Gue bakal selalu mempertahankan, walaupun lo sibuk sama yang lain.
•••
Dara menatap Suga yang masih berpokus kepada makanannya.
Hari ini adalah hari yang berat.
Setelah drama istirahat tadi siang, gadis itu di tarik secara dingin oleh Suga setelah pulang sekolah.
Dan, berakhir lah mereka di sebuah cafe yang dekat dengan sekolah. Keadaan sepi menambah kesan canggung yang di pancarkan oleh Suga, dikarenakan pemuda itu hanya diam tidak merespon keberadaan Dara di hadapannya.
Dara mencebikkan bibirnya masam sambil mengaduk-aduk es krim vanilla nya di dalam mangkuk. Dia melirik Suga dengan sebal dalam hati menggerutu.
"Kalau mau marah sama gue, gak usah ngediemin juga kali. Is, Kak Suga ngeselin!" rutuknya dalam hati.
Lantai di meja mereka bergetar, Suga melirik ke arah bawah meja guna melihat penyebab nya ternyata kaki Dara yang tidak bisa diam. Berhentak-hentak di lantai seperti cacing kepanasan.
Suga paham, pasti Dara gelisah. Namun, dia tetap membiarkannya selama beberapa menit. Dia masih kesal dan emosi kepada gadis di hadapannya tersebut.
Karena sudah tak tahan lagi, Dara membanting sendok miliknya ke mangkuk dan menatap Suga dengan sebal. "Kak, is! Ngomong dong, jangan diem aja. Lo ngajak gue ke sini untuk apa?!" bentak Dara cemberut.
Suga beralih menatapnya dengan datar. Secara santai, dia meminum latte miliknya sambil menatap Dara yang sudah sangat-sangat sebal.
"Apa? Lo mau marah sama omongan gue tadi siang?" Dara bertanya menantang dengan dagu terangkat.
"Bodo! Gue gak peduli, mau lo ada cewek kek, ada gebetan kek! Gue tetep suka sama lo, Kak," lanjutnya lagi bernada ketus tak ingin dibantah.
"Kenapa suka sama gue?" tanya Suga.
"Harus ada alasan emang?"
"Ya."
Dara menaikkan sebelah alisnya ke atas bingung. "Sorry, gue style cewek yang suka sama cowok tanpa alasan. Gue suka sama lo karena lo itu Suga!"
"Ck!" Suga berdecak pelan, dia ikutan kesal jadinya. Lantas, dia kembali berkata, "lo tau cewek gue?"
"Gak mau tau," jawab Dara sembari memalingkan wajahnya, tak ingin menatap Suga. Dia sedikit gugup saat ini.
"Cewek gue itu—"
"Stop, Kak! Gue bilang GAK MAU TAU dan GAK PERLU TAU. Lo ngerti kan sama ucapan gue?" Dara memotong ucapan Suga dengan tajam, dia menekan setiap kata yang diucapkannya ditambah dengan tatapannya yang tak suka.
"Kenapa lo gak mau?" tanya Suga mencecarnya.
Dara menghela napasnya yang terasa sesak di d**a. Dia menunduk tak ingin melihat tatapan dingin yang diberikan oleh crush-nya. "Gue ...."
"Lo udah tau gue ada pacar, kenapa masih suka sama gue?" Suga kembali bertanya tanpa memikirkan reaksi Dara.
"Seharusnya, kalau lo tau, lo berhenti di tempat. Gak perlu ngejer-ngejer gue lagi, lo pasti tau gimana sakitnya hati pacar gue selama ini gara-gara lo, 'kan?"
"Gue gak peduli," jawab Dara sembari menatap Suga, sama dinginnya. Dia ingin menangis, sungguh!
"Lo ... egois, Dar!" Suga berkata tak percaya dengan kepala yang menggeleng.
"Ya, gue egois. Lo gak akan pernah tau rasanya, gimana perjuangan gue untuk jatuh hati lagi setelah disakitin yang hebat. Lo gak paham, Kak!" Dengan mata berkaca-kaca, Dara berkata tegas kepada Suga.
"Jadi, gue minta sama lo buat kasih gue kesempatan untuk memperjuangkan perasaan gue. Please," pinta Dara memelas lagi. Dia menyingkirkan harga dirinya untuk memohon hal mustahil di hadapan Suga, dia tahu jawaban yang akan didapatkan tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?
Suga menghembuskan napas dan berkata, "gue udah ada pacar, Dar. Dan, gak akan pernah suka sama lo."
Dara menggeleng dengan seringai. "Mungkin saat ini lo gak suka sama gue, Kak. Tapi bisa gue pasti, beberapa waktu ke depan ... lo bakal bucin sama gue!"
Suga menggeleng.
"Selagi lo belum sah dimiliki oleh orang lain di negera dan secara agama. Lo masih bisa jadi milik gue, Kak." Dara kembali berkata.
Mendengar itu, dengan gerakan lambat Suga membereskan barang-barang nya di meja dan berdiri. Dia berkata, "kesempatan lo cuma sekali. Sebulan, cukup kita dekat cuma sebulan."
Dara melongo dan tidak menghentikan Suga yang lekas pergi setelah mengatakan itu. Dia menahan senyumnya dengan air mata yang hampir menetes.
Gadis itu langsung mengambil handphonenya guna mengirimkan pesan kepada Khalid.
[Anda]
[Gue berhasil, tolong, semoga ini kesempatan yang bisa jadi keberuntungan buat gue]
•••
Dara mengetahuinya.
Tahu siapa kekasih Suga sebenarnya. Dia sudah merasakan hal tersebut sejak dirinya meminta bantuan untuk Suga mengajarinya bermain basket.
Perlu dijelaskan di sini bahwa pemuda itu adalah tipe berduri. Jika ingin didekati harus meminta izinnya, kalau tidak, kau akan tersakiti.
Masih ingat, saat Dara berucap yang langsung di tatap dengan dinginnya sewaktu di kantin?
Dara duduk di samping pemuda itu dan terlihat jelas bahwa dia sedikit menggeleng untuk menolak nya. Namun, Suga meng-iyakan ajakanya berakibat dirinya di beri harapan palsu.
Biar Dara bisikan sesuatu, saat menyetujuinya. Suga berpokus kepada objek di belakang Dara dengan anggukan.
Di sana ada Rana.
Ya, Rana. Suga setuju dengan Dara setelah melihat Rana. Ini adalah prediksi pertama.
Yang kedua, Suga adalah style cowok yang akan selalu ngerespon setiap tindakan seseorang yang dianggapnya dekat.
Masih berada di kantin siang itu, Suga hanya mengeluarkan suaranya kepada dua manusia. Pertama Khalid, Dara memwajarkan hal ini karena mereka sahabat dan sangat dekat. Dan yang kedua adalah Rana, Crush Dara tersebut selalu menjawab setiap ucapan Rana di kantin membuat mereka semua memiliki pemikiran negatif kepada keduanya.
Rana ... lo siapanya Suga?
Dan, prediksi terakhir yaitu Nabil. Kekasih Alpiyya, dan satu-satunya saksi di mana Suga memberitahu jika dia memiliki pacar.
Setelah Khalid mengatakan jika ingin menjadi bapak comblang dirinya dan Suga, Nabil memberitahukan segalanya kepada pemuda itu. Siapa kekasih Suga dan sejak kapan mereka berpacaran.
Ya, Khalid tidak akan pernah memberitahu Dara. Namun, setelah kejadian di mana Dara di tinggal serta menunggui Suga yang berjanji mengajarinya bermain basket.
Khalid memberitahukan segalanya. Dan Fuspita mendungukung Dara.
Bahwa, kekasih Suga adalah sahabat di—
"WOI!"
"ANJENG!" Dara berjingkat kaget saat seseorang berteriak tepat di telinganya, membuat khayalan nya buyar seketika.
Itu Khalid yang santainya duduk di kursi Suga tadi. Mereka masih di cafe itu. Khalid menyengir lebar dan meminum latte milik Suga yang masih banyak. "Cie, berhasil nih jadinya?" tanyanya jahil.
Dara mengangguk cepat. "Yoi, huhu! Seneng banget gue, Lid!" sembur Dara.
"Bagus. Selagi lo bahagia, lakukan apa saja untuk mempertahankan sumber kebahagiaan lo itu," kata Khalid.
"Lo bakal selalu ngedukung gue kan?" Dara bertanya penuh harap.
Khalid tersenyum manis dan mengangguk. "Tentu, anything for you, Dear."
"Ta-tapi ...." Dara mengembungkan kedua pipinya menatap Khalid dengan ragu.
Khalid menggeleng dengan dahi mengerut dalam. Dia menyipitkan matanya menatap Dara. "Lo udah ambil langkah yang melewati batasnya, Dar. Jangan ragu, karena lo bisa jatuh!"
Dara menghembuskan napasnya sembari mengangguk walaupun dia sedikit ragu. "Bantu gue Lid," cicitnya sembari menundukkan kepala.
Khalid berdecak pelan lalu mencondongkan tubuhnya bagian atasnya mendekati Dara. Dengan lembut, dia mengusap kepala gadis itu sembari berkata, "mulai detik ini, Suga milik lo. Bukan orang lain, apalagi sahabat lo. Paham?"