Kecemasan itu kian merambat seperti rayap. Amara melamun menghadap kaca wastafel. Menyapu wajah pucat tanpa riasan dari segala sisi. Menggambarkan lekat tampilan perempuan rapuh yang berbalut cangkang kuat. Air mengalir dari keran emas yang terbuka. Saat dia menunduk, menangkupkan kedua tangan untuk mengambil air dan membasuh wajahnya. Butiran-butiran itu mengalir, sampai pada lubang dan berlari pergi. Bahkan kata-kata Davion di pertemuan mereka pagi tadi masih begitu melekat. Amara tidak akan bisa melupakan bagaimana cara pria itu menatapnya. Di antara jutaan pria lain di luar sana yang sempat menawarkan diri dengan berbagai alasan bahwa dia tertarik, Amara hanya sempat memikirkan Lee Rail seorang. Tidak lebih. Tapi eksistensi si mantan gitaris dan pemilik kafe yang memiliki kecenderun

