Menfess dari Suga (?) Part 2

1073 Kata
"Aku milikmu." Satu kalimat, dua kata yang ingin kudengar dari bibirmu. Namun, ini adalah hal yang tak akan pernah terjadi. ••• "Sama Kak Suga." Kalimatnya membuat seluruh orang membeku terkejut, tidak ada yang berani mengeluarkan suara sedikitpun bahkan bergerak. Semua orang seperti di kutuk menjadi batu, bahkan yang mengucapkan nya saja sedang merutuk sembari memukuli kepalanya pelan. Ceroboh Kecewa Cemburu Kesal Bingung Dan, tak terima Perasaan yang sedang di alami oleh Dara membuatnya berani mengucapkan hal itu. Walaupun begitu, dia tidak menyesal karena jika benar yang mengirimkan menfess itu adalah Suga, membuat Dara ingin menunjukan bahwa dia merupakan sosok egois yang tak akan pernah membiarkan crush nya pergi begitu saja. Tanpa hasil dan memberikan penyakit hati. Dara menghela napasnya yang terasa berat, dia bisa merasakan tatapan jahil Fuspita yang terus memandangnya serta tatapan anggota OSIS yang terkejut. "Kaget ya? Sama, gue juga." Dara berceletuk dengan nada canggung. "Kaget sama mulut gue yang berani-beraninya bilang kek gitu, hahaha," lanjutnya sambil terkekeh geli. "Gue gak tau hubungan gue ini gimana, gue suka sama Kak Suga tapi dia very very very cold. Gue harus gimana, guys?" Dara bertanya, nada suaranya sedikit bergetar walaupun senyuman tersemat di bibirnya. "Coba kita buat analisa statistik perbandingan ya." Dara mengambil napas dalam-dalam dan kembali berkata, "kalau benar menfess tadi dari Kak Suga ... berarti dia ada cowok dong? Tapi, Kak Suga gak akan nulis panjang kali lebar seperti persegi panjang macam pesan itu. Dia anti loh. Bisa di pastiin kalau ini bukan Kak Suga kali ya?" "Kak, jawab dong." Dara mencebikkan bibirnya masam. "Hari ini kita tetap nge-date di tempat yang gue send ke chat lo. Gue tunggu siang ini, kalau lo gak dateng ...." ".... gue bakal nempelin lo 24/7 gak ada bantahan!" Sementara di luar ruang rekaman, Fuspita berdiri dengan hati yang tidak cemas sama sekali. Dia tahu, siapa yang mengirimkan pesan itu dan tujuannya, because, gadis itu yang terlebih dahulu menyortir para pesan dan membiarkan Dara membacanya. Bahkan, dia tahu. Jika benar Suga memiliki kekasih, siapa itu kekasihnya. Ingat, dia kekasih Khalid bukan? Ceklek! Fuspita menoleh saat pintu ruangan terbuka yang menampilkan Rana dan Alpiyya masuk dengan khawatir. "Kenapa?" tanya Fuspita berwajah datar. "Kok lo biarin aja sih dia?" Alpiyya bertanya bingung sembari menunjuk ke arah Dara menggunakan dagu nya. "Kenapa emang?" Fuspita bertanya dengan alis yang terangkat sebelah ke atas. "Kenapa sih, Mpus? Ada yang salah? Itu beneran dari Kak Suga?" tanya Rana beruntun, dia bingung dengan sikap Fuspita yang aneh dari biasanya. Fuspita berdecih pelan dan memalingkan wajahnya tak ingin menatap sahabatnya itu. "Lo jangan tanya gitu karena lo yang paling tau apa yang sedang terjadi di sini," ketusnya. Rana terdiam, dia menggigit bibirnya kuat-kuat lalu menatap Dara yang masih berceloteh panjang lebar di seberang sana. "Gue gak tau," lirihnya mengelak. Fuspita mendengar itu lantas menarik lengan Rana kuat-kuat dan berjalan cepat untuk ke luar ruangan OSIS tersebut di ikuti oleh tatapan bingung mereka. Alpiyya ingin membuntuti tetapi kakinya tidak bisa bergerak sedikitpun dan memilih memberikan semangat kepada Dara. Fuspita menarik Rana ke ke taman belakang sekolah dan menghempaskan gadis itu membuat oleng tapi tak sampai terjatuh. Rana mengusap bekas cekalan Fuspita sembari meringis perih. "Kenapa sih, Mpus?" Fuspita menatap gadis yang berdiri di depannya dalam, tak ingin berbicara. Membuat Rana menjadi canggung. "A-ap-a?!" Dia membentak spontan dengan mata yang menghindari tatapan Fuspita. "Kenapa lo bilang gitu?" Fuspita mengeluarkan suaranya setelah diam beberapa menit. "Hah?" "Lo yang ngebuat Kak Suga ngirim menfess sewaktu jadwal Dara, 'kan?" tanya Fuspita menyipitkan matanya curiga. Rana menggeleng cepat. "Gak! Bukan gue!" "Gak mungkin ada asap kalau gak ada yang menyulut api. Jujur sama gue Ran, gue udah kenal lo sejak lama dan lo ... mencurigakan," kata Fuspita. Rana berdiri gelisah dengan kepala yang masih menggeleng menolak pernyataan Fuspita. "Gak, gak. Gue enggak Mpus," lirihnya sembari menunduk. "Rana ... lo tau gimana sifat Dara dan peringai dia, lo paham kan apa yang bisa dilakuin sama gadis itu? Lo masih mau menyembunyikan semuanya?" Melihat reaksi Rana membuat Fuspita sedikit melunak dan berkata lembut dengan tangan mengelusi kepala Rana. "Gue gak mau Dara terluka, apalagi lo. Gue gak siap kehilangan dua sahabat yang selalu ada buat gue," lanjutnya. Rana mendongak dengan tatapan yang sulit di artikan Fuspita. "Enggak Mpus, bukan gue. Bukan ...." Fuspita diam saja, mencoba menatap kedua bola mata Rana untuk mencari jawaban yang mustahil. Karena yang di dapatkan hanya sebuah kecemasan dan kegugupan yang terpancar. "Please, percaya sama gue Mpus. Gue bukan apa yang lo tuduhkan," kata Rana lagi sembari memegang kedua tangan Fuspita dan meremasnya pelan. "Gue gak bisa ngomong sama lo sekarang, bisa tunggu gue? Gue janji ...." "Apa?" "Gue harus memastikan satu hal sebelum memberitahu kalian semua. Gue butuh persiapan, lo bisa kan?" Rana menatap memelas kepada Fuspita. Akhirnya, dia mengangguk pelan. "Gue gak bisa janji. Tapi, untuk beberapa saat ini gue bakal diam," katanya. "Kalau lo pacar Kak Suga," lanjut Fuspita dalam hati. ••• Dara dan Alpiyya menunggu Fuspita dan Rana di kantin yang sudah sepi. Pasalnya, saat ini sudah bel masuk. Mereka membolos setelah membuat kegaduhan di seluruh penjuru sekolah. Hebat bukan? "Dar, lo gak takut bilang gitu di radio sekolah?" Alpiyya bertanya pelan, berhati-hati saat melihat mimik wajah Dara yang bete. Dara menggeleng pelan. "Gak, kenapa?" Alpiyya menaikkan sebelah alisnya ke atas bingung. "Tanya aja, lo yakin gak bikin Kak Suga makin menjauh? Itu beneran dari Kak Suga?" tanyanya lagi. "Biasa aja. Ada apa, Alpiyya?" Dara bertanya dengan nada lembut saat menyadari reaksi sahabatnya itu. Dia menatap Alpiyya dengan tatapan bingungnya. Alpiyya menghela napas pelan. "Gue ... tau sesuatu, tapi ragu bilang ke lo. Ntar lo kecewa," lirihnya sembari menunduk. "Ya udah, gak usah di kasih tau." Dara berkata acuh dengan mengedikkan bahunya. Alpiyya mendongak dan menatap gadis itu aneh. "Lo gak penasaran? Kok gitu?!" Dara berdecak pelan dan menatapnya sinis. Lalu berkata ketus, "kalau lo gak mau kasih tau ya udah, gue gak mau maksa. Dan, kalau itu ngebuat gue kecewa, lebih baik gue gak tau sama sekali daripada harus tau dan ngebuat beban di hati gue." Alpiyya mengangguk paham. "Hm, iya juga ya. Gue paham, Dara pinter!" serunya menyengir. Dara terkekeh pelan. Dia ikut menyengir. "Lo mau bilang tentang Rana 'kan, Piyya? Sorry, gue udah tau duluan," ucap Dara dalam hati. Tatapan matanya semakin sayu saat melihat Rana dan Fuspita berjalan mendekati mereka. Saat sudah mendekat, dia tersenyum manis dan merangkul ketiga sahabatnya. Sungguh, Dara tidak ingin kehilangan siapapun. Tetapi, hatinya membuat gadis itu ingin menjadi egois.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN