"Gue butuh lo, kayak langit yang membutuhkan mataharinya."
•••
Strategi Pertama : Menjadi Asisten Suga
"Apa keunggulan dari strategi ini deh? Perasaan biasa aja," komentar Alpiyya setelah membaca tulisan yang dibuat oleh Dara di atas stiker note gadis itu.
"Setuju." Fuspita ikut mengangguk.
Dara berdecak pelan. "Kudet lo semua, ini tuh kuda emas gue!"
"Coba dari bagian mana nya, Dar? Bener deh, ini tuh biasa aja. Pake banget malah," celetuk Rana sembari menunjuk ke arah benda yang tergeletak di atas meja kelas milik Dara tersebut.
Alpiyya dan Fuspita ikut mengangguk setuju. "Bener tuh," ucapnya berbarengan.
"Ck, jadi gini ...." Dara mendekatkan kepalanya sembari merangkul pundak keempat sahabatnya itu untuk berkumpul dan berbisik.
Dara memberitahukan strategisnya yang singkat itu lalu berdiri dengan d**a membusung menyombongkan pemikirannya.
"Boleh juga tuh," celetuk Fuspita.
"Ya 50% lah gue yakin berhasil," kata Rana.
Alpiyya mengangguk menyetujuinya. "Yu."
Dara menyeringai lebar sembari keluar kelas tanpa di ikuti oleh Alpiyya, Rana dan Fuspita. Dia ingin keluar mencari Suga sendirian. Menurut w******p Khalid sih, pemuda itu sedang berada di perpustakaan membuatnya sedikit berlari untuk cepat sampai ke ruangan yang membuat siapapun mengantuk tersebut.
Dalam tiga menit dia sampai, rekor tercepat dipecahkannya karena untuk menjangkau dari kelasnya yang berada di ujung ke perpustakaan yang letaknya di pusat tengah sekolah memakan waktu sekitar sepuluh menit bagi siswa berjalan normal.
Setelah sampai di depan perpustakaan, Dara merapihkan penampilan nya di kaca pintu sebelum masuk ke dalam ruangan.
"Huh, semoga sepi dan Kak Suga gak lagi cosplay jadi Elsa!" gumamnya menyemangati diri sembari membuka pintu perpustakaan.
Dia memunculkan kepalanya untuk melihat keadaan dalam ruangan itu. "Sepi," ucapnya dalam hati.
Setelah memastikan bahwa ruangan tersebut benar-benar tidak ramai seperti biasanya, Dara masuk dengan pelan. Mengendap-endap seperti maling untuk mencari Suga agar tidak ketahuan oleh pemuda itu.
Dara langsung menuju ke bagian buku karya ilmiah di mana menurut Khalid bahwa di sanalah Suga berada yang sedang mencari referensi tugas ilmiah mereka.
Dara menyembunyikan tubuhnya ke rak-rak buku saat tidak sengaja melihat Suga melintas beberapa meter di depannya. Gadis itu menyeringai dan langsung berakting.
Dengan wajah pura-pura polosnya, dia mendekati rak bagian Suga dan berdiri di seberang pemuda itu. Dara mengambil salah satu buku membuat wajah Suga yang sedang fokus membaca terlihat.
"Ganteng banget sumpah, gak boong!" Dara menjerit dalam hati sembari menggigit bibir bagian dalamnya untuk menahan tubuhnya sendiri agar tidak meloncat-loncat kesenangan mendapatkan pemandangan indah itu
Acting dimulai!
Dara membolak-balikkan halaman buku dengan wajah menyengerut masam, seolah tak mengerti dengan apa yang di bacanya. "Is, di mana sih jawaban yang di kasih tau sama Mpuss?" Dia bertanya dengan nada merajuk dan sedikit keras, yang pasti dapat di dengar oleh Suga yang berada tepat di hadapannya. Mereka hanya terhalang sebuah rak dengan buku-buku.
"Ini bener kan bukunya? Kok gak ketemu ya," guman Dara sembari membalikkan buku yang di pegangnya untuk mengecek seluruh bagian benda tersebut.
"Huh."
"Buku pembohong!"
"Katanya ada informasi, kok—"
"Kalau baca buku itu yang dipake otak, bukan mulut!" Suga berkata tajam memotong gerutuan buatan Dara.
Dara mendongak dan melotot lucu membuat mata bulatnya menggemaskan. "Ouh? Kak Suga?"
"Ngapain lo di sini?" tanya Suga tak suka.
Dara menautkan kedua alisnya bingung. "Loh, lo ngapain di sini?" tanyanya balik, berusaha membuat dirinya bingung sendiri dan pertemuan mereka seolah-olah adalah takdir.
"Lo pikir, orang lagi di perpustakaan ngapain? Makan?" Suga menatapnya sinis dengan menjawab sama sinisnya.
Dara mencebikkan bibirnya sambil berjalan mendekati Suga. Dia berdiri di samping pemuda itu dengan menyenderkan tubuh bagian atasnya ke rak buku. "Kak Suga lagi nyari apa? Mau gue bantuin gak?" tanya Dara basa-basi.
"Kek lo bisa aja," cibir Suga melirik Dara dengan tersenyum sebelah singkat.
"Bisalah. Lo jangan ngeremehin otak seorang ketua osis ya!" Dara mengangkat dahunya sombong.
"Yakin?"
"Iyalah!"
Suga mengambil beberapa buku di rak dan menaruhnya ke tangan Dara secara tiba-tiba membuat gadis itu melotot terkejut. Dan, Suga meninggalkannya untuk kembali ke meja yang ternyata sudah ada Khalid sedang berlayar ke alam mimpinya.
Dara membuntuti dengan wajah meringis nyeri pada lengannya yang sudah sedikit memerah. Bayangkan, kulih putihnya harus membawa enam buku sekaligus, mana tebalnya seperti laporan keuangan saja!
Brak!
Suga menyeringai sinis menatap Dara. Dia menyodorkan buku jurnalnya ke hadapan Dara. "Kerjain!"
"What? Kenapa gue?!" Dara menatapnya dengan tatapan protes dan tak percayanya, apalagi bibirnya yang membentuk huruf O membuat Suga semakin menyeringai.
"Gue pengen tau kemampuan sang ketua osis ini."
Dara memutar kedua bola matanya malas dengan tangan yang ragu untuk mengambil jurnal tersebut.
Judul : Analisis Implementasi Sistem Informasi Manajemen Akademik pada Unit Kerja Information Communication Technology SMA 84 Jakarta (by sahabatnesia(dot)com)
Pada bla bla bla bla bla
Dara seketika pusing padahal dirinya baru membaca judul yang tertulis besar-besar di paragraf awal. Dia memejamkan matanya dengan hati kesal.
"Lagi meditasi ya." Suga menyindir melihat keterdiaman Dara yang melototi jurnal miliknya.
Dara menahan jurnal yang berada di tangannya saat Suga ingin menarik benda itu. Dia melototi Suga sambil berkata, "kok di ambil!"
"Kenapa juga harus lo pegang?"
"Kan mau gue kerjain!"
"Gue nyuruh lo ngerjain tugas, bukan melototin tugas gue," cecar Suga dengan menarik kuat bukunya hingga terlepas dari tangan Dara.
"Is pelit."
"Diem, bukannya belajar malah ngintip gue di sini. Sana lo ke kelas," usir Suga tanpa perasaan.
Dara menggeleng tegas sembari menyanggah kepala nya di tangan berada di atas meja. Dia menatap Suga dengan puppy eyes andalannya. "Gak, gue tau lo udah kangen sama gue ya kan Kak? Ngaku, gue tuh orangnya ngangenin emang."
"Nggak usah liat gue pake muka anak anjing lo itu," ujar Suga dengan memundurkan wajah Dara menggunakan kelima jarinya. Dia menyapu bersih bagian wajah Dara yang sedari tadi mengawasi seperti ingin memakan dirinya.
"Is bisa diperalus dikit gak sih," decak Dara.
"Apa?"
"Jangan anak anjing dong, wajah menggemaskan punya Dara gi—"
Pluk!
Suga menepuk halus dahi Dara menggunakan dua jarinya menghentikan ucapan gadis itu.
"Diem, gue mau belajar."
"Gue di sini saja ya Kak?" pinta Dara memelas. "Pleasee?"
Suga tidak menjawabnya melainkan kembali membuka buku-buku referensi tersebut dan mulai menuliskan apa yang dia cari.
Dara cemberut, dia merebahkan kepalanya ke meja dengan lengan sebagai bantalan menghadap Suga yang sangat tampan dari samping.
"Boleh kan Kak gue di sini buat liatin lo?" tanyanya lagi, seperti bergumam guna menjahili Suga yang sangat fokus.
"Hm."
Dara mengembangkan senyumnya mendengar respon Suga.
"Apa Kak Suga udah mulai bisa membuka perasaannya buat gue ya? Semoga ini awal buat hubungan ini," ujar Dara dalam hati. Di wajahnya penuh permohonan dengan senyuman yang tak lepas sedari tadi.
Di antara mereka, Khalid sedari tadi menahan diri untuk tidak bangun dan menggoda keduanya. Dia ikut menggigit bibir berusaha menahan sorakan karena terlewat senangnya.
"Dar, semoga ini awal buat lo. Gue selalu mendoakan hal yang terbaik terjadi dalam kehidupan lo." - Khalid.