****
Sudah lewat jam kerja, tapi Ranu masih betah berada di tempatnya. Tangan kanannya berada di atas
"Cuma kesalah pahaman." Kata Rayyan yakin, terus terang sampai sekarang dia gak tahu kenapa hubungan Ranu dengan Natasha bisa kandas. Padahal mereka tuh serasi banget. Ranu juga sampai bela-belain setahun dua kali pergi ke Oregon, eh tiba-tiba putus. Jadi alasan apalagi selain salah paham? "gue sih yakin, bentar lagi mereka pasti balikan."
"Kalo balikan kasian dong tunangannya."
"Cewek jelek itu?"
Zeon menoleh dengan tampang gak yakin. "Emangnya dia beneran jelek?"
Rayyan mengangkat kedua bahunya, lalu berkata seakan gak peduli. "Kayaknya sih gitu. Ranu aja gak mau. Kalau cakep, boleh lah. Ntar gue yang nampung."
Tawa keduanya pecah.
Sampai di lantai dasar lift berdenting dan pintunya terbuka. Melihat Zeon yang belok berlawanan arah dengannya. Rayyan nyeletuk.
"Lo mau ke kanan? Parkiran 'kan di sana."
"Aku lagi kencan."
Rayyan tetap berdiri dan gak bergerak sedikitpun. Ia menatap Zeon yang berada di depannya sambil menaikkan alis.
"Kenalan ku waktu ke dulu ke Ausie." Zeon menjawab pertanyaan tersirat Rayyan.
"Bagus, kerjakan dengan baik!"
"Siap, bos!" Zeon menjawab dengan bercanda dan menempelkan dua jari tangannya di atas dahi.
****
Tiga bulan yang lalu, selesai ujian profesi di Peradi yang hasilnya gagal. Zeon nekat mengambil keputusan buat cuti sementara dari kantor pengacara tempatnya magang selama tiga tahun ini.
Hanya dengan membawa satu tas ransel, uang seadanya dalam dompet dan dua buah kartu platinum. Dia terbang ke Tokyo, menghabiskan waktu di sana lebih dari seminggu, kemudian melipir ke Melbourne, rencananya setelah dari Melbourne. Dia mau langsung ke Kuala Lumpur. Mengikuti jadwal race motogp seri Asia.
Untuk rencana manusia memang pandai mengatur, tetapi untuk hasil tetap saja tergantung maunya Tuhan. Di negara bagian Victoria inilah, Zeon kena sial. Sling bag miliknya yang berisi dompet, passpor dan barang berharga lainnya dicomot orang di dorm tempat dia menginap.
"Beneran gak usah ke rumah sakit?"
Ini sudah yang ketiga kalinya Zeon bertanya hal yang sama. Pria itu kembali memperhatikan tubuh Moizha, memastikan gak ada sedikitpun luka di sana.
"Dih lebay banget. Cuma jatuh gitu aja pake ke rumah sakit."
Zeon tertawa, pandangannya gak lepas dari wajah Moizha. Kalau bukan karena 500 dollar dan tumpangan ke konsulat yang diberikan oleh perempuan yang sekarang sedang berjalan di sampingnya. Mungkin waktu itu dia sudah jadi gembel di negara orang.
Begonya Zeon, waktu itu dia gak tanya nama dan alamat perempuan yang menolongnya dengan lengkap. Gak dia sangka, setelah usahanya bolak balik ke Melbourne buat mencari perempuan itu sia-sia. Eh, mereka malah ketemu di Jakarta.
Benar banget tuh pepatah. Asam di gunung dan ikan di laut saja bisa ketemu di kuali emak-emak kalau mereka jodoh.
Berarti dirinya sama Moizha itu bisa dibilang... jodoh.
Zeon senyum-senyum gak jelas dan kembali menatap Moizha. "Kamu udah lama di sini, Zha?"
"Di Jakartanya sih belum genep seminggu."
"Lama gak di sini?"
"Belum tau juga sih, paling lama tiga bulan lah." sahut Moizha, "kenapa?"
"Duit yang 500 dollar itu, aku belum bisa bayar sekarang. Kalo kamu di sini sampe tiga bulan, masih ada waktu lah."
Langkah Moizha terhenti. Pandangannya beradu dengan tatapan Zeon yang bening.
"Udah lupain aja, aku iklash kok bantuin kamu."
"Kalau gitu, pinjem lagi 500 ribu boleh?" Zeon mulai melancarkan taktik hasil mengabdi ilmu dari Rayyan.
Moizha melongo keheranan. Kenapa sih nih orang, duit 500 dollar sudah diiklashin eh malah mau pinjem lagi 500 ribu. Dikiranya dia ini badan amal nasional kali. Lagian dilihat dari tampangnya, ini orang kayaknya bukan orang susah.
Karena penasaran, akhirnya Moizha melontarkan pertanyaan. "Emang kamu mau pinjem duit buat apaan?"
"Biar kamu inget terus."
"Apaan sih?"
"Lho, itu 'kan cara paling jitu." sahut Zeon. "Kalau mau terus diinget sama orang, pinjem duitnya. Apalagi kalau banyak, selain diinget pasti ditelepon terus."
"Dasar!"
Moizha ketawa, wajahnya yang cantik terlihat cerah. Matanya ikut berkerut, alisnya yang hitam terangkat naik. Suara gelaknya menusuk telinga Zeon sewaktu perempuan itu menjajari langkahnya.
"Terus cara teleponnya gimana? Aku 'kan gak tau nomormu." Suara Moizha terdengar disela-sela tawanya.
"Wah, kalau mau tau nomorku gak gampang, ada syaratnya."
"Apaan tuh syaratnya?"
"Makan dulu yuk, nanti selesai makan ku kasih tau."
Moizha tahu itu cuma akal-akalan Zeon, tapi toh dia tetap menjajari langkah pria itu. Habis gimana? Orang perutnya juga lapar.
Jam tujuh malam lebih, restaurant yang mereka datangi terlihat penuh dan ada beberapa orang yang menunggu di luar karena belum kebagian meja.
Walaupun begitu, mereka yang datang belakangan langsung masuk dan mendapat tempat tempat dekat jendela.
Sambil membuka buku menu, Moizha menebak Zeon pasti pelanggan tetap restaurant ini, soalnya gampang banget dapat meja.
Zeon gak membantah pernyataan Moizha, pria itu malah ketawa dan berkata dengan santai.
"Bukan, ini restaurant sepupuku. Nanti aku kenalin sama dia."
Hmmmm, pantas.
Sewaktu Zeon meninggalkannya di meja sendirian. Moizha menyandarkan punggung, mengedarkan pandangannya ke luar melalui jendela.
Saat itu matanya melihat Ranu yang membukakan pintu mobilnya untuk seorang perempuan yang langsung masuk ke dalam. Hal itu membuat hatinya tercekat.
Ranu...sama cewek?
Positif thinking saja, pasti cewek itu buat kamuflase, dia itu 'kan gay.
Moizha berpaling dari jendela dan gak berapa lama Zeon datang.
"Sorry, Moi. Sepupuku ternyata udah pulang."
"Terus gimana?" tanya Moizha, masa gak jadi makan gara-gara gak ada sepupunya. Jangan-jangan memang gak jadi, karena gak dapat gratisan.
"Ya bagus dong, jadi aku bisa pesenin kamu ini." Zeon meletakkan seporsi besar kepiting saus tiram di atas meja.
Karena bersama Zeon ternyata menyenangkan. Moizha langsung membuang jauh-jauh pikirannya tentang Ranu.
Jauh...
Jauh...
Sama seperti dulu.
*****