L.A.M - 14

867 Kata
Author minta maaf sempat bolong update soalnya author kemarin lagi sakit. Kalian jaga kesehatan ya!  Selamat membaca… *** Setelah selesai mengunci pintu rumah, Alan masuk ke dalam kamarnya. Ia pun berbaring di kasur. Niatnya untuk beristirahat. Namun apa daya jika otaknya tidak bisa diajak bekerja sama? Sama sekali? Iya. Sama sekali. Sebetulnya ini tidak terlalu larut malam. Lamun bukankah overthinking tidak mengenal waktu? Alan berbaring ke sana ke mari. Ia merasa tidak nyaman tidur di ranjang sendiri. Mengecek ponselnya berkali-kali. Berharap malam ini sama seperti malam yang lalu sebelum ia menyandang status menjadi seorang suami. Kinan mengiriminya pesan, inginnya. “Kinan baik-baik saja, kan?” Berulang kali ia ucapkan dalam hati. Mengapa terlihat sangat cemas? Bukankah ia berniat mendiamkan Kinan sejak awal menikah? Ia masih berusaha memejamkan mata tetapi bukannya semakin berlabuh di pulau mimpi, Ia malah semakin membayangkan Kinan. Alan lelah sendiri dengan kepalanya yang senut-senut itu. Ia pun duduk di tepi ranjang. Tap tap tap Seketika kakinya sudah berhenti di depan kamar Kinan. Ia sama sekali tak paham apa yang membawanya ke sini. Yang ia tahu ia sudah berada di depan pintu. Beberapa kali ia meragu untuk mengetuk pintu tersebut. Berulang kali pula ia membalikkan badannya untuk kembali ke kamar. Namun entah kenapa seolah ada bisikan datang di telinganya untuk segera membuka pintu kamar istrinya itu. “Kinan?” panggilnya lembut. Ia membuka pintu tersebut dengan sangat berhati-hati. “Mas?” Alan tersentak karena ia pikir Kinan sudah tidur pulas tetapi rupanya ia masih bisa menjawab. “Mas? Aku pengen pulang rumah?” Aduh! Kinan kenapa? Kok sampai ingin kembali ke rumah orang tuanya? “Kenapa kamu?” “Nggak, Mas. Aku pengen dirawat sama mama.” Tentu saja Alan semakin terpental jantungnya! Apa yang telah dilakukannya hingga Kinan merasa seolah sangat tidak betah di rumah ini dan bersamanya? Meski hanya sedikit tetapi Alan merasa bersalah. “Kenapa? Perut kamu sakit? Mau aku beliin jamu?” “Ini udah malam, Mas. Mau beli di mana?!” jawab Kinan lemas. Alan berhenti sejenak. Ia berpikir. “Ada kok. Ada apotek 24 jam di dekat sini,” kata Alan. Kalimat itu menjadi penenang untu Kinan. Tenang karena akan ada jamu pereda nyeri atau karena Alan menjadi perhatian padanya? Apapun itu jantung Kinan rasanya membaik. “Aku belikan, ya!” Alan spontan melenggang jauh tanpa memberi aba-aba pada Kinan. Ia juga tak berganti pakaian. Pokoknya Alan ingin cepat-cepat. Ia pun mengendarai motor ke sebuah apotek yang ia maksud tadi. Rupanya tak terlalu dekat. Harus menempuh sekitar 10 menit perjalanan. “Kak, jamu pereda nyeri datang bulan, ya?” “Yang mana, Kak?” Pegawai tersebut mengambilkan beberapa botol dengan merek yang sama. Hanya rasa yang berbeda. Lamun Alan terlalu bingung. Ia tak paham mana yang biasa diminum oleh istrinya. “Jeruk,” tegas Alan. Dengan berpikir singkat akhirnya Alan memilih rasa tersebut. Ia membeli tiga botol. Entah nanti akan membantu Kinan atau tidak, itu masalah nanti. Yang penting kini ia sudah berusaha untuk membantu istrinya yang sedang lemas berbaring itu. Alan membayar jamu tersebut dan kembali ke rumahnya. “Nih,” kata Alan sembari memberikan satu botol jamu untuk Kinan. “Makasih ya, Mas,” balas Kinan. Dalam hati ia tersenyum. Bagaimana Alan bisa tahu kalau rasa jeruk yang ia mau? Namun Kinan seketika ingat bahwa momen ini tidak boleh merusak tembok yang sudah ia bangun lagi. Sudah cukup mengharapkan Alan. Ia sudah tentu tak menyukainya. Kinan kembali berbaring setelah sedikit demi sedikit meneguk minuman tersebut. Rupanya Kinan dari tadi merasa nyeri di perut bawahnya.  Apakah mereka berdua terkoneksi? Alan tak bisa menenangkan otaknya untuk tidur. Ada saja pikiran yang dari tadi membuatnya cemas. “Tidur aja. Aku tidur di situ,” papar Alan.  Bukan pertanyaan lagi. Sudah jelas Kinan kaget dengan pernyataan Alan barusan.  Situ mana? Di kamar ini? Begitu pikiran Kinan. Ternyata benar. Alan berjalan ke bean bag empuk yang ada di kamar Kinan ini.  “Mas? Kok nggak tidur di kamarmu?” “Nggak apa. Kasihan kamu. Cuma ada aku di rumah ini yang jagain kamu,” ucap Alan. Sudah melipat tangannya dan duduk dengan santai. Matanya juga sudah terpejam. Oh, jadi cuma karena kita hanya berdua di rumah ini makanya kamu mau di sini? Bukan niat untuk jagain aku seutuhnya. Cuma karena kasihan. Kinan sempat berpikir seperti itu. Namun ia hempaskan segera. Sambil bergerak lemas ia mencari posisi tidur yang nyaman. Tak lama kemudian, Kinan tidur dengan tenang. Mungkin karena ia merasa orang yang disukainya sedang menjaganya. Eh? Menyukai? Jadi Kinan sekarang sudah berani jujur pada dirinya sendiri? Bahwa ia menyukai Alan? Kinan membuka matanya subuh ini. Bukan langsung mengambil ponsel yang ada di nakas seperti biasanya untuk melihat jam. Melainkan ia langsung tertuju pada seseorang yang menjaganya semalaman. Dirinya sudah baikan dan tak merasakan nyeri akibat datang bulan. “Mas” lirih Kinan. Tak berniat untuk membangunkan suaminya yang masih tertidur itu. Pipi suaminya diusap dengan lembut. Ia menatap wajah suaminya itu sambil tersenyum. Seolah berkata ‘terima kasih.’ “Nan?” Seketika Alan memanggil Kinan dengan lirihan pelan itu.  Tentu saja ini membuat Kinan sedikit terkejut. Panggilan itu terlalu lembut di telinga Kinan. Ia pun sangat menyukainya. Apakah Alan sedang bermimpi lagi seperti saat ia bangun tidur di hari setelah mereka menikah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN