Ada sosok lain yang sudah menunggu. Saat Amara menarik napas, memperbaiki tatanan rambutnya dan berjalan melintasi beberapa meja untuk sampai pada meja reservasi. Yang sebelumnya Ana pesankan untuknya. "Selamat pagi." Tuan Danny bangun dengan sopan. Gurat pada wajahnya menggambarkan tekanan yang membuat pria itu terlihat lebih tua dari usianya sekitar tiga sampai empat tahun. "Selamat pagi, Nona Amara." "Amara saja," balasnya santai. Meminta agar pelayan memberinya minuman ringan dan camilan berupa kentang goreng. Amara butuh itu sekarang. "Aku tidak tahu mengapa kau memintaku datang. Ada yang ingin kau tahu dari salah satu personil band itu dulu?" Amara menautkan alis. "Ah, Ana sudah menceritakan garis besarnya?" Kepala Danny menggeleng samar. "Aku masih menebak-nebak. Dengan siapa

