Aku akan selalu mencintaimu, sebagaimana sikapmu terhadapku dalam batas waktu diriku lelah mengejarmu. Saat sampai masa itu, maka baca kembali ke empat kata pertama.
•••
[Khalid Bucin Mpuss]
[Langsung ke lapangan tar sehabis dapat osis ye, Suga mau ngajarin lo basket]
[Cie yang mau berduaan sama doi, jan malu-maluin ye!]
Sesuai dengan perkataan, Khalid. Maka, di sinilah Daea berada. Duduk selonjoran di pinggir lapangan sejak beberapa jam yang lalu, menunggu ke datangan Suga yang belum hadir.
Gadis itu menatap lapangan yang tengah ramai oleh anggota basket, sekitar dua belas orang mungkin? Ya, mereka sudah menawarkan untuk Dara pulang dan tidak menunggu Suga lebih lama, karena pria yamg bernotabe kakak kelasnya itu sedang izin libur.
Menurut pandangan Dara, Suga libur karena ingin mengajarkannya bermain basket. Namun, pada kenyataanya adalah pemuda itu libur karena ada urusan mendadak, begitu lah yang dia sampaikan kepada tim basket. Ya walaupun mereka sudah mengusir Dara agar tidak menunggu Suga, tetapi gadis itu keras kepala.
"Gak papa, anggap aja gue lagi nilai kinerja tim basket," gumam Dara berusaha berpikir positif.
Ting!
Mendengar suara notifikasi handphonenya membuat Dara dengan cepat mengambil handphone tersebut dan ternyata Khalid yang mengirimkannya pesan singkat.
[Khalid Bucin Mpuss]
[Lo di mana dah? Gue ma bebeb dah di depan rumah lo nih]
[Lo dah balik kan? Yakali jam segini masih berduaan mulu]
[Daraaa~]
[Awas jan tergoda, tar yang ketiganya setan loh!]
[Kekekeke^π^]
Dara terkekeh kecil membaca pesan Khalid yang menaikkan sedikit mood-nya. Apalagi jika membayangkan ekspresi wajah sahabatnya itu, baru menatapnya saja sudah membuat orang lain tertawa. Emang sereceh itulah Khalid.
[Anda]
[Gue lagi di sekul. Why Lid?]
[Lagi nungguin Kak Suga nih :)]
Setelah mengatakan itu, Dara menaruh handphone nya dan tidak melihat kembali apa Khalid sudah membalas pesannya atau tidak.
Dara mendongak menatap ke arah langit yang mulai berganti menjadi hitam, angin berhembus kencang membuat hawa menjadi dingin.
Gadis itu mendesah lirih. "Hahhh, sampai kapan gue nunggu gini, sih? Perjuangan banget ini mah," gumamnya dengan senyuman sayu.
Gadis itu mengedarkan retinanya menatap lapangan yang di mana para anggota basket tengah membereskan peralatannya. Dara kembali menatap jam di pergelangan tangan yang menunjukan waktu saat itu.
17.30
Tes!
Tes!
Setitik-titik air hujan mulai turun membasahi bumi, membuat Dara dengan cepat mengambil barang-barangnya dan berlari untuk berteduh di gedung sekolah yang berjarak sepuluh meter saja.
Gadis itu menepuk-nepuk rambut serta seragamnya yang sedikit basah. "Hah, s**l banget hari ini. Kenapa hari ini harus hujan sih?" tanyanya mengumam kesal sembari menyenderkan tubuhnya di tiang pembatas.
"Kak, gak pulang? Udah hujan nih, kalau ditunda-tunda nanti makin deras."
Dara memoleh saat suara menyapa gendang telinganya. Rupanya anggota basket sudah siap dengan ransel di punggung mereka untuk pulang. Dara menggeleng pelan. "Duluan aja, Dek. Gue mau nunggu Khalid dulu," katanya.
Mereka menoleh satu sama lain dan kembali menurunkan ranselnya serta duduk di kursi panjang yang ada.
Dara menaikkan sebelah alisnya ke atas bingung. "Loh kok duduk lagi? Gak pulang? Udah sore ini, pasti nanti hujannya makin deras."
"Gak papa Kak, kami nungguin Kak Dara dijemput Kak Khalid dulu aja." Salah satu di antara mereka menjawab yang diangguki oleh semuanya.
"Atau mau bareng gue sama cewek gue, Kak?" Salah satu anggota basket maju menawar tumpangan dengan menggandeng tangan gadis yang dibilang kekasihnya itu. "Gue bawa mobil, Kak."
"Gak papa kali ya? Ada ceweknya tuh," ucap Dara dalam hati menimbang-nimbang. Akhirnya, dia mengangguk menyetujui nya. "Oke, gak ngerepotin tapi?"
Mereka semua menggeleng serempak membuat Dara terkekeh kecil. Dia mempersiapkan diri untuk menerobos hujan dengan menaruh tas di atas kepalanya agar tidak terkena tetesan air hujan yang dapat membuat sakit.
Setelah si pemilik mobil dan kekasihnya berlari ke arah parkiran. Dara pun ikut berlari, tetapi baru beberapa langkah pergi sepasang sepatu berdiri di hadapannya menghalangi jalan Dara.
Gadis itu mendongak dan menahan napas saat seorang pria berdiri di hadapannya dengan tatapan mata elang serta wajah yang emosi. Perlahan, Dara menurunkan tasnya dan membiarkan tetesan demi tetesan membasahi kepala serta seragamnya.
Dia menatap lurus pria itu dengan lengkungan bibir ke bawah. Sedangkan seseorang di hadapannya tengah dilanda kebingungan akan air yang mengalir di kedua pipi Dara. Apakah itu air hujan atau air mata?
•••
Hatcim!
"Hiks, hiks!"
Hatcim!
"Hiks, Mpuss. Hidung gue gatel, berair, gak bisa napas," rengek Dara dengan sedikit terisak dan mengeluarkan air matanya.
Bibirnya pucat, wajahnya pun pucat. Tubuhnya yang menggigil kedinginan pun terbungkus hangat oleh selimut lembut milik Fuspita.
Ya, sepasang sepatu yang berdiri di hadapannya tadi adalah milik Khalid. Mereka yang sedang kencan pun menghentikan kegiatannya demi menghampiri Dara saat pemuda itu mendapatkan pesan uang ambigu dari sahabatnya itu. Khalid sangat mengkhawatirkan Dara, begitu kata Fuspita.
"Mampus deh! Bodoh, udah tau beberapa jam orang yang ditunggu gak muncul ... bukannya pulang malah bertahan, punya otak itu dipake berpikir bukan bucin!" Khalid mengomel dengan emosinya yang tidak reda sejak tadi, wajahnya memerah marah. Sumpah serapah dia gumamkan bertuju untuk Dara dan Suga.
Dara mencebikkan bibirnya ke depan. "Is, gu-gue kan mau—HATCIM!" Dia mengusap hidung serta mulutnya sebelum berkaya kembali, "ketemu Kak Suga!"
Khalid melotot beringas. "Suga, Suga, Suga, terus! Otak lo cuma ada dia, HAH?!" teriak pemuda itu frustasi.
Dara dan Fuspita tertegun mendengar kemarahan Khalid yang menyeramkan, apalagi dengan tatapan elang miliknya. Kekasih Mpuss itu tidak pernah marah, tetapi sekali nya emosi bisa menghancurkan dunia!
"Sebelum lo mikirin orang lain, pikir dulu diri lo sendiri! Percuma mencintai orang lain kalau lo gak mencintai diri sendiri," bentaknya lagi.
Fuspita menghela napasnya dan menatap Khalid datar. "Udah, Khalid. Sekarang bukan waktunya menasehati dan mendengar nasehat. Diam sejenak, bisa kan." Dia memerintah bernada dingin, bukan pertanyaan yang diajukan tapi perintah.
Khalid memanyunkan bibirnya maju beberapa senti dan melengkos, tak ingin menatap kedua wanita itu. Fuspita mengalihkan pandangannya ke Dara sembari mengusap-usap lembut kepada sahabatnya itu. "Mau makan apa?" tanyanya perhatian.
Dara mengangguk lucu. "Ma—"
"Makan tuh cinta!" Khalid duluan menyambar dan memotong ucapan Dara yang langsung di tatap Fuspita permusuhan. Mentalnya menjadi ciut.
"s**u coklat mau?" tawar Fuspita lagi kepada Dara.
Dara mengangguk. "Mau~"
Fuspita terkekeh pelan dan mengangguk. Lalu dia pergi beranjak ke dapur guna mengambilkan keinginan Dara.
Sedangkan Khalid seperti memiliki kesempatan pun langsung berkata, "hey Bucbod! Bucin bodoh, hahaha~"
Dara memutar bola matanya malas. "Apa sih njim?!"
"Lo kesurupan apa gimana dah, Dar?"
"Apanya, sih?" tanya Dara bingung dengan nada tak bersahabat.
"b**o bet, napa lo nungguin Suga sampe beberapa jam, hah?" Khalid bertanya sinis dengan melototi Dara.
Sedangkan Dara hanya memutar bola matanya kesal. "Suka-suka gue lah!"
"Ck, gue serius Darjing!"
"Kak Suga udah janji, harus ditepatin. Kalau gue pergi terus dia dateng gimana? Gue gak mau ngebuat my crush kecewa sama sikap gue!" Dara berkata dengan lemas, syaraf-syaraf otaknya kembali berputar kepada memori beberapa saat yang lalu.
Khalid menghela napasnya yang kian berat. Baru saja dia ingin menanggapi lagi ucapan Dara, Fuspita sudah lebih dulu datang membawakan s**u hangat milik Dara dan cookies kesukaan gadis itu.
Setelah menyaksikan Dara mengalihkan perhatiannya kepada perut, Khalid lantas mengambil handphone dan mengirimkan pesan kepada Suga.
[Mr. Cold Suga]
[Where are u?]
[U will die in my hands!]