bc

Raden Ayu - Istri Sah yang Dilupakan

book_age18+
209
IKUTI
3.5K
BACA
contract marriage
family
HE
escape while being pregnant
love after marriage
age gap
fated
forced
second chance
friends to lovers
arranged marriage
arrogant
kickass heroine
royalty/noble
single mother
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
city
office/work place
secrets
affair
like
intro-logo
Uraian

“Ia menikah karena perintah darah bangsawan. Tapi jatuh cinta karena luka yang diciptakannya sendiri.” Raden Arya Maheswara—pewaris tunggal trah Maheswara—menikahi wanita yang tidak ia cintai. Raden Ayu Kirana Ratnadewi—perempuan bar-bar dari keluarga bangsawan jatuh miskin—hanya berniat menjalankan kewajiban. Di rumah yang sama, ada satu wanita lain, kekasih Arya, yang dengan senyum manisnya perlahan menghancurkan segalanya. Ketika darah, rahasia, dan cinta bertemu di pendopo tua keluarga Maheswara, satu nama kembali bergaung dalam ingatan. Ayu, gadis kecil yang dulu menyelamatkan hidupnya—dan kini jadi istri yang ingin ia miliki kembali, berapapun harganya. Cinta? Terlambat. Penyesalan? Terlalu dalam. Tapi bagi Raden Arya Maheswara, perempuan itu tetap tak boleh pergi. Dia akan mendapatkannya kembali.

chap-preview
Pratinjau gratis
Berbagi Tempat
Angin sore dari jendela pendopo membawa aroma melati dan dupa yang tak lagi memberi harum seperti biasanya. Di ruang tengah rumah besar keluarga Maheswara, tiga cangkir teh tersaji di atas meja kayu berbahan jati—tapi hanya dua yang disentuh. Yang satu masih dengan isi yang tak berkurang. Raden Arya Maheswara duduk tegak di kursi ukir jati, kemeja dengan rompi hitamnya masih terpasang meski matahari telah tenggelam. Di sisi lain meja, Sekar Tanjung Larasati tersenyum lembut, menyuapkan potongan buah ke mulut Arya tanpa rasa sungkan. Memang seperti itu setiap harinya. Seakan tak memiliki urat malu. Sementara di ujung ruangan, seorang wanita berdiri diam—Raden Ayu Kirana Ratnadewi, istrinya yang sah secara adat dan hukum, serta agama. Ia menyaksikan pemandangan itu setiap sore, dengan d**a yang semakin kaku. Bukan karena cemburu. Bukan. Dirinya sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Hanya saja semakin hari semakin muak melihat dua orang itu selalu bersama. Ayu lelah dipaksa diam di rumah yang seolah hanya mengakui dua jiwa—dan bukan dirinya. “Raden Ayu,” suara Sekar terdengar lembut, “maaf, saya tadi sudah menyiapkan makan malam untuk Raden Arya. Panjenengan tak perlu repot. Makanan panjenengan... saya taruh di dapur belakang.” Senyum itu manis, tapi racunnya merayap halus. Ayu hanya menunduk, menahan diri untuk tidak membalas. Ia sudah berjanji pada dirinya—tak akan meladeni perempuan itu meski dirinya ingin sekali mencakar wajah penuh topeng. “Sekar,” Arya menimpali tanpa menoleh pada istrinya, “terima kasih. Kau memang tahu apa yang kusuka.” Sekar terkekeh kecil, jika boleh mengumpat tanpa adanya tata krama, Ayu ingin sekali mengatai jika suara itu seperti suara tikus terjepit. Tapi Ayu memilih diam. Namun matanya—mata seorang wanita yang sangat muak—berbicara banyak hal. Ia melangkah pelan, mengambil nampan kosong, hendak kembali ke dapur. Namun Sekar tiba-tiba berdiri dan menabrakkan tubuhnya secara sengaja, membuat teh yang masih mengepulkan uap panas tumpah ke dress dengan warna lembut itu. “Aduh!” Sekar menjerit kecil dengan wajah pura-pura panik. “Maaf, saya tak sengaja, Raden Arya!” Ayu mendesis, menahan perih di kulitnya, air panas itu benar-benar mengenai kulitnya. Tapi yang lebih menyakitkan adalah tatapan Arya—dingin, angkuh, tanpa empati sedikit pun. "Ayu,” ujarnya pelan, tapi nada itu menghakimi. “Kau memang harus lebih berhati-hati. Sekar itu tamu. Jangan membuat masalah kecil jadi besar.” Perempuan itu menggigit bibirnya. Sekar menunduk manis, masih dengan wajah bertopeng itu. “Maaf, Raden Arya... saya yang salah,” katanya lembut, padahal sudut bibirnya terangkat tipis. Ayu tak menjawab. Ia hanya membungkuk kecil, menyingkir membawa nampan, lalu berbalik meninggalkan ruang tengah. Tapi langkahnya belum jauh ketika suara Sekar terdengar lagi—pelan, tapi cukup keras untuk menghancurkan keteguhan hati yang dia usahakan untuk tetap bertahan. “Sungguh beruntung Raden Arya punya istri seperti Ayu... sabar, walau tak pernah benar-benar dicintai.” Ayu berhenti di ambang pintu. Sekujur tubuhnya menegang, kepalan tangannya juga ikut mengeras. Namun lagi-lagi dirinya dibuat tak bisa melangkah. “Tidak perlu membuat wanita itu terlihat baik di mataku, Sekar" Ayu masih berada di tempatnya berdiri. Kedua tangannya masih menggenggam nampan perak yang mulai bergetar karena amarah yang tertahan. Suara tikus terjepit itu masih terngiang—“Sabar, walau tak pernah dicintai.” Sabar? Ia tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip hinaan. Perlahan ia berbalik. Gaun lembutnya yang kini sudah ternoda berayun. Tak ada lagi tatapan menunduk seperti sebelumnya. Ia melangkah kembali ke arah meja, setiap langkahnya bergema di lantai marmer pendopo berwarna coklat yang dingin. Raden Arya yang semula santai kini mendongak, alisnya bertaut melihat perubahan di wajah sang istri. Sekar sempat mengernyit kebingungan, untuk apa wanita ini kembali? Semakin lama semakin mengernyit saat menyadari bahwa yang sedang berdiri di hadapannya bukan lagi Ayu yang sama seperti sepuluh menit yang lalu. Ayu berhenti tepat di tepi meja, menatap Sekar dengan senyum dingin. “Ndoro Sekar,” suaranya pelan, lembut, namun ada nada lain yang terselip di sana. “Saya ingin membalas budi. Tadi panjenengan sudah membuatkan teh untuk Raden Arya. Sekarang... giliran saya yang ingin menyuguhkannya.” Sekar menelan ludah, dengan senyum palsunya. “Tidak usah repot, Raden Ayu. Saya—” Belum sempat kalimat itu selesai, Ayu sudah menurunkan nampan dengan satu gerakan pelan namun tegas. Suara cangkir beradu halus dengan piring. Uap panas kembali mengepul, kali ini di depan wajah Sekar. Lalu, dengan tatapan lurus tanpa berkedip, Ayu menumpahkan sedikit teh itu—tidak banyak, hanya cukup membuat percikan panas mengenai ujung gaun sutra Sekar. “Ah... maaf,” ucap Ayu datar, dengan senyum anggun yang Ayu miliki. “Sepertinya saya juga tidak sengaja. Punten”¹ Ruangan itu hening. Sekar mematung, menatap noda teh yang kini membasahi kain mahalnya, sementara Arya langsung berdiri, dengan nada tinggi mengarah ke sang istri. “Ayu! Kau sadar apa yang kau lakukan?!” Tatapan Ayu berpaling pada suaminya. Tak lagi tunduk, bahkan rasa takut pun tak ada. “Tidak, Raden. Saya tidak sengaja,” ucapnya pelan tapi jelas. "Ngapunten Raden, maaf. Di sini memang saya yang teledor" Suara itu menggema lembut tapi menusuk. Ada sindiran yang jelas. Arya menatapnya dengan rahang mengeras. “Kau melampaui batas, Ayu. Sekar itu tamu.” “Tamu?” Ayu tertawa pelan, getir dan manis bersamaan. “Lucu. Saya tidak tahu sejak kapan tamu bisa tidur di kamar utama sebelah kamar suami saya. Atau mungkin saya yang lupa... kalau ternyata rumah ini memang hanya mengakui Raden Arya dan cinta pertama Raden?” Sekar menggigit bibir, hendak membuka suara, tapi Ayu mengangkat tangan, menghentikannya. “Tenang, Ndoro Sekar. Saya tidak akan menampar panjenengan di depan Raden Arya, meski saya bisa. Saya hanya ingin mengembalikan apa yang panjenengan lakukan. Seimbang, Apa yang panjenengan tanam itu yang akan anda tuai.” Tatapannya berpindah ke arah Arya lagi. Kali ini lebih lembut, namun ada amarah di sana. “Panjenengan ingin saya diam, tunduk, manis seperti Sekar?” Ayu tersenyum kecil. “Sayangnya, Raden, saya bukan wanita seperti itu. Lebih tepatnya saya hanya punya satu wajah, tidak seperti Ndoro Sekar.” “Jaga bicaramu, Ayu!” bentak Arya, suaranya menggelegar namun gemetar oleh sesuatu yang tak bisa ia kendalikan. Ayu membungkuk sedikit, gestur seorang istri bangsawan yang masih memegang etika, namun ucapannya membuat udara di pendopo menegang. “Saya masih berbicara dengan tata krama, Raden Arya. Tapi jangan uji kesabaran seorang istri yang tahu posisinya... dan tahu siapa sebenarnya yang tidak pantas di rumah ini.” Sekar mundur satu langkah, matanya mulai berkaca-kaca—entah karena panas, atau karena rasa malu yang dia tahan. Ayu menatapnya sebentar, lalu melangkah pergi dengan kepala tegak. Namun sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, ia menoleh sekali lagi ke arah suaminya. “Mulai malam ini, Raden, saya tidak akan ikut makan di meja ini. Sebenarnya tak elok jika yang bukan istri ikut bersuara lebih banyak dari yang sah. Biar rumah ini tetap sesuai keinginan panjenengan.” Kemudian ia berjalan tanpa menoleh lagi, membiarkan aroma melati dari kainnya tertinggal di udara bersama mereka yang sama-sama terdiam. Sekar menatap Arya dengan wajah berpura-pura cemas, tapi pria itu tak lagi bicara. Tatapannya masih tertuju ke pintu tempat Ayu menghilang—dan entah mengapa, untuk pertama kalinya, kepergian itu terasa seperti cambuk di d**a. ___________ ¹ Punten — Maaf

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
316.1K
bc

Too Late for Regret

read
331.2K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
146.0K
bc

The Lost Pack

read
447.4K
bc

Revenge, served in a black dress

read
155.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook