tinggal foto, banyak-banyak promo terus tinggal mangkal deh tunggu pembeli.
Gak kayak di kampung ayahnya, mulai jam tujuh sampai jam sembilan malam itu waktunya emak-emak berjibaku, menghalau tukang jualan yang sebentar-sebentar lewat depan rumah. Mana jalannya pelan-pelan, terus sengaja berhenti setiap ada orang yang kumpul bareng.
Kalau dicuekin, sengaja deh mereka mukul-mukul mangkok, penggorengan, atau apalah buat perhatian. Parahnya lagi, ada yang dorong gerobak yang asapnya kemana-mana. Bukannya disiram itu asap supaya gak terkena ISPA, eh dia malah santai keliling sambil teriak-teriak.
"Te...sateeeee!!!!"
Kalau abang-abang itu lewat, pasti deh Pak Zainuri langsung lari kebirit-b***t keluar rumah.
Duuh, kangen sama bapak botak kan jadinya.
Moizha yang gak takut berjalan sendirian terus melangkah dengan santai, tangan kanannya menenteng hasil berburunya di Mall tadi sore, sementara tangan kirinya memegang tali tas yang menyelempang di d**a.
Sebenarnya selesai makan tadi, Zeon mau mengantarnya pulang, tapi dia gak mau. Tahu diri sedikitlah, sekarang kan dia tinggal di rumah orang. Jadi gak bisa sesukanya bawa-bawa teman ke sana, gak enak lah. Apalagi Zeon itu laki-laki dan mereka belum lama kenal.
Tanpa dia sadari, langkah Moizha semakin cepat. Biasanya setelah lewat taman komplek dia terus lurus ikuti jalan buat sampai ke rumah Nek Giarti, tapi karena di ujung sana ada sebatang pohon asam yang katanya angker, Moizha sengaja memotong jalan lewat belakang.
Jalannya cepat tanpa menoleh-noleh lagi.
"Keluyuran kemana aja jam segini baru pulang?"
"Astaga!" Serunya refleks. Moizha kaget setengah mati ketika mendengar suara yang sudah gak asing lagi dari belakang punggungnya.
Begitu berbalik, Moizha mendapati Ranu yang sedang duduk bersandar pada bagian depan mobilnya.
Bukannya tadi dia pulang sama cewek ya? Kata batinnya keheranan. Kalau cowok lain pasti pulangnya malam, mampir kemana dulu gitu kek! tapi kenapa dia malah nongkrong di sini?
Moizha memegang dadanya yang kaget dan memandang Ranu dengan curiga.
"Ngapain sampe kaget gitu?"
"Mana ada orang yang gak kaget kalau dipanggil di tempat sepi kayak gini?"
"Udah tau sepi ngapain lewat sini sendirian?" Kata Ranu blak-blakan, matanya menatap Moizha dengan tatapan yang errr... minta dicolok pake dia jari. "Daripada nanti di tengah jalan dibegal orang terus bikin heboh, mending sekalian aja gak pulang. Biar besoknya langsung diusir sama nenek!"
Moizha mengerutkan dahi, makin kesini, semakin kampret si Ranu. Bukannya minta maaf karena sudah bikin kaget anak orang. Eh, malah kasih saran yang nggak-nggak.
"Lah, terus situ apa kabar? Ngapain di sini, mau jadi begal?"
"Malam ini panas banget, jadi minum di sini sekalian ngadem." Tanpa memedulikan kerutan di dahi Moizha, pria itu mengangkat kaleng minuman dalam genggamannya.
"Bir hitam? Kamu mau mabuk-mabukan di sini?" Ujung dagu Moizha mengedik dan menunjuk ke beberapa kaleng minuman dalam kantong plastik dari minimarket sejuta umat yang digeletakkan sembarangan di atas kap mobil, berdekatan dengan sebungkus rokok mentol yang masih tersegel rapi.
Dahi Moizha kembali terlipat, selain jadi gay, ternyata sekarang Ranu jadi perokok dan peminum juga. Benar-benar deh, evolusi hidup pria itu gak ada bagusnya sama sekali. Jauh banget kalau dibandingkan sama Shawn, ibarat langit sama lantai basement.
"Memangnya kenapa?" Ranu yang baru saja menghabiskan sisa birnya menjulurkan leher dan bersendawa.
"Lagi ada masalah ya?" lalu berjalan mendekati Ranu, langkah kakinya yang terbalut celana capri sebatas lutut terlihat ringan.
"Siapa? Aku?"
"Ya masa setan!" Sahut Moizha sambil menatap Ranu dengan sudut matanya. Setelah meletakkan barant bawaan yang dia bawa. Moizha ikut bersandar di sebelah Ranu. "Kenapa? lagi patah hati ya?"
Terdengar suara 'kraak'. Ranu meremas kaleng minumannya yang sudah kosong, masih dengan mulut terkunci dia melempar kaleng minuman itu jauh-jauh. Ketika akhirnya dia menoleh ke arah Moizha dan katanya begini.
"Sampai sekarang aku belum ketemu cewek yang cukup berharga buat bikin aku patah hati."
"Du..du...du, sombongnya!" Moizha berkata sinis kepada Ranu.
"Eh, kamu gak percaya? Boleh dicari, 200 juta kalau kamu bisa nemuin cewek yang udah bikin patah hati aku patah hati."
Mendengar tantangan Ranu, bibir Moizha mencebik. Ya, iyalah! Cewek memang gak ada yang bikin dia patah hati, tapi kalau cowok?
Pasti ratusan!
Lebih! Sergah batinnya gak mau kalah.
Melihat Moizha yang terdiam, Ranu berkata pelan. "Dulu sih ada,"
"Ada apaan?"
"Kandidat kuat yang bisa bikin patah hati, tapi sayang..." Ranu sengaja menggantung ucapannya.
Dalam hati Moizha menghitung sampai lima...
Karena Ranu masih diam, dia kembali menghitung sampai sepuluh...
Lima belas...
Dua puluh...
Setelah sampai di angka dua puluh lima, Ranu belum juga membuka mulutnya, Moizha akhirnya memutar posisi berdirinya menghadap Ranu.
"Sayang, kenapa?"
"Dunia cepet banget ya berputarnya, kemarin aja bilangnya udah punya tunangan. Eh, sekarang cowok lain malah dipanggil sayang."
"Dih! Siapa?"
"Loh? Barusan yang nanya 'sayang, kenapa?' itu kamu, kan?"
Ranu tersenyum jahil, Moizha membuang muka.
Senyum sialan! Bikin jantung gak keruan aja!
"Sayang, kenapa?"
Sialan! Ngeledek lagi, dia kira tampangnya cakep kali kalau nyengir begitu. Makinya
"Tapi enak juga lho di dengarnya, jadi ingat yang dulu-dulu. Bener, gak?"
"Aku gak ingat sama yang dulu-dulu!" Kata Moizha setengah membentak, menjaga tatapannya tetap tajam dan tak goyah. Dia kan mau datang ke sini buat masa depannya, bukan mau reuni sama masa lalunya.
"Aku duluan!"
"Mau kemana?" Tanya Ranu.
"Pulang!"
"Tapi kamu belum minum."
Moizha bergegas pergi dari sana tanpa mempedulikan seruan Ranu. Sudah pasti dia gak berharap dikejar oleh lelaki di belakangnya itu.
Sewaktu mau menyeberang, dari arah sebelah kanan. Muncul city car berwarna merah yang lajunya lumayan cepat.
Sumpah, demi apapun juga. Biasanya Moizha paling hobi mencela adegan sinetron yang pemainnya diam saja waktu mau ditabrak sama mobil yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Sekarang dia kena azabnya.
Otaknya bilang dia harus cepat-cepat menghindar supaya gak celaka, tapi anggota tubuhnya mendadak gak bisa diajak bekerja sama.
Moizha cuma bisa menjerit kecil saking kagetnya, tapi untunglah. Sebelum dia jadi korban tabrakan, lengannya sudah disambar dari belakang dan dirinya ditarik dengan keras.
Ranu?
"Pantek! Jalan pake mata dong!" Hardik si pengemudi mobil.
Tapi Moizha seakan gak mendengar, dunianya terasa nyaman dalam pelukan Ranu.
Sampai tiba-tiba pria itu mengatakan satu pertanyaan.
"Setelah kejadian itu...kenapa kamu tiba-tiba memutuskan buat pergi?"
Tbc
****