My Crush

1083 Kata
"Kau tahukan aku egois? Jadi, semua yang kusuka akan selalu menjadi milikku walaupun harus menggunakan cara busuk sekalipun." ••• Saat ini, adalah Dara tengah gelisah. Kedua kakinya tak bisa diam, selalu menghentak-hentak di lantai menimbulkan suara menganggu membuat lirikan tak santai dilayangkan oleh anggota osis kepada gadis itu. Pasalnya, dia ingin mengganti jadwal kunjungan yang telah ditetapkan, namun, tidak ada yang menyetujuinya. Baik pihak kesiswaan ataupun anggota osis. Fuspita yang jengah melihat sikap sahabatnya tersebut pun berkata, "lebih baik diundur aja gak sih? Udah dua puluh menit kita nunggu kendaraan yang disediain tapi gak datang-datang juga." Dara menatapnya penuh harap dan mengangguk-angguk cepat. "Ho'oh! Gas, bubar, bubar! Kunjungan dibatalin, nanti gue atur lagi," usirnya seraya berdiri dan mengipas-ngipas tangannya kepada anggota osis yang tampak tak menyetujuinya. Namun, tak ada yang berani dengan gadis itu. "Kenapa, Kak?" Mereka bertanya-tanya bingung dengan melirik satu sama lain. Dara tersenyum manis membuat lesung pipinya terbentuk indah, sangat menggemaskan. "Sekolah kita lagi tanding, ya kali gak liat? Udah lah, ini juga gak tau mau jalan jam berapa. Ngaret tau, capek nunggu gue!" alibinya. Fuspita yang sedari tadi menyimak pun tertawa kecil lalu gadis itu menunjuk random anggota dan menyuruhnya mendekat. "Hei, coba lo ke ruangan kepsek. Tanya ke beliau, mobilnya bisa gak hari ini gitu. Kalau masih lama, dibatalin aja soalnya kita mau dukung pertandingan basket. Jangan pake lama ya," kata Fuspita yang diangguki oleh anggota itu. Fuspita kembali memusatkan perhatiannya kepada Dara yang berwajah cerah seperti matahari mendengar ucapannya barusan, padahal sepuluh menit yang lalu, atmosfer di sekitar dia seperti awan gelap. Fuspita mencolek pelan lengan Dara dengan sebelah alis terangkat ke atas. "Bisikin gue kali apa rencana lo, Dar. Gue kepo tingkat akut nih," bisiknya santai. Dara mengerlingkan matanya menatap Fuspita jahil. "Cie penasaran, kekeke~" "Hehe, cepet lah bilang sebelum kita otw nih, ntah ke lapangan atau ke gedung," ujar Fuspita terkekeh pelan. Dara berpura-pura berpikir dan meliriknya dengan senyum menggoda. "Kenapa gak tanya ke ayang beb lo aja deh, Mpus?" "Ck, lagi ngambek gue. Udah, gercep bilang ih!" Fuspita melirik Dara sebal sembari mengerucutkan bibirnya masam. "Bisikin satu rencana aja deh," lanjutnya menawar. Dara terkekeh pelan melihat betapa menggemaskan wajah puppy eyes milik Fuspita dan mengangguk pelan. "Emm, dari mana ya gue mulainya~" "Is, is!" "Ahaha, oke-oke! Jadi ...." Ucapan Dara menggantung dikarenakan gadis itu ingin menyamankan posisi duduknya menghadap Fuspita dan kembali berkata, "gue udah pikir ini mateng-mateng, Mpus. Gue bakal ngasih SP ke Kak Suga dan panggil dia ke konseling antar siswa ke ketos. Menurut lo gimana?" Fuspita menyipitkan matanya dengan dahi mengerut. "Jangan bilang, ini ide ...." Dara menyengir pelan dan berkata, "iya, hehe. Ide doi lo, Khalid." "Ck, terus lo mau ngikutin ajaran dia gitu?" Fuspita bertanya sebal. Dara mengangguk. "Ho'oh! Otak gue buntu, Mpus. Mana waktunya mepet banget, gak bisa mikir lagi jadi gue ngikutin saran Khalid. Menurut lo gimana?" tanyanya dengan mata sedih dan langsung berubah berbinar-binar menatap Fuspita. "Em, ide yang lo pake itu alasan teraneh yang pernah gue denger. Pertama, progja yang lo ajuin itu masih tahap review, 'kan?" Fuspita bertanya kepada Dara. Dara mengangguk. "Iya sih ...." "Kedua, lo gak punya wewenang buat mendengar dan menjadi tempat untuk siswa-siswi mengatur poin-poin pelanggarannya. It's oke for sesi curhat begitu? Setuju gue kalau ini," lanjut Fuspita memberikan pendapatnya. "Yahh," desah Dara menunduk sedih. "Dan yang terakhir, gak ada jaminan buat Kak Suga bakal hadir disesi yang lo buat. This is Suga, man! The real mister cool, yang bener-bener gak peduli sama sekitarnya," kata Fuspita menyadarkan Dara. Dia mengelus-elus kepala sahabatnya itu yang seperti anak anjing kecil menggemaskan. "Terus gue harus gimana?" tanya Dara lirih. "Tapi, gak ada salahnya buat dicoba." Dara tersenyum kecil dan mengangguk. Belum sempat dia menjawab ucapan Fuspita, dobrakan kencang pintu ruang OSIS menarik perhatian mereka semua. Rupanya, Alpiyya datang dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya serta napas terengah-engah sehabis lari jauh. Dia berjalan mendekati Dara dengan wajah paniknya. "Atur napas lo dulu," kata Fuspita saat Alpiyya ingin berbicara, dia menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu. Setelah beberapa saat, Dara menyentuh pelan bahu Alpiyya dan bertanya, "lo kenapa ada di sini? Kenapa, Piyya?" "Gawat, Dar! Kak Suga pingsan!" *** "MINGGIR ANJIR, LO TAU ORANG MAU LEWAT GAK SIH?" "PAKE KUPING KALIAN, GUE PERLU TERIAK KAYAK ORANG GILA DI SINI, HAH?!" Fuspita, Alpiyya, dan Rana spontan menutup telinganya saat Dara dengan kencang berteriak dari kejauhan yang ingin mendekati UKS, di mana keadaan sangat ricuh. Antrian panjang ingin mengetahui keadaan prince sekolah sangat dibutuhkan kali ini, bukan lagi soal kemenangan. Melihat tidak ada tanda-tanda siswa di sekolahnya yang ingin memberikan jalan membuat Dara bercakak pinggang lalu memasuki sebuah kelas dan menggeret kursi. Dia lantas berdiri di atasnya dan kembali berteriak, "KALIAN PADA TULI, HAH? MINGGIR, GUE MAU LEWAT." "MINGGIR, BODOH! KALAU ADA YANG GAK BERI GUE JALAN, KALIAN SEMUA GUE MASUKIN KE BUKU HITAM!!" Teriakan gadis itu sangat membahana hingga terdengar sampai ke dalam UKS. Akhirnya, dia diberi jalan untuk mendekat diikuti oleh para sahabatnya. Khalid dengan sigap langsung membuka pintu dari dalam dan menutupnya lagi saat tatapan-tatapan sasaeng yang ingin dicolok itu berusaha mencari celah ikut masuk ke dalam. Di dalam sana tidak hanya ada Khalid sendiri, ada Nabil yang memainkan gamenya dan Suga yang tengah berbaring memejamkan mata. Fuspita berjalan mendekati pacarnya. "Kamu gak papa, beb? Gak kena bola, 'kan?" tanyanya cemas. Khalid menggeleng. "Enggak, Ayank. Ako baik-baik aja selama Bebeb Mpus baik, kekekeke." "Jijik, anjir!" Mereka berbarengan mengumpat mendengar kealay-an dua pasangan tersebut. Dara melirik kesal lalu berjalan dan duduk di kursi samping tempat tidur milik Suga. Gadis itu duduk memperhatikan guratan-guratan wajah pemuda tersebut dengan hati yang berdebar. Para sahabatnya pun mengerti dan bergerak menjauh, duduk di dekat pintu UKS serta menutup tirai tempat tidur agar tidak melihat insteraksi keduanya. Dara tersenyum kecil. "Kak Suga gak papa? Sakit ya Kak?" tanyanya melirih, sangat kecil dan pastinya tidak ada yang mendengar. Seperti ada yang menggerakan tubuhnya, tangan Dara terangkat dan mengelus lembut benjolan berwarna ungu kehitaman di kening Suga. Sumber masalah yang dialami pujaan hatinya beberapa waktu yang lalu. Melihat pergerakan di bola mata Suga membuat Dara dengan cepat menarik tangannya dan duduk tegap. Gadis itu tersenyum manis hingga matanya menyipit seperti garis. Dia mendekatkan kepalanya ke arah Suga dan berkata lirih, "get well soon, my Cursh." Setelah mengatakan itu, Dara segera bangkit dan meninggalkan ruangan UKS tersebut tanpa tahu jika objek yang dikaguminya sejak tadi tidak tidur sama sekali dan mengetahui segala hal yang dilakukannya dengan hati yang terbakar marah. Marah dengan dirinya sendiri karena sedang menyakiti beberapa hati yang dia jaga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN