"Aku jatuh cinta dengan segenap jiwa. Jika cintaku hilang, maka jiwaku ikut melayang."
•••
"Soo?" tanya Fuspita heran melihat Dara yang tersenyum senang sejak beberapa menut yang lalu.
Saat ini, mereka sedang Girl's time di rumah Dara yang biasa menjadi markas mereka. Ah ya, jika circle lelaki memiliki nama sedangkan circle mereka bernama COKIBER yaitu Cowok Kita Bersama.
Sepulang sekolah tadi, Dara yang tidak b*******h hidup membuat mereka bingung dan panik dan menyarankan untuk quality time sampai malam. Menghabiskan waktu bersama seperti biasanya.
"Pas pulang sekolah lo kayak mayat hidup sekarang udah kayak bunga bermekaran. Cerita kali ah," cetus Rana penasaran.
Dara menyengir senang dan berkata, "pas pagi tadi Khalid bilang sama gue kalau—"
"Bentar, Dar!" ucap Rana memotong ucapan Dara ketika bel rumahnya berbunyi. "Gue liat dulu ya."
"Oke, nanti gue lanjut kalau lo udah balik," balasnya tersenyum senang.
Fuspita menyenggol bahu Dara menggunakan bahu nya sembari menaik turunkan kedua alisnya berniat menggodai sahabatnya itu. "Cie-cie, pasti berhubungan dengan doi nie."
"Iya dong," balas Dara semangat. Lalu ia kembali berkata, "oh iya, MPUSS! Gue baru inget, bisa gak sih kalau SP Kak Suga gak usah turun?"
"Lah kenapa? Itu hukuman buat anak nakal," jawab Fuspita bingung.
"Tapi kan itu ...." cengir Dara tanpa bersalah.
Fuspita yang mengetahui tujuan Dara pun mendengkus malas dan berkata ketus, "gak! Dia harus bertanggung jawab dengan apa yang dia lakuin."
"Enggak loh, Kak Suga lakuin itu pasti lagi gabut. Gue yakin deh," elak Dara memelas.
"Dih apaan coba, gak mungkin Dar. Udah deh, terima aja lagian lo udah hapus banyak pelanggaran dia kan?" tanya Fuspita sinis.
Dara terkekeh singkat lalu menyengir. Alpiyya yang sedari tadi menyimak karena sedang bertukar pesan dengan sang kekasih pun menaikkan kepalanya untuk bertanya, "kok Rana lama banget sih? Gue udah penasaran sama cerita Dara, nih."
"Gak tau nih. Coba lo cek Dar siapa tau tuh anak malah keluar," ucap Fuspita.
Dara mengangguk dan berjalan ke arah pintu untuk mengecek keberadaan Rana sebelum pintu tersebut terbuka dari luar yang memunculkan keberadaan gadis yang mereka cari.
Rana menyengir meminta maaf sembari berjalan mendekati ranjang.
"Akhirnya, kok lama banget sih, Ran?" tanya Dara menggerutu sembari kembali ke posisi duduknya tadi di atas ranjang Rana.
"Ah ya, ada tamu hehe." Rana hanya tersenyum ceria.
"Jadi, gimana cerita lo?" tanya Alpiyya langsung karena sudah tidak sabar terhadap Dara.
Dara menyeringai sejenak dan berkata, "Khalid bilang sama gue kalau Kak Suga udah ada cewek."
"What?!" pekik Rana dan Alpiyya secara bersamaan Fuspita hanya diam di tempat duduknya dengan tubuh menegang.
"Lo serius, Dar?" tanya Alpiyya meyakinkan.
"Serius, Nabil sendiri yang tanya ke Kak Suga malah." Dara mengangguk-angguk berusaha meyakinkan sahabatnya.
"Lo tau ... siapa pacarnya?" tanya Fuspita ragu menatap Dara.
Dara tersenyum lebar dan kembali berkata, "terus 'kan Khalid tanya tuh sama Kak Suga. Apa dia ada pacar atau enggak ... nih baca."
Dara menyerahkan handphone nya yang berisi percakapan antara ia dengan Khalid beberapa waktu yang lalu.
[Khalid Bucin Mpuss]
[Suga free. Dia ngomong sendiri sama gue dan Nabil. Lo tenang aja Dar, gue bakal comblangin kalian berdua. Duduk santai dan jangan kepikiran lagi, okay?]
"Ya ampun cowok gue, perhatian banget. Tambah cinta, kekeke." Fuspita terkekeh senang setelah membaca isi pesan dari Khalid.
Alpiyya bertepuk tangan riang menyetujui ucapan Khalid. "Setuju banget, gue bakal jadi tim sukses lo, Dar. Ya gak Ran?"
"Eoh?" Rana menoleh terkejut mendengar namanya di panggil Alpiyya. Ia tersenyum singkat sambari merebahkan dirinya di ranjang. "Hmm."
"Jadi, strategi apa yang bakal lo lakuin, Dar?" Fuspita bertanya kepada Dara yang sedang memelototi layar handphone berisikan pesan Khalid.
"Lo tau 'kan kalau gue gak bakal ngelepasin apa yang udah gue suka? Walaupun Kak Suga nolak gue habis-habisan, gue gak bakal nyerah! Gue ada 1001 cara buat bikin Kak Suga suka gue," ucap Dara yakin dan mantap.
"Ini PR buat lo Dar, besok lo harus lapor ke kita ... langkah apa yang bakal lo ambil sebelum ngelakuin nya, oke?" tanya Rana.
"Setuju, jangan gegabah pokoknya. Kesempatan ini harus digunain sebaik mungkin, kalau lo salah langkah semua perjuangan lo bakal sia-sia," tambah Alpiyya.
Fuspita mengangguk menyetujui dan ikut berkata, "walaupun Kak Suga udah ada cewek. Inget kata pepatah, sebelum janur kuning melengkung di depan rumah ... dia masih milik bersama."
Mereka berempat tertawa mendengar ucapan konyol Fuspita.
Alpiyya yang pertama kali menghentikan tawanya, mencoba menormalkan ekspresi lalu bertanya, "Oh ya, besok 'kan ada tanding basket tuh. Kalian ikut 'kan?"
Fuspita dan Dara spontan bertatapan. Fuspita mengusap tengkuknya ragu, "Duh, gue bingung. Besok Osis ada kunjungan lapangan buat olimpiade minggu depan yang pasti gue sama Dara gak bisa izin."
"Gue ikut nonton," cetus Rana membuat mereka menoleh ke arah gadis itu.
"Okeh, nanti kalau kelas lo selesai duluan. Jemput gue ya," ucap Alpiyya dibalas anggukan oleh Rana.
Dara tersenyum kecut dengan hati yang berharap bisa ikut melihat pertandingan basket pujaan hatinya tersebut. Lantas, Fuspita yang memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu pun mencubit kedua pipi chubby Dara gemas.
"Kenapa muka lo kecut lagi sih, Ketua Osis? Bu Ketua ini gak lupa 'kan kalau punya wewenang yang bisa ngundurin jadwal?" tanya Fuspita tersenyum manis dengan nada menggoda.
Dara yang seketika ingat hak nya sebagai ketua osis lantas tekekeh senang. Ia melepaskan cubitan Fuspita dan memeluk gadis itu. "Iya, gue lupa! Makasih Mpus udah ingetin, jadi besok kita semua wajib pergi nonton pertandingan basket!"
Rana dan Alpiyya ikut memeluk kedua sahabatnya dengan erat. "Hmm, udah lama gak berpelukan kayak teletubis gini, ya hehe."
Secara tidak sadar, di antara mereka sedari tadi ada yang mengeluarkan mimik wajah tidak rela dan tidak suka terhadap obrolan mereka. Mungkin di antara kedua wanita tersebut menyadari tatapan tersebut.
Ia sangat sadar perubahan ekspresi wajah sahabatnya yang sudah lama dikenal. Dan ia yakin sekali jika sahabatnya itu terlihat cemburu dengan pembahasan mereka. Tetapi ia berusaha untuk bersikap positif dan membuang jauh-jauh pikiran negatifnya.
Ia adalah Alpiyya, yang duduk di hadapan gadis itu. Alpiyya yang pertama kali melepaskan rengkuhan tersebut pun bertanya, "kalau di antara kita suka sama satu orang yang sama. Kalian bisa ngalah satu sama lain, 'kan?"
Kalimat itu menjadi percakapan terakhir mereka malam itu sebelum keheningan terjadi dan mereka memutuskan untuk pulang dengan perasaan kacau masing-masing.
Terlebih Alpiyya, yang masih terngiang-ngiang ekspresi gadis di hadapannya yang hampir mengeluarkan sumpah serapah mendengar ucapan Dara untuk memiliki Suga seutuhnya.