L.A.M - 15

1103 Kata
Kinan sangat paham bahwa ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Mengharap sesuatu yang sepertinya susah untuk didapatkan yaitu hati suaminya sendiri. Sebab sejak tadi Alan memanggilnya, belum ada secercah ucapan lagi yang keluar dari mulut sang suami.  Menunduklah Kinan karena merasa kecewa lagi. Sepertinya memang Alan masih berada di alam bawah sadarnya sehingga ia tak merasa benar-benar memanggil nama istrinya. Mungkinkah Mas Alan bukan memanggilku? Melainkan wanita lain? ‘Nan?’ Siapa dia? Nanda? Nana? Nancy? “Kinan? Udah baikan?” Pertanyaan yang mampu membuat mulut Kinan bungkam. Rupanya memang namanya yang dipanggil. Entah mengapa Kinan sering merasa tidak perlu sulit-sulit untuk menjelaskan hal yang ada di pikirannya. Alan selalu bisa membacanya. Namun mungkin semua hanya kebetulan saja. “Udah bangun, Mas?” Alan mengerjapkan matanya sedikit demi sedikit. Sangat lelah mata dan badan ini sebab hanya tidur di sebuah bean bag saja. “Aku tanya kamu. Udah baikan belum?” tanya Alan. Kinan tersenyum tipis. “Ya, Mas. Udah. Makasih ya udah beliin aku jamu semalam,” katanya. Alan duduk dengan tegap. Mengumpulkan nyawanya yang sejak tidur sudah tersebar ke penjuru ruangan ini.  “Oke kalau udah baikan. Aku mau ke kamar dulu,” pamitnya segera. Alan kembali jutek lagi. “Ngapain, Mas? Kok buru-buru?” “Mau kerja lah! Mau siap-siap,” jawab Alan ketus. Kinan terkekeh pelan. “Ini kan hari Minggu, Mas?!” Alan menghentikan langkahnya. Jemarinya sudah berada di gagang pintu dan siap menarik pintu tersebut. “Oh? Minggu ya? Masa sih?” Kinan mendekati Alan. “Iya, Mas. Kemarin kan kita baru aja ketemu sama Nara sama Rendy, temanmu.” Alan menarik tuas pintu tersebut. “Mmm ya udah. Aku mau balik kamar.” Gawat! Lama-lama kalau aku di dekat Kinan … jantungku rasanya kayak lagi di club! Kinan memperhatikan punggung suaminya yang telah memasuki pintu kamarnya. Ia pun membatin. Kenapa Alan sebegitu risihnya berada di dekat Kinan? Kinan menghempaskan pikiran negatifnya lagi. Lebih baik ia bebersih kamar saja setelah ini.  Kamarnya sedikit tak terurus sebab semalam ia datang dan langsung berbaring. Tanpa membereskan baju-baju sebelum ia pergi kemarin. Ia pun mendekati nakas, mengambil sebuah botol jamu yang sudah kosong, dan menggenggamnya dengan erat. Mas Alan bisa perhatian juga kalau aku lagi nggak enak badan.  Kinan diam-diam tersipu malu seperti remaja sedang jatuh cinta. Ah! Tapi ini sangat tidak baik bagi kesehatan jantungnya! Lagi-lagi ia tepis perasaan berbunga-bunga ini. Lantas ia membereskan nakasnya dan membersihkan kamarnya. Tak lupa setelah membersihkan kamarnya ia hendak menyapu seluruh ruangan di rumah ini sebelum ia mandi. Tentunya ia juga membersihkan kamar Alan. Mulai dari lantai, tempat tidur, dan baju-baju yang Alan gantung di belakang pintu. Kinan mengambil beberapa pakaian yang tergantung di situ. Lantas ia membalikkan badan untuk mengambil sapu yang sempat ia tinggal di dekat pintu. “AAAA!” Teriakan histeris itu bukan hanya dari Kinan saja.  “Kamu ngapain di sini!?!” Alan tersentak kaget melihat Kinan berada di kamarnya. Padahal ini bukan pertama kalinya. Kinan sontak langsung menutup matanya. Apa yang ia lihat tadi? Sungguh mengagetkan hingga bulu kuduknya berdiri semua. “Tutup, Mas! Tutup!” “Iya! Aku tutup! Udah! Astaga,” keluh Alan juga. Ia ikutan panik. Alan sudah menutup setengah badannya menggunakan handuk berwarna hijau pastel. Ia pun berjalan ke dekat lemari tanpa sepengetahuan istrinya. “Mas! Tadi aku lihat apaan?!!” Kinan tahu itu namun ia menolak untuk mengakui apa yang telah ia lihat. Namun ia sepertinya juga menolak untuk lupa. “Ya kamu tau apa yang kamu lihat, kan!? Barang berharga milik SUAMIMU!” Alan kesal tetapi juga gemas. Sudah tahu itu benda terlarang milik Alan namun kenapa masih bertanya seolah Kinan sangat polos?! “Terus kenapa keluar dari kamar mandi telanjang?” Kinan perlahan mengintip dari celah jemarinya dan pelan-pelan membuka matanya. Alan berbalik badan menatap Kinan saat dirinya sudah memakai pakaian rumahan. “Yaaa ini kan kamar aku! Terserah aku mau pakai baju kek! Mau nggak pakai baju kek! Mau lari ke sana - ke mari juga hakku!” Kinan meringis. “Ya juga ya, Mas!” Alan menatap Kinan dengan rasa gemas. “Ya makanya! Kalau masuk ketuk pintu dulu,” pesannya. “Ya maaf, lho, Mas? Kinan nggak tau kalau kamu lagi mandi,” lirihnya manja. Apa? Manja? Kinan mulai melontarkan nada-nada manjanya pada Alan?  “Udah sana keluar,” usir Alan lembut.  Kinan mengerucutkan bibirnya sambil membawa pakaian kotor dan sapu yang ia bawa masuk tadi. “Iyaaa, Mas.” Lantas Kinan pergi ke ruang cuci. Semua pakaian sudah menunggu untuk segera dibersihkan.  Untung saja di rumah ini sudah ada mesin cuci. Kalau tidak pasti Kinan akan sangat lelah untuk mencuci pakaian miliknya dan Alan menggunakan tangan. Semua baju sudah masuk ke dalam mesin. Kecuali satu. Sebuah kaus polos berwarna abu tua. Kinan memperhatikan baju tersebut dengan seksama. Seolah ada sesuatu yang salah pada baju tersebut. “Apa ini?” tanyanya pelan selagi keningnya berkerut. “Kok pink?” Kinan tak percaya sehingga ia menajamkan matanya lagi untuk melihat noda di pakaian tersebut. Sebuah noda berwarna merah muda yang mampu membuat hatinya ketar-ketir. “Li-lipstik?” Tentu saja Kinan cemas. Yang ia lihat adalah noda berbentuk bibir yang samar-samar. Namun bisa dipastikan itu berbentuk bibir yang berlipstik! Astaga Alan! Jadi ini yang membuatnya sangat dingin pada Kinan? Ia memiliki wanita lain? Memang Kinan bukan wanita yang dicintainya tetapi bisakah jangan ada pelakor di antara mereka berdua? Kinan menahan tangisnya dan berjalan ke dapur. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia pun duduk di kursi makan sambil memandangi kaus polos tersebut.  Tap tap tap Alan datang dengan santainya. Tidak tahu apa yang dirasakan oleh Kinan saat ini. Sebentar lagi semuanya akan terungkap.  “Kenapa? Astagaaa,” sapa Alan seperti itu. “Nggak,” imbuh Kinan singkat. Berusaha menahan rasa perih di tenggorokannya sebab tangisan yang ia sembunyikan itu. Alan mendekat. “Cepetan jawab. Kenapa?” desaknya. “I-ini,” balas Kinan sembari menyodorkan pakaian yang ia tangisi tersebut. “Iya. Kenapa sama bajuku?” Kinan menunjukkan noda berwarna merah muda tadi pada Alan. Alan masih tak tahu apa yang Kinan tangisi. Sebuah baju polos? Aneh. “Ini apa, Mas? Lipstik si-siapa ini?” Kinan bersuara dengan seraknya. Namun bukan jawaban yang Kinan dapatkan melainkan tawa lepas dari sang suami. “Haha, kenapa? Kamu cemburu?” “Ya nggak gitu. A-aku cuma mau bilang kalau kamu ada wanita lain yang kamu cintai … aku rela lepasin kamu kok, Mas,” papar Kinan sembari menunduk lemas. Alan masih tertawa dengan senangnya. Mungkin memang jawaban ini yang diinginkan Alan. Sehingga ia bisa tertawa lepas seperti ini. Mungkinkah Alan akan mengaku siapa yang membuat drama ini menjadi ada? Membuat Kinan bisa menangis di depan Alan seperti ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN