Bukan pernikahan seperti ini yang Kinan inginkan. Ia hanya ingin bahagia bersama orang yang ia cintai sampai maut memisahkan. Namun malah tangisan yang ia dapatkan.
Mereka berdua masih saling memandang tetapi Alan menatap Kinan dengan penuh ceria.
Dok dok dok
Seketika suara ketukan pintu itu membuyarkan kesedihan Kinan.
Alan mengkerutkan dahinya dan langsung membuka pintu depan. Siapa pagi-pagi begini datang?
“Mama?” Alan kaget.
Setelah saling menyapa, Vina masuk ke dalam rumah.
Harapannya datang ke rumah ini untuk melihat kedua anaknya berbahagia sebagai pasangan baru. Namun bukan itu yang ia pandang sekarang.
“Kinan kenapa nangis!?” tanya Vina. Melihat mata sembab menantunya itu.
Alan datang dan kembali tertawa lagi.
“Haha. Nggak tau tuh, Ma? Kinan cemburu nggak jelas,” tawanya.
“Cemburu gimana?”
Awalnya Kinan tak ingin memaparkan masalah ini pada sang mertua. Baginya ini adalah masalah antara Alan dan Kinan saja.
Lamun setelah didesak oleh Vina, Kinan berkata yang sebenarnya.
“Mmm Kinan menemukan lipstik perempuan di baju Mas Alan, Ma,” lirih Kinan sedih.
Tentu saja Vina langsung memukul pundak anaknya. “Kamu! Siapa itu?”
“Lho? Kok mama jadi ikutan nuduh aku selingkuh, sih?”
“Selingkuh? Mama nggak bilang kamu selingkuh! Tapi kamu kok bilang begitu? Berarti—“
Alan memotong. “Ma, dengerin dulu ….”
“Jujur!” bentak Vina.
Alan malah semakin menutup wajahnya. Bukan merasa bersalah tetapi ia semakin terbahak.
“Kok malah ketawa, sih, Mas?”
Wajah Alan memerah. Ia pun tak tahan.
“Ya gimana nggak ketawa? Orang itu lipstik kamu semalam. Waktu kamu turun dari mobil kan lemas … ya aku bantu memapah kamu,” jelas Alan.
Kinan memutar mata malunya. Masa iya? Masa ia tidak ingat sama sekali?
Tanpa berkata, Kinan berjalan lambat ke kamarnya.
Dua orang yang tertinggal tadi memandangi pergerakan Kinan yang tanpa ucapan apa-apa.
Kinan sudah sampai di kamarnya sembari membawa baju kotor milik Alan tadi.
“Hmm,” gumamnya seiring meraba meja rias miliknya di kamar.
Ia pun memegang sebuah lipstik matte. Rupanya ia telah berprasangka buruk pada suaminya.
“Oh, ternyata punyaku sendiri,” bisiknya. Wajahnya pun semerah apel karena merasa malu dengan sikapnya sendiri yang tidak jelas. Tiba-tiba menangis tanpa mendengar sebuah alasan terlebih dahulu.
Dengan wajah merahnya itu, ia mengendap untuk kembali ke dapur.
“Kenapa, Nan? Malu?” Alan terkekeh sekaligus menyindir istrinya.
Kinan berdiri dan menggaruk dahinya. “Ng-nggak, Mas.”
“Makanya jangan nethink. Minta maaf dulu?” godanya lagi.
Alan mendekati Kinan. “Cepetan minta maaf.”
“Maaf, ya, Mas?”
Alan terkekeh lagi. Ia pun hendak menuju kamarnya. Namun saat mendengar permintaan maaf Kinan, ia berdecak sambil mengelus singkat kepala Kinan.
Hah? Tidak salah?
Saat sudah kembali ke kamar, Kinan kontan memandangi Alan dengan heran. Bagaimana tidak? Baru saja Alan mengusap kepalanya! Kejadian yang sangat langka.
Mereka berdua seolah tak memperhatikan bahwa ada mama mereka di situ. Memperhatikan mereka dari tadi.
“Syukurlah mereka sudah seperti pasangan pada umumnya,” batin Vina senang. Ia merasa sudah berhasil dalam menjodohkan mereka berdua.
Kinan menata dapur. Ia lupa bahwa ada mertuanya di situ. Tambah lagi rasa malunya setelah diusap kepalanya oleh Alan.
“Mama. Hehe,” imbuhnya. “Kinan mau cuci baju dulu sebentar ya?”
Tak lupa ia menyuguhkan minuman terlebih dahulu untuk Vina sebelum pergi mencuci.
Vina mengangguk santai. “Ya. Sudah sana cuci baju dulu? Mama nanti ambil minum sendiri juga bisa.”
Meski begitu, Kinan tetap menyuguhkan minuman di meja makan untuk mertuanya. Lantas ia pergi ke ruang cuci. Dekat taman belakang yang minimalis tersebut.
“Mama ke sini ngapain?”
Alan seketika sudah kembali lagi ke dapur. Entah apa yang dilakukannya tadi di kamar karena hanya sebentar saja.
“Ini, lho? Teman-teman mama ngajakin main di Jogja. Jadi tadi mama naik KRL aja.”
“Emangnya jam berapa mau pergi?”
Vina menjawab. “Nanti siang mungkin.”
“Kok mungkin? Pastinya kapan?”
Lantas Vina menyipitkan mata. “Kenapa emang? Kok kayak mau ngusir mama?”
“Astaga, nggak, Ma. Kan cuma tanya?”
“Hmm. Nanti jam setengah 12 mama pergi,” balas Vina.
Alan mengangguk-angguk.
“Naik apa, Ma?”
“Taksi aja.”
“Yakin? Nggak Alan antar aja?”
Vina berdecak. “Kalau anak mama peka, sih?”
Kemudian Alan terkekeh tipis. “Ya ini kan Alan mau tawarin? Sekalian nanti sama Kinan aja, Ma.”
Alan ingat Kinan? Tumben sekali ia menyebutkan Kinan di depan mamanya dengan semangat. Biasanya ia hanya mengeluh tidak ingin bertemu dengan Kinan.
Tentu saja momen ini yang ditunggu oleh Vina. Anaknya tidak malas lagi pergi bersama Kinan.
Padahal sudah sejak kemarin Alan berinisiatif mengajak istrinya pergi. Meski tidak hanya berdua dan bertemu dengan rekan kerjanya. Kemudian berujung negara api menyerang. Kinan kedatangan tamu saat masih berada di restoran kemarin.
Namun tak apa karena kejadian tersebut membuatnya jadi memperhatikan Kinan. Benarkah perhatiannya hanya secuil empatinya saja? Ataukah memang ia mulai ada rasa pada Kinan?
“Cepetan mandi. Mau diajak mama keluar,” suruh Alan ketika istrinya sudah kembali ke dapur.
Kinan melongo. “Ha?”
“Nanti siang antar mama ketemu teman-temannya,” kata Alan.
Vina menyambung. “Kalau kalian tidak mau ketemu teman-teman mama nggak apa-apa. Nanti kita pisah aja waktu di sana,” ujarnya. Tak masalah apabila mereka berpisah nantinya. Malah ini menjadi kesempatan untuk Alan dan Kinan semakin menghabiskan waktu berdua bersama.
Kinan mengangguk. “Ohh. Ya, Ma. Habis ini Kinan mandi dulu,” ucapnya sembari membenahi rambut kanannya ke belakang telinga.
Deg deg deg
Jantung siapa itu? Suaranya tampak lebih kencang daripada ucapan mereka bertiga di sini. Mungkinah Kinan? Tetapi apa yang memancing jantungnya untuk lebih cepat dari biasanya?
“Ehem!” Alan berdeham.
“Mas, batuk? Mau aku ambilin obat?”
Alan melambaikan tangannya. “Eh! Nggak, nggak! Aku nggak batuk.”
“Beneran, lho, Mas? Lha itu kok batuk-batuk?”
“Nggak. Cuma benerin tenggorkan aja,” jawabnya.
Lantas Kinan mengajak Vina berbicara. “Mama sehat-sehat, kan?”
“Sehat. Kalian berdua juga tampak sehat. Kita semua sehat,” balas Vina.
“Syukur, ya, Ma. Sehat semua.”
Melihat dua orang wanita itu saling bercengkerama dan terlihat akrab satu sama lain membuat hati Alan adem ayem.
“Ehem!”
Kinan menoleh pada Alan. “Kenapa lagi, Mas? Kamu batuk itu. Minum obat, mau?”
“Nggak, Nan! Aku tu nggak sakit. A-aku mau siram tanaman di depan dulu aja?”
Kinan berpikir sejenak. “Mas? Kan udah punya sprayer otomatis biasanya?”
Alan menepuk jidatnya. “Oh, iya! Lupa,” keluhnya.
Astaga! Sepertinya jantung yang berdetak cepat tadi milik Alan! Rupanya begini kalau Alan sedang salah tingkah? Lamun kira-kira apa yang membuatnya seperti ini? Bukankah tidak ada yang memancingnya? Kinan pun juga bersikap biasa saja.