Raden Ayu melangkah menyusuri lorong kantor Maheswara Group dengan langkah yang terlihat mantap, meski dalam dadanya masih tertinggal gema suara terakhir Linggarjati Tanumaja, “Bahagia, Cah Ayu… Hanya itu yang aku mau dari kamu, saget?” Kalimat itu seperti mantera yang tak mau berhenti berputar di kepalanya. Bahagia. Kata yang sederhana, tapi terasa asing untuk seorang istri yang terus belajar merelakan air mata sebelum tidur. Akankah bisa dia bahagia seoerti yang di minta Linggar padanya? Linggar––pria yang ia anggap lebih dari sekadar kakak, yang menjadi sandaran paling tenang dalam hidupnya––akan pergi ke Turki beberapa bulan. Ia menghormati keputusan itu. Ia tidak menahan. Jika bolrh dia akan melakukan itu. Tetapi, Ia tidak berhak. Dan kini, ia harus menemui suaminya. Suami yang—

