Jam belum menunjuk angka delapan, tapi ketukan di depan sana seolah tidak sabar. Davion mengusap wajah beratnya dengan air keran, lalu bergegas membuka pintu. Tidak ada yang berani mengusik waktu santainya selain Ken atau Davina.
"Permisi."
Ken masuk begitu saja. Seperti sudah menjadi kebiasaan. Sikap serampangan satu ini termaafkan Davion.
"Mau apa datang?"
Ken mencibir pelan. Dengan pakaian formal bertemakan setelan mahal, gayanya dan Davion sangat kontras terlihat. Davion hanya memakai celana kain panjang dan kaos oblong santai. Siap kembali ke tempat tidur. Sedangkan Ken siap bertarung dengan pagi yang padat untuk bekerja. Sungguh. Dari masa depan sudah terlihat berbanding.
"Mau apa? Kau tidak menyambut sahabatmu dengan benar," gerutunya dan Davion menghela napas panjang.
Ken tidak akan berkomentar tentang rumah kecilnya. Karena pria itu pernah menawarkan satu unit apartemen yang menjadi ladang investasinya. Davion tidak seberuntung sahabatnya, dan dia tidak akan menjadi benalu untuk Ken sekali lagi. Ken cukup banyak menyelamatkannya dari jurang kegelapan.
"Aku belum siapkan apa pun."
Ken mendesis. "Kau baru bangun," itu terdengar seperti pernyataan dan Davion tidak mengelak.
Davion mengusap wajahnya. Bersandar pada sofa tua dan memandang langit ruang tamu dengan sorot redup.
"Aku tidak akan bertanya tentang kafe, Davion. Sudah aku katakan berulang kali untuk lupakan saja. Itu murni milikmu. Tidak ada surat apa pun yang mengatasnamakan diriku selain tanah."
Davion meringis pelan. Menatap Ken dengan ekspresi ketat. "Aku masih berhutang."
"Kau seharusnya berpikir tentang dirimu sendiri. Aku tidak pernah menganggap bantuanku selama ini hutang," cela Ken final dan Davion terdiam.
"Aku datang bukan tanpa alasan."
Alis Davion terangkat naik. "Apa?"
Senyum Ken melebar. "Ini proyek bagus. Aku mengambil keuntungan sekitar enam puluh persen. Karena perusahaanku mememangkan tender."
"Itu bagus," Davion terdengar tulus.
"Sayangnya, aku bisa saja merugi karena orang yang kupercaya memutuskan untuk pergi. Kanker lidah itu membunuhnya. Baru stadium dua dan dia sudah lemah. Aku membutuhkan seseorang yang kompeten sekarang."
Davion tahu kemana arah pembicaraan ini mengarah. Jadi dia memutuskan untuk membuang muka. Memandang kondisi rumah sempitnya yang ia beli dari sisa hasil tabungannya. Tidak terlalu besar dan Davion merasa nyaman. Selama rumah ini mampu melindunginya dari panas matahari dan dinginnya malam, dia beruntung.
"Davion," Ken memanggilnya lirih.
"Aku tidak yakin dengan ide ini," balasnya jujur. "Aku memang ingin bekerja, tapi bukan begini caranya. Aku bahkan menolak tawaran untuk duduk di posisi manajer, bukan? Kau tahu sendiri kalau aku bukan orang yang kompeten dalam bidang itu."
"Siapa bilang?"
"Lupakan soal cumlaude dan peringkat pertama dengan nilai terbaik. Semua hanya tentang angka dan bukan keberuntungan," sahut Davion dingin dan Ken menggeram marah.
"Hanya satu bulan, Davion."
Davion menarik napas panjang.
"Perencanaan tata ruang kota. Mereka akan membuat taman. Aku sudah membentuk tim, dan kau bisa bergabung. Aku memaksa karena aku percaya," Ken menekan telunjuknya di atas meja. "Ini proyek yang diadakan pemerintah pusat. Bayarannya tidak main-main. Aku akan membagi rata hasilnya pada dirimu dan tim. Jangan cemaskan hal itu."
"Ini bukan tentang angka. Kau dengar aku?" Davion balas menekan suaranya. Intonasinya lebih rendah. Membayangkan dirinya menjadi olok-olokkan publik adalah mimpi buruk.
"Kau masih takut? Takut ketika mereka memberi julukan dan penghakiman atas dosamu di masa lalu?"
Diamnya Davion membuat Ken didera rasa bersalah. Pria itu menarik napas, mengusap bibirnya dan mengembuskan napas panjang.
"Kau tidak lagi menjadi bahan celaan. Semua sudah berlalu. Semua orang melupakan masalah itu. Kau bisa berkembang menjadi dirimu sendiri. Davion, kau punya kesempatan."
Ken membungkuk untuk menatap mata sahabatnya lebih dekat.
"Kau punya kesempatan untuk merubah masa depanmu menjadi lebih baik. Anggap saja ini kesempatan. Kesempatan bagus yang bisa membuatmu melihat dunia dari sisi berbeda."
Ken dan Davina tidak ada bedanya. Mereka akan menjadi orang nomor satu yang seakan mengerti lukanya dengan baik. Membuat Davion merasa bodoh dan tidak berguna di sisi yang sama.
***
"Selamat bersantai di akhir pekan, Nona Amara."
Elana membungkuk setelah dia membersihkan dapur bersama dua asisten rumah tangga lain. Mansion besar ini hanya dihuni Amara dan tiga orang asisten rumah tangga yang tinggal di rumah belakang. Tukang kebun dan pekerja yang terbiasa membersihkan kolam renang setiap dua hari sekali. Selebihnya rumah ini mati. Tidak ada tersisa dari dalam yang hidup.
"Kau juga," balas Amara datar. Menikmati teh melatinya di pagi hari saat dia bergerak menatap kebun bunga peninggalan sang ibu.
Pria paruh baya itu tampak hati-hati menggunting ranting liar dan rumput yang tumbuh lebat. Amara menghela napas. Menatap pemandangan bagus di pagi hari itu dengan sinar hampa.
"Ingin sarapan apa?"
Amara melirik Elana dari sudut matanya. Saat dia memberi gelengan dan Elana terkesiap. "Aku sedang tidak ingin sarapan. Buatlah sarapan untukmu dan yang lain."
"Baik, Nona Amara."
Amara mendengar langkah Elana yang semakin menjauh. Saat dia menoleh, menemukan Elana bersama dua lainnya memasak sarapan.
Kakinya berjalan membawanya pada ayunan yang terbuat dari kayu. Ayunan yang sudah ada di sana sejak usia Amara tujuh belas. Tempat favorit ibunya semasa dia ada dulu. Dan Amara merindukan tempat-tempat tenang. Berhasil membuat isi kepalanya yang penuh berkurang perlahan-lahan. Berusaha mengembalikan kewarasan yang hilang.
"Selamat pagi."
Amara mengangguk. Menemukan pria paruh baya itu menyapa ramah. Berpindah dari satu semak ke semak lain. Ketika mata Amara menangkap bunga daisy yang menjadi kesukaan sang ibu.
"Aku menemukan bunga lily putih yang ditanam Nyonya Lily."
Matanya memandang ragu saat pria itu mengulurkan sesuatu dari balik semak. Ketika tangkai bunga itu terlihat dan Amara merasa kesulitan bernapas sekarang.
"Ini," ucapnya ramah. Bunga kecil itu kini berada di telapak tangan Amara. Kelopaknya bermekaran indah, tertimpa sinar matahari dan berhasil membawa separuh mimpi buruknya pergi.
Panas pada matanya berkata lain. Sakit itu tidak mau pergi. Tidak mau berangsur-angsur membaik. Meninggalkan setitik duka yang membuat Amara dewasa merindukan dirinya di masa kecil.
Sebelah tangannya yang bebas bergerak lemah. Mengusap kelopak itu dengan sinar polos. Bagaikan dirinya di masa lalu, yang masih belum paham tentang takdir kejam yang membawa mimpi indah itu pergi.
Semesta itu seperti dadu. Hasilnya tidak akan pernah terduga. Dan Amara percaya. Semesta di masa lalu mau pun di masa depan masihlah sama. Rahasia-rahasia itu akan selamanya tersimpan. Terikat pada garis-garis takdir setiap manusia yang hidup di bumi.
"Cantik sekali, bukan?"
Amara menengadah. Menatap sepasang mata abu-abu pudar yang membalas matanya tak kalah hangat. "Sangat," ujarnya polos. Mengusap kelopak itu dengan sentuhan ringan. Tidak membiarkan angin membawa separuhnya pergi.
"Tolong rawat bunga itu. Ibuku meninggalkan kenangan baik itu untukku."
Pria paruh baya itu tidak lagi bersuara selain memberi anggukan pasti. Membuat senyum Amara melebar. Menatap kelopak bunga yang bergoyang pelan karena tiupan angin dari kebun belakang. Yang perlahan berhasil membawa awan mendung itu bergeser pergi.