L.A.M - 17

1060 Kata
“Lho? Anakmu ke mana? Kok nggak ikutan kita aja?” Lantas Vina menjawab pertanyaan salah satu temannya itu. “Ohh … iya, biarin aja mereka berdua. Kita senang-senang aja.” Vina dan teman-temannya yang sesama sudah menjadi ibu maupun nenek itu segera memasuki restoran ala jawa tersebut. Saat sudah memesan makanan, mereka pun mengobrol. “Kamu kapan gendong cucu, Jeng?” tanya satu orang pada Vina. Vina terkekeh tanpa jawaban. Rupanya malah membuat bibir temannya itu semakin menjadi. “Cucumu yang di Jakarta kan nggak pernah diajakin pulang ke Klaten?” “Iya lho, Jeng. Kapan? Suruh Alan cepet-cepet punya anak,” sambung teman satunya. Vina tertawa lagi. “Ya juga. Mungkin mereka juga baru berusaha.” Lalu ia pun berbisik pada dirinya sendiri, “usaha buat pendekatan satu sama lain. Bukan usaha bikin anak, sih.” Sedangkan di sisi lain, Alan dan Kinan masih dalam perjalanan. Entah ke mana mereka pergi. Yang penting tidak ikut merumpi dengan ibu-ibu yang suka bergosip itu. Mereka berdua masih di dalam mobil. Alan yang membuka percakapan. “Besok kalau kamu jadi ibu-ibu … jangan-jangan kayak gengnya mamaku? Sukanya rumpi,” sindir Alan.  Ibu? Berarti Alan sempat memikirkan bahwa Kinan akan menjadi ibu, dong?  Mau tak mau ia akan menghadapi momen tersebut. Meski mereka dijodohkan. Namun tak terelakkan bahwa lambat laun mereka akan menjadi orang tua nantinya. Entah satu dua tahun lagi, empat tahun lagi atau lima tahun lagi.  “Dih! Sori ya! Aku nggak bakalan jadi ibu-ibu tukang gosip,” balas Kinan dengan nada nyinyirnya.  Alan terkekeh. “Ah, masaaa?!” godanya. “Hmm!” Semuanya kini diluar kendali Alan. Ia mengikuti alur yang diberikan oleh bibirnya saja. Mau mencoba mengajak Kinan berbicara adalah suatu kemajuan. Semenjak kejadian noda merah saat mereka berada di sebuah restoran di suatu mall. Alan kala itu menjadi lebih perhatian pada Kinan. Ia pun masih tak tahu. Apakah ini hanya gegara mereka sering bertemu? Hanya karena ada Kinan yang bisa diajaknya berbicara di rumah? “Eh? Kita mau ke mana?” tanya Kinan. Sebab sejak tadi mobil mereka hanya berjalan tanpa arah. Layakna mobil ini. Mungkinkah pernikahan mereka juga berjalan tanpa arah? Apabila perasaan mereka tak segera tumbuh menjadi cinta, mungkin iya. Lantas mau dibawa ke mana pernikahan ini? Akankah dibiarkan menjadi kutub bumi? Dingin? Alan sedang memutar setir ke kiri. Ia berbelok kiri dengan santainya tanpa tahu akan ke mana. “Oh? Iya. Kita ke mana, ya?” “Gimana, sih, Mas? Kan kamu yang ngajakin?” Alan menggaruk alis kanannya. “A-aku tadi kan cuma ngajakin kamu buat antar mama.” “Ya udah kita pulang aja?” “Eh! Jangan dong? Udah jauh dari rumah. Nanti boros bensin?” Kinan mengetukkan jemarinya di pegangan pintu sebelahnya. Ia kemudian mengambil ponselnya. “Mas? Ini Nara lagi di kafe dekat sini? Kita susul aja?” “Sejak kapan kamu punya kontaknya Nara?” “Sejak beberapa hari lalu. Dia main ke rumah,” balas Kinan. “Kok kamu nggak bilang sama aku?” Kinan hening sejenak.  “Kan kamu nggak pernah ajakin aku ngobrol. Gimana aku mau cerita bebas?!” sindirnya. Lantas Alan juga terdiam kaku atas jawaban yang memang benar adanya itu. Namun perlakuannya itu nyatanya berdampak pada dirinya sendiri. Ia tak mengetahui kondisi rumah dan kegiatan Kinan selama ia bekerja. Itu yang diam-diam ia sayangkan. Ah tapi bukankah Alan tidak peduli terhadap Kinan? Mengapa ia menyayangkan perlakuannya sendiri? Tak peduli apa alasannya yang penting kini ia sudah mendapat secuil informasi bahwa ia dan Nara sudah semakin dekat. Ketika mereka sampai di sebuah kafe di mana Nara berada mereka juga memesan beberapa menu untuk makan siang mereka. “Mas, ini mahal, lho?” Kinan memasang wajah tak ingin memesan menu yang ditawarkan oleh suaminya. Alan berdecak. “Ini enak. Aku pernah coba sebelumnya.” “Ya tapi mahal, mas?” “Sudah. Kalau untuk makan jangan dipikir ya,” saran Alan. “Ya tapi—” “Ssst. Cobain dulu baru komentar nanti,” timpa Alan.  Kinan hanya mengikut suaminya saja.  Setelah mereka memesan, mulailah Nara mengajak Kinan mengobrol lagi. “Aku pusinh banget.” “Kenapa, Ra?” “Ini, lho. Aku udah mulai minum pil kb jadinya pusing sama mual.” Wajah Kinan seketika berkerut. Ia tak masuk dalam obrolan ini. Berhubungan intim dengan suaminya saja belum. Masa ia juga akan menelan pil tersebut? “Ah, gitu, ya?” Kinan menggaruk dahinya. “Aku bisa bantu apa?” Nara tersenyum pahit. “Nggak. Nanti juga bakal hilang sendiri.” “Emang gitu ya kalau minum pil kb?” tanya Alan yang juga tak tahu.  “Iya, Lan. Besok Kinan juga kayak gini. Tapi nggak tahu. Soalnya efek di tiap wanita beda.” Alan tampak merasa iba kalau harus melihat Kinan seperti ini. Membayangkannya saja sudah membuatnya lebih merasa bersalah lagi. Membebankan semua pekerjaan rumah pada Kinan. Belum lagi kalau Kinan merasa mual akibat pil nantinya. Meski masih jauh-jauh hari esok. Namun pikiran itu seketika merasuki benaknya. Hingga akhirnya ia berucap. “Ka-kalau aku …,” ucap Alan. Sejenak ia menoleh pada Kinan sebelum melanjutkan ucapannya. “Ini kita bicara masalah dewasa, ya. Dan ini mungkin akan terjadi di kehidupan kita kelak.” Setelah memberi kode pada Kinan agar tak tersinggung, ia melanjutkan ucapannya. “Kemungkinan aku yang akan memakai k****m. Aku nggak mau membebankan semuanya sama Kinan. Kasihan dia kalau udah ngurus rumah, anak, masih merasa mual begitu,” jelas Alan. Nara seketika mengembuskan napas dan berkeluh. “Andaikan Mas Rendy seperti itu. Dia aja kadang pulang malem terus langsung tidur,” lirihnya. Kinan paham apa yang dikeluhkan oleh Nara. Ia pun tersenyum pahit. Bagaimana bisa Nara sekuat itu? Melihat suaminya sendiri selingkuh di depannya. Tanpa dirasa, Kinan takut apabila suaminya juga berselingkuh. Kenyataan pernikahan ini bukan atas dasar cinta mereka sendiri. Lalu bagaimana kalau ia menghadapi kenyataan seperti Nara? Alan tidak tahu mengenai hal ini. Sehingga ia hanya mendengar cerita Nara mengenai keluhannya tentang kb yang mengusik kesehariannya ini. Makanan mereka akhirnya sudah tiba. Sejenak mereka tunda pembicaraan tadi karena perut sepasang suami istri itu sudah keroncongan. Alan sudah menyendok keberapa kalinya.  Namun seketika sebuah pertanyaan mengusik nafsu makannya. Membuatnya cukup menaruh sendok itu lagi di atas piring. “Kamu … ada cewek lain, nggak?” Alan terkesiap. Matanya berkedip berkali-kali. Bagaimana ia akan menjawab pertanyaan yang seakan menuduhnya itu?  Mata sayu Kinan seakan juga menatapnya tajam meski bukan seperti itu nyatanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN