Dinding Tak Kasat Mata

1281 Kata

Suara gemericik air dari kolam di taman pendopo utama berpadu dengan semilir angin gunung yang berhembus lembut. Raden Arya duduk bersandar di kursi rotan yang ada di teras, menatap kosong ke arah halaman. Asap rokoknya melingkar pelan di udara, membentuk bayangan samar yang semakin lama semakin hilang ditiup angin. Di sampingnya, Raden Adiguna duduk tegak dengan tongkat di genggaman. Tatapan mata tuanya teduh namun tajam, seperti menembus dinding d**a cucunya. “Rokokmu itu tidak akan membuat hatimu lebih tenang, Le,” ucapnya perlahan, suaranya berat namun mengandung ketenangan khas seorang yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. Arya hanya menunduk. “Saya tahu, Eyang. Tapi setidaknya, asapnya bisa menutupi sedikit kekacauan di kepala saya.” “Bukan di kepala, Le,” ujar Adiguna li

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN