Beberapa tahun kemudian— Musim semi di Istanbul menyapa dengan cahaya lembut yang menembus jendela penhouse luas keluarga Tanumaja yang memang untuk mereka tinggali selama di Turki. Pagi itu tidak tenang. Tidak sunyi. Justru penuh riuh rendah suara kecil yang saling bersahutan. Pemandangan itu dan riuh itu sudah berlangsung sejak dua anak kembar itu mampu mengeluarkan celotehannya. Selalu saja ada gebrakan baru di setiap harinya dari dua bocah yang tak pernah akur. “Amaaa—! Baju Damar masuk sini!” “Bukan! Itu punya aku!” Sebuah koper besar tergeletak di tengah kamar. Isinya sudah setengah berantakan. Bukan karena Ayu atau Linggar yang tak rapi—melainkan dua bocah tiga tahun yang sedang merasa paling bertanggung jawab dan bahagia sekali atas kepulangan mereka ke Indonesia. Raden Ayu

