BAB 12

1000 Kata
ROMEO            Gue keluar bersama Sena dan mendapati Kiara menunggu di sofa. Sebenarnya, gue pribadi selalu lebih dulu mendapati Khayana berada di meja kerjanya, karena mata gue langsung tertuju ke sana setiap keluar ruangan.             Ketika melihat kami, Kiara langsung bangkit dari duduknya seakan ada trampolin yang melontarkannya hingga dalam sekejap hinggap di hadapan gue dan Sena. Well, mungkin lebih tepatnya melontar dan hinggap ke tempat Sena berdiri. Karena kemudian dia langsung memberikan pipinya untuk dicium Sena.             “Get a room, please!” cibir gue yang langsung dibalas cekikikan keduanya.             “Belum pada makan, kan? Aku bawa makan siang buat kalian lho …,” ucap Kiara dengan riangnya. Tangannya nggak ketinggalan meraih lengan Sena, yang tentu saja langsung disambut senyuman oleh Sena. Dasar manusia-manusia kasmaran!             Gue melirik Khayana.             Bukan. Gue nggak lagi baper karena ngelihat sepupu dan sahabat gue sayang-sayangan sementara gue berdiri tegap sendirian udah kayak pemimpin upacara gini dan berharap Khayana bakal datang lalu memeluk gue seperti Kiara memeluk Sena, bukan. Gue belum sampai jatuh sejauh itu, nggak tahu nanti.             Setelah sempat berpikir, gue kembali menatap pasangan di depan gue. “Kalian makan berdua aja deh. Gue mau nyoba ke resto temen,” balas gue lalu menoleh ke arah Khayana yang masih sibuk berkutat dengan sesuatu. “Kamu mau ikut, Na? Denger-denger makanan di sana enak-enak. Apalagi nasi gorengnya.”             Mendengar itu, Sena kelihatan kaget. Namun dengan cepat rautnya berubah seperti menahan tawa karena menyadari gue langsung melancarkan aksi, segera setelah mendapat bocoran darinya. Sementara Khayana seperti biasa, nggak langsung menyetujui.             “Udah, Na. Temenin aja. Kasian pencinta wanita nggak biasa makan sendiri.” Sena yang awalnya gue puja-puja karena dukung gue, malah mengeluarkan celetukan mematikan yang meruntuhkan image gue sebagai laki-laki serius. Dan sialnya pengkhianat gue hari ini nggak cuma satu, karena detik kemudian, Kiara ikut tertawa. ****             Hanya karena kakaknya bilang supaya dia nemenin gue makan siang, Khayana menurut bahkan sebelum gue mengeluarkan jurus-jurus tertentu untuk membujuknya. Khayana nggak banyak bicara, raut wajahnya pun tenang persis tenangnya laut dalam yang menyimpan banyak misteri. Namun, ketenangan itu sedikit tergoyah saat dia menemukan sesuatu di daftar menu. Sambil tersenyum, Khayana mendongak kepada pelayan.             “Nasi goreng sea food, satu,” katanya sambil menunjuk salah satu gambar. Matanya yang mulai cerah menatap gue yang mungkin tampak seperti patung karena terlalu asyik memperhatikannya. “Bapak pes-” ada jeda sejenak sebelum akhirnya ia meralat kalimatnya. “Ehm, kamu apa?”             Dan kalimat itu, kalimat singkat itu menghasilkan efek seperti setrum yang membuat gue berjengit. “Ah anu…, sama kayak kamu,” ucap gue susah payah. Masih nggak percaya kalau dia benar-benar memenuhi permintaan gue untuk bersikap informal di luar kantor meski terdengar sedikit kaku.             Khayana pun meneruskan kalimat gue ke pelayan. Dia juga memesankan minuman yang biasa gue pesan dengan request tertentu yang dia sudah hafal. Setelah gadis pelayan yang kali ini bahkan nggak gue toleh wajahnya sedetik pun itu pergi, Khayana mulai mengedarkan matanya, mengamati suasana restoran. Dan untuk mengembalikan bala tentara yang menyokong gue supaya tetap terlihat keren di depan wanita, gue menghela napas, kemudian mencoba memberikan senyum terbaik gue.             “Saya …” kata itu sama-sama keluar dari mulut kami. Membuat kecanggungan kembali merayap.             Gue berdehem. “Kamu duluan,” ucap gue.                Khayana tampak menahan napas dan mengepalkan tangan sebelum akhirnya bicara. “Soal pesta itu…” Khayana mengawali. Matanya yang semula memandang vas bunga di meja, menatap gue. “Saya sepertinya bisa datang.”             “Yes!” Gue spontanitas memukulkan tangan gue ke meja sambil berseru yang kemudian segera berubah menjadi pekikan saat merasakan nyeri merambat di telapak tangan yang over reacted barusan.             Dan kejadian berikutnya adalah kejadian yang sama sekali nggak gue bayangkan bakal terjadi hari ini, siang ini, di sini. Khayana Allura, pujaan gue, entah bentuk reflek atau apa, bangkit dari sandarannya dan meraih tangan gue. “Sakit banget, ya? Lagian kamu ngapain, sih?” tanyanya, masih memegangi tangan gue.             “Saya nggak mimpi, kan? Kamu beneran Khayana Allura?”             Matanya yang semula meneliti tangan gue beralih menemukan mata gue. Dan sepersekian detik berikutnya yang terjadi adalah dia mengibaskan tangan gue.             “Lain kali hati-hati,” katanya, setengah menggerutu dan langsung kembali ke posisinya semula. Bedanya, kali ini dia mengalihkan wajahnya ke samping. Menghindari tatapan gue.             Gue terkekeh melihat reaksinya. Sambil memijit tangan, gue kembali bicara. “Jadi …, kamu mau nemenin saya ke acara itu?”             Khayana mengetuk-ngetukkan jemarinya yang polos tanpa cat kuku ke meja, kemudian mengangguk.       KHAYANA             Romeo memiliki kualitas itu. Kualitas yang cukup untuk membuat sederet perempuan rela mengekornya hanya untuk mendapatkan senyumannya. Bahkan untuk jenis senyum serupa cengiran seperti yang ia perlihatkan siang ini. Jika sempat menghitung, mungkin sudah puluhan pasang mata yang memperhatikan kami sejak dari kantor sampai bangku restoran. Dan mayoritas dari mereka memikirkan hal yang sama : berharap bisa bersanding dengan wakil direktur muda dan kompeten ini dan mendepak gadis di sampingnya, diriku.             Aku menutup telinga dari gosip liar yang beredar di kantor soal hubunganku dengan Romeo. Meski demikian fantasi mereka tentang hubungan kami menjadi salah satu alasanku untuk menjaga jarak dengan Romeo, selain alasanku yang paling mendasar yakni bahwa Romeo adalah laki-laki. Kecuali Kak Sena, laki-laki adalah makhluk yang aku tidak pernah merasa aman berada di dekat mereka sejak kejadian beberapa tahun silam.             Namun seiring berjalannya waktu, Romeo menunjukkan bahwa ia adalah pria sopan dan menghargai lawan jenisnya. Apalagi saat Kak Sena sendiri yang menyarankan supaya aku bersedia menerima ajakan sahabatnya untuk makan siang, yang selain aku tidak memiliki alasan untuk menolak, pergi dari kantor bersama Romeo ketika Kiara menyambangi Kak Sena di kantor adalah pilihan terbaik bagiku.             Kini aku bersama Romeo tengah berada dalam lift menuju lantai empat belas usai makan siang. Sekitar dua puluh menit lagi kami akan kedatangan beberapa tamu. Tanpa sengaja, aku melihat pantulan Romeo di pinggiran pintu lift yang mengkilap. Penampilannya sedikit berantakan.             “Rom...” Aku berkata lirih. Ketika ia menoleh, sambil menunjuk dasinya, aku berkata lagi. “Dasi kamu berantakan.”             Hari itu, adalah pertama kalinya sejak menjadi stafnya, aku mulai berani berkomentar soal penampilannya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN