Semangkuk bubur dan air putih mendarat di atas nakas. Ketika Amara membuka mata karena terganggu aroma bubur dan suara nampan. Dia lekas melirik, lalu menemukan Davion duduk di tepi ranjang dengan raut murung. "Aku berpikir tidak akan mengganggumu tidur. Tapi kau tertidur hampir satu jam dan belum makan apa pun. Sejauh mana kau berjalan untuk sampai kemari?" "Aku tidak ingat. Kakiku terasa mati rasa," keluhnya pelan. Mengusap dahinya yang panas, lalu mendesah. "Apa aku demam?" "Ya. Tiga puluh delapan. Perlukah kita ke rumah sakit? Di mana kau menaruh mobilmu?" "Di depan gedung apartemen milikku. Aku menaruhnya di sana dan berjalan-jalan. Lalu hujan datang tanpa bisa diduga," katanya lirih. Mencoba duduk dan bersandar pada kepala ranjang yang catnya mengelupas. "Kau membawa obat?" Davi

